Mbah Muchith Tokoh di Balik Layar “Khittah NU”

0
2149

M. Sidik Pramono (Pengurus PC IPNU Sragen)

nujateng.com Menapaki jalan panjang Nahdlatul Ulama yang beranjak menuju 1 abadnya—Hijriah atau Masehi—banyak lika-liku peristiwa yang dialami organisasi yang terlahir pada 1926 ini.

Dalam catatan sejarah, salah satu peristiwa besar yang telah terjadi adalah “Kembali ke Khittah NU 1926”. Proses untuk mengembalikan NU pada khittahnya mengalami jalan panjang dan berliku.

Tercatat khitthah “pertama kali” diungkapkan oleh KH Achyat Chalimi (Mojokerto) pada tahun 1954, ketika berlangsung Muktamar NU ke-20 di Surabaya. Di forum tersebut, Kiai Achyat mengajukan gagasan, “NU harus kembali ke khittah agar tidak awut-awutan begini”.

Namun, gagasan yang beliau sampaikan tidak banyak mendapat perhatian sebab, dalam gagasan tersebut tidak disertai dengan konsep yang utuh.

Proses pengembalian NU pada khittahnya terus berlanjut, dalam forum Muktamar NU ke-23 tahun 1962 di Solo yang diperjuangkan oleh kelompok “pro Jam’iyyah” namun masih mengalami kebuntuan.

Pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada 1971 ajakan untuk mengembalikan NU menjadi gerakan sosial-keagamaan bukan sebagai partai politik dalam pemerintahan disampaikan oleh Rais Alam KH Abdul Wahab Hasbullah. Sayangnya tetap saja ajakan tersebut masih ditolak oleh para Muktamirin.

Lalu, pada Muktamar NU ke-26 di Semarang, masih menetapkan NU masih menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di muktamar inilah telah ada buku yang dapat dijadikan referensi tentang mengembalikan NU pada khittahnya. Selanjutnya, “Kembali pada Khittah 1926” menjadi tema besar pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada tahun 1984.

Di sinilah terwujudnya cita-cita untuk mengembalikan NU ke Khittah 1926 yakni sebagai organisasi sosial-keagamaan dan tidak terlibat pada organisasi politik manapun.

Terwujudnya cita-cita yang diperjuangkan sejak 1954 ini tidak dapat terlepas dari pengaruh buku kecil yang berjudul “Khittah Nahdliyah” yang ditulis oleh KH Achmad Siddiq dan dibagikan kepada Muktamirin pada Muktamar NU ke-26 di Semarang. Buku kecil tersebut menjadi cikal bakal naskah Khittah NU tahun 1984—tanpa embel-embel “kembali kepada” atau “1926”.

Walau dalam muktamar ke-26 buku Khittah Nahdliyah tidak menjadi pembahasan namun, buku tersebut mendapat respon positif dari generasi muda NU untuk mencapai Khittah NU—seperti HM Said Budairi yang menjadi sekretaris “Komisi Pemulihan Khittah NU”.

Memang, sebagaimana diketahui oleh masyarakat umum bahwa buku Khittah Nahdliyah merupakan buah karya dari KH Achmad Siddiq. Namun, hakikatnya ada sosok yang berperan vital di balik pembuatan buku tersebut. Beliau adalah KH Abdul Muchith Muzadi.

Konseptor di Balik Layar

Sebagaimana disebutkan barusan, ada pribadi yang berperan vital dalam pembuatan buku “Khittah Nahdliyyah” karya Achmad Shiddiq yakni KH Abdul Muchith Muzadi. Namun sayangnya, dalam narasi-narasi yang ada saat ini, sosok beliau yang akrab disapa Mbah Muchith ini tak banyak tercantum dalam catatan sejarah dari lika-liku perumusan Khittah NU.

Tak banyak literatur yang menjelaskan bahwa Mbah Muchith memiliki peran sentral dalam peristiwa penetapan naskah “Khittah NU”. Dalam buku yang berjudul Prespektif Agraria Kritis, Mohamad Shohibuddin menjelaskan KH. A. Muchith Muzadi adalah tokoh yang termasuk dalam konseptor kembalinya NU ke Khittah 1926.1 Kyai yang disebut Gus Dur sebagai kyai yang berpredikat “nyentrik” ini memiliki andil yang besar pada peristiwa kembalinya NU pada Khittah.

Mbah Muchith yang lahir pada 4 Desember 1925 ini, bak sebuah pelita yang menjadi pepadange dalan atau orang yang mbabat alas untuk jalan menuju “Khittah NU” pada 1987.

Pasalnya memang beliaulah yang berhasil mbabat alas dengan menjadi orang pertama yang dapat mengonsep suatu kerangka dari Khittah Nahdlatul Ulama menjadi sebuah karya tulis yang dapat dikritik, dikritisi dan ditelaah oleh berbagai kalangan NU khususnya para ulama’ dan kaum muda NU pada saat itu.

Sebagaimana yang dituliskan oleh Afif Amrullah, buku “Khittah Nahdliyyah” karya KH. Achmad Shiddiq, memiliki kisah tersendiri dalam penulisannya. KH. A. Muchith Muzadi menuturkan, sewaktu Mbah Achmad Shiddiq akan berangkat haji pada tahun 1978, banyak kiai dan pengurus NU yang beliau undang, termasuk Mbah Muchith.

 Kala itu Mbah Achmad memohon didoakan oleh para kiai sekaligus bercerah tentang NU pada masa lalu. Dan secara spontan Kiai Achmad dan para kiai meminta Mbah Muchith menulis isi ceramah tersebut.

Pada waktu Kiai Achmad akan berangkat dan transit di Surabaya, Mbah Muchith bertutur “Pak Achmad, ini catatan kemarin sudah jadi. Apakah mau ditinggal atau dibawa ke Mekah dan dikoreksi disana?” dijawablah oleh Kiai Achmad: “Endi, tak gowo wae.

Sepulangnya Kiai Achmad dari Mekah catatan yang ditulis oleh Mbah Muchith telah dikoreksi. Lalu digarap kembali oleh Kiai Muchith, diserahkan lagi, dikoreksi kembali begitu seterusnya. Sampai pada tahun 1979, setelah dianggap cukup, vatatan itu kemudian diketik oleh Kiai Muchith dan diperbanyak hingga 10 eksemplar.

Memang, draf tersebut rencananya dicetak menjadi buku. Akan tetapi sebelum Mbah Muchith mencari percetakan yang akan diajak kerjasama, ternyata ada pegawai percetakan dari Bangil yang datang membawa cetakan percobaan.

Pegawai tersebut mengaku mendapat draf tersebut dari Amal Fadholi yang mendapat salinan draf dari Mbah Muchith.

Pada akhirnya telah menjadi buku yang diberi judul Khittah Nahdliyah. Buku kecil tersebut juga diberi catatan pengantar oleh Wakil Rais Aam saat itu, KH Masjkur dan Ketua Umum (Ketum PBNU saat itu, KH Idham Chalid.

Pasca itulah, kata Khittah banyak dibicarakan dan buku tersebut menjadi referensi pokok dalam perumusan Khittah NU yang dibahas dan putuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama’ NU tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 tahun 1984.2

Dari kisah tersebut, Mbah Muchith memiliki peran sentral, walau dalam perumusan serta diputuskan nama beliau tidak bergaung keras seperti tokoh-tokoh lainnya yang terlibat dalam proses Khittah NU. Peran beliau adalah sebagai konseptor yang tidak show up di depan.

Adagium yang pas untuk Mbah Muchith adalah diam-diam ubi. Sosok Mbah Muchith memang namanya kita tidak bisa membayangkan jika sosok beliau tidak ada dalam proses pembuatan naskah dari Kiai Achmad.

Mungkin NU akan tetap menjadi bagian partai politik di samping menjadi organisasi sosial-keagamaan. Dan mungkin, akan terjadi tumpang tindih kepentingan secara politik di dalam kepengurusan ataupun para Nahdliyyin.

Beliau telah sedo 6 September 2015, akan tetapi jasa dan buah pikiran yang termaktub dalam Khittah NU masih diugemi oleh seluruh pengurus di berbagai lapisan kepengurusan NU.

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM