Obituari Kiai Adib Abdurrahim Ahmad

0
1253

Oleh : Shofiyul Burhan (Alumnus MA MGS Sarang)

nujateng.com Tepat pukul 02.20 dini hari 05 Maret 2020 Syaikhona KH. adib Abdurrahim meninggal dunia di Rumah sakit Karyadi Semarang. Meninggal di usia 57 tahun tepat di hari 10 Rojab, hari dan bulan yang mulia, termasuk salah satu dari keempat bulan yang dimuliakan Allah SWT setelah bulan dzulqo’dah, dzulhijjah, dan Muharram.

Semoga wafatnya beliau menandakan kemuliaanya sebagaimana bulan dimana beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa Isra’ Mi’rajnya Rasulullah disertai dengan diwajibkanya salat lima waktu di bulan ini menjadi wasilah untuk KH. Adib Abdurrahim mendapatkan syafa’at dan rahmat Allah SWT.

Penulis mengenal sosok beliau, sebagai kiai yang supel dan sangat ramah kepada semua orang, tak heran para santri PP MUS semuanya merasa dikenal oleh beliau. Setiap kali sowan, santri selalu disebut namanya disertai dengan rumahnya.

Kebiasaan demikian menurut saya adalah cara beliau untuk mendekatkan santri dengan kiainya, agar tidak ada sekat yang memutus hubungan”ta’alluq” antara santri dan kiai.

Beliau kiai yang “gemati”(penyayang) dan gemar silaturrahmi di rumah para santrinya. Banyak sekali kenangan pribadi alfaqir dengan beliau. Pernah suatu ketika, penulis kaget mendapatkan kabar dari Kang Ni’am khadim beliau yang tak lain adalah suami dari sepupu istri saya mengabari kalau beliau mau silaturrahmi ke rumah kami.

Dua puluh menit kemudian beliau datang beserta istri beliau ke rumah. Saya sebagai santri merasa pekiwuh, harus menjamu beliau dengan suguhan apa, suguhan seistimewa apapun tak akan mampu mengganti silaturrahmi beliau ke rumah saya. Rasanya tak pantas santri ndableg di tamuni oleh sosok kiai agung. Namun begitulah kenyataanya, dengan segenap ta’dhim saya serta keluarga berusaha melayani beliau sebaik mungkin.

Beliau membuka perbincangan dengan alfaqir, menanyakan kabar keluarga alfaqir. Kebetulan saat beliau silaturrahmi, alfqir baru saja mendapatkan amanah putra pertama mas Jamaluddin Ahmad yang baru berusia satu bulan.

Kesempatan tidak terulang kedua kalinya, mumpung beliau hadir diantara keluarga kami, alfaqir meminta beliau untuk mendoakan keberkahan kepada kedua kami, terkhusus untuk putra pertamaku agar kelak menjadi anak yang sholih. Awalnya saya hendak meminta “tahnik”(memasukkan kurma ke mulut bayi setelah terlebih dahulu dihaluskan lewat dikunyah), namun saat itu beliau lagi puasa sunnat, jadi cukup do’a dari beliaulah yang memberkahi keluarga kami.

Sifat sakho’/luman( dermawan) juga menjadi akhlak yang biasa beliau lakukan, seakan sifat ini menjadi ciri khas putra-putri dari pasangan KH. Abdurrahim Achmad dan Hj. Halimah Zubair.

Seringkali setiap tamu yang bersilaturrahmi ke kediaman beliau, selalu beliau ajak ke ruang makan dan disuguhi dengan aneka macam lauk pauk yang tersedia di meja makan. Semoga sifat sakho’ ini yang menjadikan wasilah beliau merasakan kenikmatan surga di alam barzah beliau.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Durotun Nasikhin”, diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa sifat sakho’ itu pepohonan yang batangya ada di surga,sedangkan cabang-cabangnya menjulur berjuntai ke dunia,barang siapa berpegangan dengan cabang satu dari pohon itu,maka cabang itu akan mengantarkan jalan ke surga.

Sikap ramah, sopan santun, berbicara dengan lemah lembut mempunyai nilai yang memikat hati semua orang yang pernah bertemu dengan beliau, termasuk para walisantri PP MUS. Semua orang kampung sarang Rembang merasakan keteduhan hati beliau. Dikenal sebagai kyai pengayom yang berkecimpung ditengah masyarakat, walaupun posisi pondok pesantren cukup tertutup dan lumayan agak jauh dari lingkungan masyarakat sekitar.

Keramahan beliau seakan tidak dirasakan oleh para santri dan masyarakat agamis saja, akan tetapi kepada setiap orang yang beliau kenal, termasuk para preman-preman yang terkenal di Sarang Rembang juga segan dan tunduk dengan beliau.

Sikap kharismatik seorang kiai pada diri beliau mampu meluluhkan dan menundukkan hati para preman. Andaikan ada orang yang berniat buruk berbuat huru hara dilingkungan pondok pesantren, para preman tersebut siap pasang badan untuk membentengi keluarga beliau, sebagaimana menurut cerita yang masyhur di lingkungan santri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.