Pendidikan Yang Manusiawi

0
551
Pendidikan anak-anan
Dok : Istimewa

Oleh : Edi Subkhan (Dosen Universitas Negeri Semarang)

nujateng.com Saya kira semua sepakat bahwa dunia pendidikan kita dihadapkan pada situasi darurat. Kebijakan meliburkan sekolah dan kampus untuk menghambat persebaran Covid-19 adalah respons tepat. Selebihnya PR kita adalah menjelaskan respons pedagogik di tengah situasi darurat sekarang.

Ada banyak guru/dosen yang di saat sekarang tetap menjalankan pembelajaran seperti biasa. Yakni ceramah, memberi tugas, sama persis seperti yang ada di dalam silabus, RPP, atau ‘lesson plan” awal. Tidak ada yang berubah. Atau bahkan jadi tambah berat, karena tiap pertemuan siswa diberi tugas untuk mengontrol pemahaman atas materi.

Di sisi lain ada juga guru yang melaksanakan pembelajaran secara berbeda. Bukan sekadar pindah dari moda pembelajaran luring ke daring, melainkan mengubah “lesson plan”, termasuk di dalamnya strategi pembelajaran dan penilaian hasil belajar.

Cara kedua inilah yang lebih tepat. Mengingat kondisi darurat—terlebih Covid-19 statusnya pandemi—perlu respons pedagogik yang tidak sekadar menjalankan pembelajaran sebagai “business as usual”.

Banyak yang ragu dan akhirnya menjalankan pembelajaran seperti biasa, bahkan memberi tugas ke siswa tambah banyak, karena dihantui cara pandang bahwa sekali lesson plan dibuat maka harus dijalankan sampai selesai. Tak boleh ada improvisasi, karena akan menjadikan pembelajaran ke luar rel dan menjauh dari tujuan pembelajaran.

Cara pandang ini dalam banyak kasus membuahkan manipulasi, yakni ketika kondisi darurat guru harus melakukan improvisasi di kelas, namun di jurnal pembelajaran–di akhir semester–improvisasi tersebut tak ditulis, yang ditulis adalah sama persis seperti di lesson plan awal.

Hal ini terjadi karena takut disalahkan oleh tim akreditasi atau pengawas sekolah dan Dinas Pendidikan. Takut dinilai tak becus mengajar, tak bisa menjalankan rencana pembelajaran.

Baca Juga  Meneruskan Perjuangan Gus Dur

Padahal bisa melakukan improvisasi dalam pembelajaran sebenarnya adalah satu tingkat di atas sekadar menjalankan rencana awal. Terlebih improvisasi tersebut dihasilkan oleh hasil pembacaan yang akurat dan tepat terhadap perubahan ritme belajar siswa dan sejenisnya.

Namun agaknya paradima positivistik bahwa proses harus sama persis dengan rencana ini masih dominan di kepala para guru-guru kita, juga para dosen.

Orang yang belajar pedagogik secara mendalam dan luas pasti mafhum bahwa “lesson plan” dapat dan perlu diubah sesuai ritme belajar, terlebih ketika ada bencana Covid-19 yang sifatnya global dan membahayakan jiwa guru, siswa, orangtua. Namun orang awam sering ragu dan bingung: dasar teorinya apa?

Secara ringkas dasar teorinya dalam kurikulum misal adalah konsep dan praktik pengembangan dan implementasi kurikulum by process oleh James McKernan (2008), atau prinsip-prinsip dalam pedagogi kritis yang dibawa ke ranah kurikulum, terutama dalam perspektif “critical curriculum studies”, lihat misalnya Wayne Au (2012). Saya sebutkan dua bacaan ini karena saya mendalami keduanya.

Soal desain instruksional yang prinsip-prinsipnya mendekati prinsip kurikulum McKernan dan Au juga banyak, terutama yang berparadigma post-modern. Soal ini malah saya telah panjang lebar mengulasnya dalam buku saya “Sejarah & paradigma teknologi pendidikan untuk perubahan sosial” (2016). Intinya, improvisasi lesson plan jelas kuat dasar teoretiknya, filosofisnya, ideologinya.

Justru tidak manusiawi, tidak humanis, jika di saat darurat sekarang ini kita tak mengimprovisasi “lesson plan” kita jadi lebih humanis, fleksibel, dan kontekstual.

Teori-teori atau prinsip-prinsip tersebut garis besarnya menyatakan bahwa: utamakan manusia—dalam hal ini siswa—di atas metode, media, dan segala pernak-pernik elemen pendidikan lain. Dan mengubah “lesson plan” untuk menyesuaikan dengan situasi darurat pandemi Covid-19 adalah manusiawi.

Baca Juga  Mengapa Jangan Mencari Makan di NU ?

Nanti akan saya jelaskan mengapa mengubah lesson plan tak lantas berarti melencengkan tujuan pembelajaran, tak lantas menurunkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar.

Tulisan ini pertama kali tayang di laman facebook Edi Subkhan