Kafir Sebagai Propaganda Politik

0
498

Oleh : Sumanto Al Qurtuby ( Professor of Anthropology in the Department of Global & Social Studies, King Fahd University of Petroleum & Minerals, Saudi Arab)

Kata itu ibarat lidah dan otong. Sama-sama tak bertulang. Karena tak bertulang itulah, maka sebuah kata – dalam bahasa apapun – bisa dengan mudah dibelak-belokkan maknanya oleh siapa saja dan kelompok mana saja yang berkepentingan, terlebih mereka yang mempunyai kepentingan ekonomi, ideologi, dan politik kekuasaan.

Kata yang awalnya relatif “netral” dan “bebas nilai” juga bisa berubah menjadi tidak netral dan syarat nilai – menjadi ideologis, politis, agamis, sektarian, dan seterusnya.

Kata “kafir” juga demikian. Pada mulanya, kata ini sebetulnya biasa saja–tidak memiliki konotasi sektarian apapun. Para sejarawan dan Islamolog menunjukkan bahwa di abad pra-Islam dan awal keislaman, kata “kafir” ini biasa digunakan oleh masyarakat Arab klasik tempo doeloe untuk orang yang “menutupi sesuatu”.

Itulah sebabnya kenapa petani itu juga disebut “kafir” karena aktivitas mereka menutupi / menimbun benih. Itulah sebabnya kenapa sekelompok suku di Makah disebut “kafir” karena mereka dianggap menutupi berita kebenaran dan reformasi kultural-ekonomi yang dibawa oleh Nabi Muhammad atas sistem tribalisme Arab yang dianggap membelenggu, sektarian, stratified, tidak demokratis, dehuman, dan menindas masyarakat bawah.

Tetapi dalam perjalanan waktu, kata “kafir” ini kemudian mengalami pelebaran makna dan bahkan digunakan sebagai alat kampanye dan propaganda politik praktis kekuasaan.

Perang Salib adalah puncak dari “politisasi kafir” yang kelak kemudian muncul kembali di kalangan “Islam politik” di zaman kolonialisme dan perang antar-bangsa. Di era ini, kata “kafir” sarat dengan aroma politik dan kepentingan pragmatis rezim dan kelompok tertentu.

Baca Juga  Menakar Sistem Politik Islam

Menariknya, dalam implementasinya, penggunaan kata “kafir” ini tidak konsisten. Semua tergantung pada siapa lawan dan siapa kawan.

Misalnya:

Dulu di Uni Soviet, pada waktu Perang Dunia II berkecamuk, sebutan “kapir” merujuk pada musuh-musuh Soviet, khususnya kaum Nazi, imperialis Eropa, dan kapitalis Amerika, bukan untuk rezim Komunis Soviet. Salah satu pentolan “ulama komunis” Soviet waktu itu, Syaikh Abdurrahman Rasulaev yang dikenal dengan julukan “Mufti Merah” menyerukan umat Islam seantero Soviet untuk berjihad dan mengibarkan “perang suci” melawan kaum “kafir” itu: Nazi, imperialis Eropa, dan kapitalis Amerika.

Lucunya, kelompok Islam yang pro-Nazi dan Hitler, baik di Jerman dan kawasan lainnya, menyerukan perang dan jihad melawan kelompok “kapirun komunis Soviet”.

Para ulama senior pro-Hitler dan Nazi seperti Jakub Szynkiewicz dari Lithuania atau Muhamed Pandza dari Sarajevo menyerukan kaum Muslim untuk berjihad melawan “kafir” komunis Soviet.

Sedangkan ulama pro-Nazi lainnya seperti Amin al-Husaini dari Yerusalem yang merupakan “auliya” atau teman setia Fuhrer Adolf Hitler menggelorakan jihad melawan si kafir Yahudi karena memang Yahudilah target utamanya.

Arab Saudi dan sekutunya dulu menyebut rezim Turki Usmani sebagai “golongan kafir” yang harus dimusnahkan sementara Inggris dianggap “auliya” (“teman setia”) karena berjasa membantu Saudi melawan dan mengusir tentara Turki Usmani (Ottoman).

Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok Kurdi, baik di Irak maupun Turki, yang sejak awal abad ke-20 melakukan perlawanan terhadap “golongan kafir” Turki Usmani (dan juga Inggris) seperti yang digelorakan oleh Syaikh Said, Mahmud Barzanji, Masoud Barzani dlsb.

Selanjutnya, Al-Qaida and the gangs menyebut Ngmerikah sebagai kapirun, padahal dulu para pentolannya (seperti Osama dan Abdullah Azzam) adalah “teman setia” Amerika saat bersama-sama dengan kaum Afghan Mujahidin melawan dan mengusir “tentara Soviet” dari Afganistan. Pada waktu itu, sejak awal 1980an, sebutan “kafir” ditujukkan untuk Soviet, bukan Amerika.

Baca Juga  Huruf ض, Pertanda NU Sebagai Wajah Peradaban Islam Dunia

Rezim Shah Iran dulu menganggap Ngamerikah sebagai “auliya” dan Soviet sebagai “kafir”. Sebutan ini berubah 180 derajat sejak Komeini berkuasa melalui revolusi tahun 1979.

***

Dalam sejarah Indonesia, sebutan “kafir” juga berubah-ubah. Dulu, kelompok Islam yang anti Belanda, memanggil “kompeni” sebagai “kafir” dan mengobarkan perang kepada / melawan “si kafir”. Pada waktu Jepang datang, berbagai kelompok umat Islam juga menggelorakan jihad melawan “si kafir” Belanda.

Jepang pada awalnya tidak (atau belum) dianggap “kapir” karena mereka membantu umat Islam dan berjanji membebaskan mereka dari kolonialisme Belanda. Di Maluku (dan juga kawasan lain), Jepang bahkan sangat aktif memprakarsai pembentukan sejumlah ormas Islam dan kelompok milisi jihad untuk melawan “si kafir” kompeni Belanda dan sekutunya.