Mengenal KH Bakir, Ketua Tanfidziyah PCNU Batang Pertama

0
400
KH. Bakir
Mengenal KH Bakir, Ketua Tanfidziyah PCNU Batang Pertama

Oleh: Ma’rifatul Ulum (Cicit KH Bakir)

nujateng.com Cikal-bakal keberadaan NU di Batang bermula dari sebuah perkumpulan (organisasi) yang bernama Jam’iyyatun Nasikhin. Perkumpulan tersebut didirikan oleh KH. Shiddiq Ismail untuk mewadahi para kiai/ulama/dai di Batang. Aktivitas perkumpulan ini tidak jauh dari kegiatan-kegiatan dakwah.

Diperkirakan perkumpulan ini beraktivitas antara tahun 1930 – 1940-an. Misi perkumpulan Jam’iyyatun Nasikhin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Nahdlatul Ulama yaitu sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para ulama/kiai.

Akses informasi pada masa itu masih sangat sulit sehingga dapat dipahami jika baru pada tahun 1949 secara resmi dibentuk kepengurusan NU di Batang. Rois Syuriyah yang pertama adalah KH. Shiddiq Ismail sedangkan jabatan Ketua PCNU yang pertama dipegang oleh KH. Bakir.

Sekilas tentang KH. Bakir

KH. Bakir lahir di Batang, Jawa Tengah pada ahad pon tanggal 3 Maret 1899 dan merupakan putra dari KH. Abdurrahman dan Mar’atun. Ia be tempat tinggal di Desa Pesalakan Kecamatan Batang. Pendidikannya di mulai di SR ( Sekolah Rakyat) di Batang, setelah lulus dari Sekolah Rakyat KH. Bakir mondok di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di Ponpes Tebuireng ia kenal dan berteman baik dengan KH. Idham Chalid (mantan Ketua Umum PBNU sebelum Gus Dur).

KH. Bakir merupakan pejuang pada masa kemerdekaan dan merupakan tokoh yang memperjuangkan Nahdlatul Ulama di Batang. KH. Bakir merupakan ulama lokal yang menjadi penggerak Nahdlatul Ulama (NU) di Batang bersama KH. Shiddiq Ismail. Pada tahun 1948-1952 ia menjabat sebagai ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  di Batang.

Ia merupakan ketua PCNU pertama di Batang, dan pada tahun 1952-1956 ia menjabat sebagai Rois Syuriah yang menggantikan KH. Shiddiq Ismail sebagai Rois Syuriah pertama. Selain aktif di NU, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Batang pada 1959, mewakili partai Nahdlatul Ulama.

Menurut cerita KH. Ahmad Ali Dufri, dulu KH. Bakir pernah akan di serang oleh preman-preman, tetapi ada satu mantan preman yang tunduk kepada KH. Bakir, namanya Santoso, dan pada akhirnya Santoso menjadi tangan kanan dari KH. Bakir.  KH. Bakir juga pernah jadi pimpinan Laskar Hizbullah dibawah komando langsung dari  KH. Abdul Wahab Hasbullah yang telah mengijazahi Lembu Sekilan dan Qulhu Sungsang.

Pernah suatu ketika setelah mulang ngaji dan jamaah sholat isya bersama KH. Bakir, cucunya mendapatkan cerita yang menarik, KH. Bakir matur kepada cucunya “sebenarnya kalau saya mau jadi jenderal bisa saja karena pernah menjadi pimpinan laskar hizbullah, tetapi saya lebih senang mengamalkan ilmunya mulang ngaji kepada santri-santri saya.”

Dari cerita tersebut bisa disimpulkan KH. Bakir adalah kiai yang  zuhud dan ikhlas dalam mengamalkan ilmunya kepada santri-santrinya di majlis taklim. Ada cerita lagi dari anak putri KH. Bakir, Muawanah, tentang keistimewaan Keris Pedut yang dimiliki KH. Bakir yaitu saat tentara Belanda dan pasukannya berusaha akan mengejar dan menangkap KH. Bakir dan pasukannya, ia membawa keris pedut dan mengeluarkan  dari sarangnya (wadah keris) seraya mengucapkan kalimat-kalimat thayibah dan surat yasin ayat 9 seketika pasukan Belanda pergi dan secara kasat mata tidak melihat KH Bakir, keluarga, dan pasukannya.

Selain menjadi pengurus di Nahdlatul Ulama ia juga mendirikan sebuah majelis taklim  yang digunakan untuk memberikan pengetahuan ilmu agama kepada santrinya yang masih berasal dari sekitar Kabupaten Batang.

Majelis taklim tersebut didirikan pada tahun 1940-an, dan sampai sekarang majelis taklim tersebut masih digunakan untuk mengaji kajian kitab ibris bersama ibu-ibu di desa Pesalakan dan sekitarnya pada pagi hari. Sedangkan pada malam harinya untuk mengaji alqur’an dengan anak-anak dan para remaja di desa Pesalakan dan sekitarnya yang pengajarnya adalah cucu dari KH. Bakir.

Sampai sekarang santri dari KH. Bakir yang masih sehat yaitu Ahmad Syaefudin dan KH. Mahbub. Ahmad Syaefuddin merupakan santri KH. Bakir yang dekat dengannya dan sekarang Ahmad Syaefuddin menjadi anggota tarekat Naqsabandiyah di kecamatan Bandar kabupaten Batang. KH. Mahbub juga merupakan santri yang dekat dan takzim dengan KH. Bakir yang sekarang  menjadi  imam besar Masjid Agung Darul Muttaqin Kauman Batang.

KH. Bakir meninggal pada tanggal 29 Juli 1985 dan dimakamkan di pemakaman umum Pesalakan.

Sumber:  -wawancara dengan putra KH. Bakir yaitu KH. Ali Dufri.

Diterbitkan pertama kali di nubatang.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.