Kyai Ahmad Nadir, Syi’ir sebagai Media Dakwah Masyarakat Brebes Selatan

0
997

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

nujateng.com Kyai Ahmad Nadir lahir di Dusun Karangasem Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes pada tahun 1940. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan bapak Sodikin dan ibu Tasmah. Seperti umumnya anak-anak di kampungnya, sejak kecil ia sudah diberi tugas untuk angon (menggembala hewan ternak) baik sapi, kambing maupun kerbau milik orang tuanya.

Nadir kecil menurut teman-teman sebayanya adalah sosok yang cerdas dan memiliki tulisan yang bagus. Selain itu, beliau juga anak yang keras kepala namun sangat disiplin.

Beliau termasuk sosok anak yang dominan dalam pergaulan dengan teman-teman sebaya, sehingga oleh teman-temannya dianggap sebagai pemimpin dalam kelompok bermainnya (geng).

Sejak kecil beliau mulai mendapat pendidikan agama dari seorang ustad bernama Abu Khoer yang merupakan pamannya sendiri. Menginjak remaja Ahmad Nadir kecil dikirim oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu agama ke pesantren di daerah Baros Kabupaten Brebes.

Selanjutnya beliau melanjutkan petualangan mencari ilmu keagamaan di pondok pesantren al Masruriyah Kebumen, Baturaden Banyumas yang diasuh oleh KH Masruri.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Ponpes al Masruriyah, perjalanan keilmuannya dilanjutkan ke Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare Kediri yang didirikan oleh Kyai Khozin, seorang ulama terkenal di Jawa Timur dan merupakan guru dari para ulama yang belakangan menjadi orang-orang besar seperti Syekh Ihsan Muhammad jampes dan KH. Sahal Mahfudz serta Syekh mas’ud Kawunganten Cilacap dan Syekh Mahmud Muhtar al-Bode Plumbon Cirebon.

Nama terakhir bahkan pernah berkunjung ke rumah Kyai Nadir di Dusun Karangasem Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes untuk bertemu beliau.

Pada tahun 1986, beliau meninggal di usia yang masih sangat muda yaitu 42 tahun karena penyakit menaun yang beliau derita. Saat meninggal dunia, masyarakat merasa sangat kehilangan sosok yang dapat menjadi panutan dan sandaran dalam memecahkan persoalan kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Sebagai kyai kampung, Ahmad Nadir adalah seorang Kyai paket lengkap; Kyai panggung, Kyai tutur dan Kyai sembur.

Dalam berdakwah seringkali beliau menggunakan syiir seabagi cara untuk memberikan pemahaman kepada audiennya, sehingga menurut orang-orang yang pernah mengikuti pengajian dengan beliau, suasana pengajian kalau dijaman sekarang terdengan seperti konser, dimana para pengunjung bernyanyi bersama mengikuti apa yang beliau lantunkan.

Meskipun tidak diajarkan di pesantren syiir tetap tumbuh dan berkembang pesat di kalangan masyarakat santri. Hal itu terukur dengan populasi singir yang bertambah banyak dan dijadikannya sebagai media pendidikan dan dakwah yang cukup efektif di tanah Jawa ini.

Sebab, di samping isinya memuat beragam materi pendidikan dan budi pekerti Jawa-Islam, puisi ini pun selalu dinyanyikan oleh komunitas santri Jawa. Jadi, jenis puisi tersebut mempunyai potensi penting yang dapat direvitalisasi sebagai sumber sekaligus media untuk membangun karakter masyarakat santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seperti di bahas di atas, bahwa pada saat itu syiir menjadi tren di kalangan santri pesantren, sehingga banyak santri yang mencoba untuk membuat syiir. Begitu pula Kyai Nadir, beliau termasuk orang yang sangat produktif dalam membuat syiir.

Karya-karya beliau terdiri dari beberapa bidang ilmu, diantaranya adalah ilmu tajwid dan ilmu tauhid. Sayangnya penulis kesulitan menemukan tulisan asli beliau. Beberapa karya beliau dapat penulis temukan pada murid-murid di madrasah yang mencatat pada saat diajar oleh Kyai Nadir.

Berikut petikan muqodimah (pembukaan) dari karya yang beliau ajarkan di madrasah diniyah (teks Arab Pegon bisa dilihat di foto)

Bismillahi kulo nyebut asmanipun # gusti alloh ingkang agung drajatipun

Alhamudillahi kulo muji syukur # dumateng gusti alloh kang maha luhur

Mugi muwuhi alloh rohmat lan salam # dateng nabi muhammad alaihka salam

Lan dateng kawula wargane sedoyo # lan dateng para sahabat kang minulyo

Lan dumateng kluarga kula khusus ipun # lan dumateng tiyang islam umumipun

Iki kitab sun arani nurul athfal # muga-muga lanang wadon pada apal

Kang nganggit siir Ahmad Nadir jennege # mugi alloh ngapura marang dosane

Lan maring dosane wong tua lorone # lan dosane wong kang maca kabehane

Iki anggit nerangaken sifatipun # gusti alloh saha para rosul ipun

Sifat kang wajib mohal lan wenangipun # kang seket ingandap kateranganipun

Ya alloh gusti nyuwun ilmu manfaat # wonten ingdunya sampai alam aherat

***

Pada tulisannya terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa beliau sendirilah yang mengarang kitab tersebut dan diberi nama Nurul Athfal. Secara keseluruhan kitab ini menjelaskan tentang sifat-sifat Alloh dan Rosul-NYa yang dikemas dalam bentuk syiir.

Penggunaan model syiir dalam karyanya, sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajar beliau di pesantren yang pada tahun-tahun tersebut memang sedang tren model syiir. Selain itu, buku tersebut memang diperuntukkan untuk anak usia diniyah, yang pada saat itu tidak terukur batasan usianya, sehingga metode syiir dirasa sangat cocok agar mengena bagi semua usia.

Perjuangan Kyai Nadir dalam mengembangkan ajaran Islam di kampungnya, berjalan tidak terlalu lama. Belum sempat beliau menikmati hasil perjuangannnya Alloh SWT telah memanggil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.