KH. Ahmad Zawawi, Petilasan dan Dakwah “Kyai Kampung” di Brebes Selatan

0
1308

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

nujateng.com KH Ahmad Zawawi (Kyai Jawawi) lahir di Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan Brebes pada 28 Agustus 1916. Ia merupakan putra dari KH Rois dan Hj. Siti Aisyah. Beliau kemudian menghembuskan nafas terakhir di di Rumah Sakit Slawi Tegal, pada tanggal 31 Agustus 1996 (17 Rabiul Akhir).

Petilasan dakwahnya hingga kini masih ada. Salah satunya adalah Majelis Taklim Kamisan di Masjid Darussolihin Paguyangan. Masjid ini peninggalan orang tuanya (Kyai Rois) dan madrasah diniyah.

Belum ada informasi yang akurat, apakah ia menulis karya atau sebuah buku, tetapi ada buku kecil yang hampir rusak dimana ada tulisan tangan disitu. (bisa dilihat di foto). Buku tersebut berisi tawassul. Kepada nama-nama siapa saja beliau menghadiahkan surat al-fatihah dalam doa yang dipanjatkan sebelum kemudian dilaksanakan tahlil seperti biasa.

KH. Ahmad Zawawi mendapatkan pendidikan pertamanya langsung dari ayahandanya yakni KH Rois, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan menjadi santri KH Hasyim Asyari. Tidak diketahui secara pasti berapa lama beliau menimba ilmu di Tebuireng Jombang. Pulang dari Jombang beliau menikah dengan Hj Siti Rokhmah pada Tahun 1936.

Sebagai santri yang ingin mengabdi pada negeri, beliau terus melanjutkan perjuangan membela tanah air sepulang dari pesantren. KH. Ahmad Zawawi merupakan pejuang kemerdekaan RI melawan penjajah Belanda dan menjadi bagian dari Tentara Hisbulloh. Beliau pernah dipenjara oleh Belanda lumayan lama kurang lebih 1 tahun di Kalibagor Banyumas (Pabrik Gula Kalibagor Banyumas).

Aktivitas dakwah dan pendidikan KH Ahmad Zawawi dilakukan di sekitaran desa tempat tinggalnya. Di desa asalnya, Paguyangan, ia mengelola Masjid Darussolkhin Paguyangan. Majelis Taklim mingguan dan harian dikelolanya. Aktivitas beliau tak jauh dari masjid dan rumah. Karena rumahnya juga sekaligus sebagai tempat nagji ada beberapa orang yang ngaji/nyantri ke beliau. Pelajaran yang diberikan antara lain fikih, nahwu-sharaf, baca al-Qur’an dan tasawuf. Tetapi, yang lebih banyak adalah pelajaran tauhid (sifat dua puluh tersebut).

KH. Ahmad Zawawi sangat senang bersilaturrahmi, beliau selain berdakwah di desanya sendiri secara berkala dan rutin beliau juga sowan untuk ngaji ke kyai pondok pesantren. Mulai dari Buntet Cirebon, Pati, Demak, Jepara sampai Kediri. Selain untuk menimba ilmu lagi beliau juga sangat senang bersilaturahmi mengunjungi sanak saudaranya di banyak kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.