Kultur Moderatisme Pesantren (1)

0
1029

Oleh : Rais (Alumnus PP Al Huda Kebumen)

nujateng.com Pondok pesantren menjadi salah satu lembaga pendi\dikan non formal. Kurikulumnya identic dengan kitab-kitab klasik (salafi) yang harus dipelajari melalui tata bahasa Arab (nahwu dan shorof) dengan model wetonan dan sorogan.

Elemen pesantren yang terdiri dari  pondok, masjid, santri, kyai dan kajian kitab-kitab klasik.[1] Tempat tersebut dianggap sebagai kawah candradimuka mempelajari ajaran keislaman secara mendasar. Maka dari itu, pesantren dianggap manifesto lokalitas Islam yang berusaha mengajarkan nilai-nilai ke-Islaman sekaligus ke-Indonesiaan dalam satu nafas.

Kemampuan itu, menafsirkan ajaran-ajaran Islam yang notabene dari Timur Tengah ke Jawa diperlukan kontekstualisasi. Melihat skill santri yang mampu menafsirkan ulang ajarannya tentu berkaitan dengan proses santri pasca lulus dan bermasayarakat.

Bertahun-tahun mempelajari keilmuan Islam, apakah berpengaruh terhadap cara pandang santri saat berkecimpung di masyarakat yang plural? Hal inilah yang perlu dipertanyakan, apakah kontektualisasi ajaran toleransi pesantren dapat dikontekskan dengan keadaaan masyarakat oleh santri.

Indigenous Pendidikan Pesantren

Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia mencatat bahwa pesantren adalah salah satu bentuk “Indigenous culture” atau bentuk kebudayaan asli bangsa Indonesia, sebab lembaga pendidikan dengan pola kyai, santri dan asrama telah dikenal dalam kisah dan ceritera rakyat maupun dalam sastra klasik Indonesia khususnya di pulau Jawa.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila para ulama yang menyiarkan agama Islam menempuh jalan melalui lembaga pendidikan dengan menggunakan pesantren yang telah ada yang memang ternyata banyak tumbuh dan berakar di masyarakat.

Pesatnya kemajuan pembangunan nasional selama tiga dekade ini telah membawa pengaruh positif bagi kemajuan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun, di sisi lain kemajuan ini telah melahirkan masalah-masalah baru, seperti kesenjangan sosial, kriminalitas, kenakalan remaja, pergaulan bebas, serta merosotnya kepedulian sosial masyarakat.

Menurut kaidah bahasa Indonesia, pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan ‘pe dan akhiran ‘an, berarti tempat tinggal santri.

Menurut Mastuhu “Pondok pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaqquh fiddiin, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat”.[2]

Ajaran “al-wasathiyah” yang dikembangkan lebih jauh oleh para santri di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam ajaran Islam antara lain dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (pelaksanaan hukum dan ritual keagamaan), dakwah (syiar agama), dan akhlak (etika).

Adapun konsep “al-ghuluw” dalam beragama yang selalu diperingatkan oleh kiyai kepada para santrinya adalah upaya untuk menjauhi fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu pandangan, kecenderungan yang justru mempersulit pelaksanaan ajaran Islam, berprasangka buruk kepada penganut agama lain, atau bahkan pengkafiran terhadap sesama muslim yang berbeda pemikiran dengannya.

Sementara, sikap-sikap moderat para santri yang dapat dikembangkan di masyarakat adalah beberapa metode pemahaman dan pengamalan teks-teks keagamaan yang ditandai dengan beberapa ciri seperti pemahaman terhadap realitas (fiqh al-waqi’), pemahaman terhadap fiqh prioritas (fiqh al-auwlawiyyat), pemahaman terhadap konsep sunatullah dalam penciptaan mahluk, pemahaman terhadap teks-teks keagamaan secara komprehensif, pemberian kemudahan kepada orang lain dalam beragama, mengedepankan dialog, bersikap toleran, serta sikap keterbukaan dengan dunia luar.

Bagaimana cara santri mengembangkan konsep toleransi di masyarakat ?

Keragaman agama dan budaya di Indonesia hadir dalam konteks peradaban hari ini. Moderasi Islam menjadi hal yang mutlak guna menelurkan jalan tengah saat terjadi masalah-masalah keislaman di era modern.

Ahmad Syafii Ma’arif mengatakan bahwa fenomena  keragaman ini adalah fakta yang harus diakui. Barang siapa yang tidak mengakui, ia tidak mengakui adanya cahaya matahari di siang bolong.[3]

Kata moderat dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-Wasathiyah. Dalam Alquran merupakan kata yang terekam dari (QS.al-Baqarah 143:2) “ Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar kami mengetaui siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang berbalik kebelakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh allah. Dan allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.

Sungguh, allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia.” Kata al-Wasath dalam ayat tersebut, bermakana terbaik dan paling sempurna.

Moderasi Islam adalah sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan. sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang.

Dengan kata lain seorang muslim moderat adalah muslim yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya.

Karena manusia-siapa pun ia tidak mampu melepaskan dirinya dari pengaruh dan bias baik pengaruh tradisi, pikiran, keluarga, zaman dan tempatnya, maka ia tidak mungkin merepresentasikan atau mempersembahkan moderasi penuh dalam dunia nyata.

Hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Dalam realitas kehidupan nyata, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari perkara-perkara yang berseberangan.

Karena itu al-Wasathiyyah Islamiyyah mengapresiasi unsur rabbaniyyah (ketuhanan) dan Insaniyyah (kemanusiaan), mengkombinasi antara Maddiyyah (materialisme) dan ruhiyyah (spiritualisme), menggabungkan antara wahyu (revelation) dan akal {reason), antara  maslahah ammah (al-jamaaiyyah) dan maslahah individu (al-fardiyyah).

Konsekuensi dari moderasi  Islam sebagai agama, maka tidak satupun unsur atau hakikat-hakikat yang disebutkan di atas dirugikan.[4]

Urgensi moderasi islam ini muncul karena semakin banyaknya pandangan-pandangan mengenai islam yang tidak sesuai dengan kemanusiaan maka lambat laun Indonesia terutama, akan mengalami perpecahan, konflik, dan hancur.

Islam merupakan agama yang bersatu tidak bisa di campur adukkan dengan golongan maupun lebel-lebel tertentu. Selain itu urgensi moderasi islam bukan hanya dibidang keilmuan, namun sistem dan penerapan yang ada dikonteks peradaman zaman sekarang, dan belum ada di zaman dahulu, harus dilakukan dengan jalan ijtima agar tidak ada pandangan-pandangan yang menyalahi.

Moderasi islam hadir agar dapat dikaji secara menyeluruh, tidak setengah-setengah,  agar seseorang tidak merasa golongannya yang paling benar. Jika tidak ada moderasi islam di khawatirkan akan terjadi fanatisme dan kebuataan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan zaman dahulu.

Seperti contoh, Indonesia merupakan Negara multikultural dengan budaya yang beranekaragam, maka islam tidak menolak adanya budaya-budaya yang beraneka ragam selama budaya tersebut tidak menyimpang dari syariat islam.

Budaya yang ada dizaman sekarang mungkin tidak ada di zaman rasulullah, maka seorang tidak bisa memberikan label bahwa budaya tersebut tidak benar. Adanya moderasi islam ini akan menjadi penengah dari berbagai permasalahan yang ada di zaman modern.

Pendidikan sebagai sarana yang kuat dalam mempelajari kenegaraman ilmu, budaya, dan pemikiran, harus lebih hati-hati untuk mengolah sistem pendidikan dengan baik.

Dan mampu membina setiap perilaku yang di bawa oleh stakeholder didalamnya. pendidikan Islam di Indonesia mulai menegaskan dirinya sebagai tipe pendidikan yang moderat. Prinsip-prinsip moderasi islam dalam pendidikan harus di canangkan berdasarkan prinsip keseimbangan (tawâzun).

Keseimbangan ini bisa dilihat dari aspek keseimbangan antara prilaku, sikap, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Prinsip keseimbangan juga merupakan sikap dan orientasi hidup yang diajarkan Islam, sehingga peserta didik tidak terjebak pada ekstrimisme dalam hidupnya, tidak semata-mata mengejar kehidupan ukhrawi dengan mengabaikan kehidupan duniawi. [5]

Prinsip moderasi Islam sebenarnya juga mengandung prinsip “Bhineka Tunggal Ika,” suatu prinsip kesetaraan dan keadilan di tengah perbedaan untuk mencapai persatuan.

Prinsip ini dimaksudkan sebagai pemeliharan terhadap perbedaan-perbedaan peserta didik, baik berupa perbedaan bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, agama, ras, etnik, dan perbedaan lainnya. [6]


KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM

[1] Zamakhsyari Dlofier, Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1985), . 44

[2] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren  (Jakarta: INIS, 1994), 56.

[3] Syafii Ma’arif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, (Bandung, Mizan: 2009), 166.

[4] Yusuf Al Qardawi,  Kalimat Fi al Wasathiyahwa Madlimih. (Kairo: Dar al Syuruq, 2011), hal. 13.

[5] Muhammad Hasan Thalchah, Pendidikan Multikultural sebagai Opsi nanggulangan Radikalisme, (Malang: Lembaga Penerbitan UNISMA, 2016), hal. 70

[6] Mohammad Omar Al-Syaibany Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 521.