Al-Muhâfazatu ‘Ala Al-Qadim Al-Shâlih Wa Al-Akhdzu Bi Al-Jadîd Al-Aslah, Kultur Pesantren di Indonesia (1)

0
220

Oleh : Alaik Ridhallah (Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo)

Jika mendengar kata “Pondok Pesantren”, sekilas pertama kali yang ada di benak kita yaitu sebuah lembaga pendidikan non formal, menggunakan kitab-kitab klasik (salafi) dalam kajian kurikulumnya, sehingga identik dengan mempelajari kosa kata Bahasa Arab yang rumit.

Begitu pula ada yang berfikiran bahwa  Pondok Pesantren (Ponpes), selanjutnya disingkat Ponpes, merupakan model pendidikan yang kuno, sulit berkembang, tidak demokrasi, model kepengurusannya hierarki, dan lain sebagainya.

Hal ini memang tidak dipungkiri, di era globalisasi ini masih banyak Ponpes yang masih menerapkan model pendidikan seperti itu. Meskipun demikian, cara ponpes dalam mengelola pendidikannya pastinya mempunyai nilai lebih dan kurang masing-masing.

Namun di era saat ini, apakah model pengelolaan ponpes yang masih kuno tersebut akan dapat menjawab tantangan zaman yang dinamis ini. Apalagi adanya pemahaman radikalisme, ekstrimisme, fundamentalis dalam pengapaplikasian beragama di ranah publik.

Kita ketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan yang jumlahnya ribuan, di dalamnya terdapat bermacam-macam suku, ras dan agama (SARA), sehingga tak dapat dipungkiri dengan banyaknya SARA akan menimbulkan pertikaian karena adanya perbedaan. Meskipun perbedaan ini merupakan Sunnatullah yang tidak dapat dipungkiri adanya.

Pesantren hadir dan menjawab semua keprihatinan yang ada selama ini, karena pesantren, di dalamnya terdapat santri yang mondok dari berbagai penjuru di Nusantara, inklusivitas santri untuk menerima adanya Sunnatullah tersebut guna terciptanya perdamaian yang mulanya di pesantren kemudian ke ranah publik.

Adanya kaidah al-muhâfazatu ‘ala al-qadi>>>>>>>>>>>>>m  al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-aslah   (senantiasa berusaha penjaga tradisi yang bernilai baik dan menjadi pesantren yang terbuka terhadap sesuatu yang datang dari luar-modernitas dan dinilai dapat bermanfaat bagi kemajuan pesantren), merupakan identitas para pengelola ponpes dan santri untuk menjawab tantangan zaman.

Di era multikulturalisme dan pluralisme, Pendidikan Agama Islam sedang mendapat tantangan karena ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari ekslusivitas beragama.[1] Diperlukan upaya-upaya preventif agar hal ini tidak menjadi bumerang bagi Islam.

Kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia maka Islam sebenarnya berpeluang besar mempengaruhi tata hidup kemasyarakatan dan kebangsaan di tanah air.[2]

Melihat konteks tersebut, kaum muslim perlu menyadari bahwa kedudukannya sebagai umat mayoritas perlu dibarengi dengan sikap apresiatif dan penghargaan terhadap hak-hak keagamaan dan apresiasi sosial-politik kelompok non-Muslim.

Kemajemukan Indonesia merupakan kekuatan sosial dan dengan keragaman yang indah apabila satu sama lain bersinergi dan saling bekerja sama untuk membangun bangsa. Namun, pada sisi lain, kemajemukan tersebut apabila tidak dikelola dan dibina dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu dan penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Pasca reformasi dengan runtuhnya Soeharto dari kekuasaannya, munculnya kebudayaan Indonesia cenderung mengalami disintegrasi dan kekerasan. Krisis moneter, ekonomi, dan politik yang bermula sejak 1997 mengakibatkan terjadinya krisis kultural di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berakhirnya sentralisme kekuasaan yang pada masa Orde Baru memaksakan monokulturalisme dan hegemoni kebudayaan mengandung implikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang plural.

Berbarengan dengan proses otonomisasi dan desentralisasi kekuasaan serta pemerintahan, terjadi peningkatan gejala provisionalisme yang hampir tumpang tindih dengan etnisitas. Kecenderungan ini jika tidak terkendali akan dapat menimbulkan tidak hanya disintegrasi sosio-kultural yang amat parah, tetapi juga disintegrasi bangsa.[3]

Salah satu lembaga pendidikan yang sudah tua adalah pesantren, sebagai salah satu subkultur sosial yang seringkali disebut orang sebagai lembaga tradisional yang ada di Indonesia, tidak luput dari jangkauan proses tersebut. Eksistensinya akan selalu ditantang oleh perubahan sebagai sebuah kebutuhan yang mengalami pergeseran nilai.

Kemampuan pesantren memenuhi tuntutan kebutuhan pendukungnya menjadi ujian bagi kelangsungan eksistensinya sehingga transformasi sosio-kultural yang ditempuhnya harus senantiasa memperhatikan perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.[4]

Dalam hal ini tradisi keilmuan pesantren perlu dipelihara sebagai sebuah media pembelajaran yang khas, namun tidak menutup kemungkinan pesantren terbuka dengan dunia luar demi kemajuan yang progresif menuju pada perubahan sistem yang lebih komprehensif. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia. Menurut para ahli, pondok pesantren baru dapat disebut pondok pesantren apabila memenuhi 5 syarat, yaitu: (1) ada kyai, (2) ada pondok, (3) ada masjid, (4) ada santri, dan (5) ada pengajian kitab kuning.[5]

Pesantren sebagai pusat kegiatan keagamaan murni (tafaqquh fiddin) untuk penyiaran agama Islam. Itulah identitas pesantren pada awal perkembangannya. Identitas lain yang sering melekat pada pesantren adalah sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang mengajarkan Islam ortodoks secara konservatif.

Maka pesantren perlunya melakukan evolusi mengikuti perkembangan dan perubahan. Atau pesantren dituntut mampu untuk melakukan inovasi-inovasi secara interen maupun ekstern untuk merespon perubahan. Salah satunya bagaimana pesantren mampu membuka diri sebagai bagian bangsa dalam kemajemukannya.

KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM


[1]  Husniyatus Salamah Zainiyati, Pendidikan Multikultural Upaya Membangun
Keberagamaan Inklusif Di Sekolah. Jurnal Islamika, (Vol.1, no. 2, Maret 2007), h. 135.

[2]  Mahmud Arif, Pendidikan Agama Islam Inklusif Multikultural. Jurnal Jurusan
Pendidikan Agama Islam, (Vol. I, no 1, Juni 2012), h. 2.

[3]  Syamsul Huda Rohmadi, Pendidikan Islam Inklusif Pesantren ( Kajian Historis – Sosiologis di Indonesia), Institute Agama Islam Negeri Surakarta, lihat di ejournal.kopertais4.or.id. diakses, 13 Oktober 2019, pukul 21.25 wib.

[4]  Syamsul Huda Rohmadi, Pendidikan Islam Inklusif Pesantren…, lihat di ejournal.kopertais4.or.id. diakses, 13 Oktober 2019, pukul 21.25 wib.

[5]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam, (Bandung : Rosdakarya, 2001), h. 191