Cara Mengubah Strategi Pembelajaran Kita

0
687
Learning
kredit ilustrasi : jagad.id

Oleh : Edi Subkhan (Dosen Universitas Negeri Semarang)

nujateng.com Bagaimana cara mengubah agar pembelajaran di kelas—sekolah formal dan kampus formal—dapat lebih manusiawi, tidak membebani siswa/mahasiswa—karena harus beradaptasi dengan pandemi Covid-19, namun tetap tidak melencengkan tujuan pembelajaran, tidak juga menurunkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar.

1. Perpanjang masa pengerjaan tugas. Hal ini penting, mengingat siswa perlu beradaptasi dengan ritme belajar baru, juga cara belajar baru yang lebih menekankan pada kemandirian belajar.

Kondisi pandemi, harus melakukan physical distance, tentu membuahkan tekanan, kebosanan, dan ritme hidup baru. Namun, belajar jarak jauh—termasuk daring di dalamnya—juga tidak mungkin tanpa memberi tugas sama sekali. Karena dari tugas itulah guru tahu capaian hasil belajar siswanya.

2. Fokus pada unjuk kerja (kinerja) atau produk yang menjadi ukuran dari keberhasilan capaian belajar siswa. Tidak perlu mengontrol ketat pemahaman per sub-bahasan, karena akan cenderung memberi tugas berlebih—dan ini yang rata-rata terjadi di banyak sekolah sekarang. Kalau tujuan pembelajarannya berupa pemahaman, cukup diberikan 1 atau 2 tugas terkait dengan tujuan tersebut.

Tujuan pembelaran di sini maksudnya tujuan pembelajaran dalam 1 semester, bukan 1 pertemuan/topik. Tidak perlu rinci. Tinggal guru memastikan pemahamannya tepat dengan eksplorasi tugas tersebut saja.

3. Pegang kompetensi inti (KI) saja, tidak perlu kompetensi dasar (KD). Di semua sekolah yang menjalankan Kurikulum 2013 sekarang yang dipegang adalah KD. Nah, KD ada banyak dan merupakan penjabaran dari KI. Berpegang pada KD akan cenderung memaksa guru untuk memberikan banyak pelajaran secara detail, padahal sejatinya KI yang dituju cukup padat dan ringkas.

Nah, KI ini saja yang dipegang hingga nanti pembelajarannya tidak akan “terlalu rinci dan detail” sebagaimana sekarang ketika memegang ketat KD. Dengan berpegang pada KI saja, materi lebih ringkas, pembelajaran dapat dirancang ulang lebih ringkas/sederhana tapi tetap sesuai KI. Akhirnya tugas juga ringkas. Penilaian seperti di point nomor 2, fokus saja pada kinerja dan produk.

Baca Juga  Bendera : Selembar Kain Yang Bermakna

4. Sayang rumusan KI dalam Kurikulum 2013 terlalu abstrak. Hingga guru pasti kesulitan ketika hanya memegang KI sebagai acuan merumuskan pembelajaran.

Oleh karena itu, baca ulang KD-KD (lihat di Permendikbud No. 24/2016) sesuai mata pelajaran dan jenjang masing-masing. Buat list/daftar inti-inti kompetensi yang hendak dipakai apa, dan daftar ini jadikan sebagai acuan merancang ulang pembelajaran dan penilaian hasil belajar.

Jika daftar inti-inti kompetensi hasil pembacaan atas KD-KD ini concise betul (ringkas), maka sejatinya inilah KI yang sebetulnya.

Dengan melakukan beberapa tips ringkas di masa darurat pandemi Covid-19 tersebut, maka pembelajaran akan langsung pada intinya saja (karena berpegang pada KI-nya, KI singkatan dari kompetensi inti), tidak terlalu banyak kembangan atau bertele-tele harus mengerjakan tugas yang berseri-seri banyaknya, penilaian juga akan langsung fokus pada menilai kompetensi apa yang hendak dicapai.

Pembelajaran yang ringkas, langsung pada intinya (right to the point, to the core competencies), tugas yang langsung ke inti kompetensi apa yang hendak dicapai, akan memudahkan guru, siswa, dan orang tua di saat-saat darurat sekarang ini.

Sejatinya, arah pembelajaran yang langsung to the point (intinya mau bisa apa ini), tanpa melakukan pembelajaran yang bertele-tele dan buang-buang waktu—sementara di keseharian siswa, guru, dan orang tua sedang menghadapi pandemi Covid-19, merupakan pengingat pada hal paling fundamental dalam pendidikan, yakni: tujuan pendidikan, tujuan belajar. Hal ini di era digital sekarang tampaknya mulai disadari dan banyak yang berani melakukan.

Misal, mau bisa masak, tinggal ikut kursus masak, jika bisa daring ya ikut daring saja, lebih ringkas, mudah, murah. Tak perlu sekolah tata boga atau kuliah tata boga, yang lama waktunya, bayarnya juga lumayan.

Baca Juga  NKRI adalah Khilafah hasil Ijtihad Ulama Nusantara

Tujuan inti pendidikan, tujuan inti belajar ini yang harus disadari dan dipegang oleh guru/dosen. Karena akan sangat mencerahkan dan menyadarkan bahwa sejatinya barangkali strategi pembelajaran kita tak perlu bertele-tele dan berseri-seri banyaknya. Ini tantangan bagi sekolah dan kampus formal kita sekarang.

Bisakah bertahan di tengah lahirnya pusat-pusat belajar baru dalam bentuk MOOCs (misal Coursera, Alison, EdX, Icourse, Future Learn), komunitas belajar, homeschooling, atau bahkan channel-channel YouTube, instagram, twitter, WA, dan Facebook ?

Tulisan ini pertama kali terbit di laman facebook Edi Subkhan