Islam dan Antropologi

0
1546
Iklan

Oleh : Sumanto Al Qurtuby ( Dosen Antropologi Budaya Universitas King Fahd of Petroleum and Minerals, Arab Saudi)

nujateng.com Sering saya mendapat kritikan nggak nyambung dari orang-orang kemplung: “Antropolog kok ngomong agama (Islam)?” Lah memang nggak boleh ? Kan jauh lebih baik tukang antropolog yang ngomong Islam daripada tukang bicara yang lain?

Yang mengatakan antropolog itu tidak layak ngomong agama (Islam) itu sejatinya refleksi dari kebahlulan pengetahuan dan wawasan. Sejak zaman bahula, Islam dipelajari oleh berbagai ilmuwan dan sarjana. Sejak zaman bahula pula para sarjana dan ilmuwan Muslim – Persi, Arab, Berber, Kurdi, Turki, India, dlsb – menekuni aneka ragam subjek studi, riset, dan disiplin keilmuan.

Banyak dari mereka bukan hanya belajar – dan ahli di bidang – fiqih, usul fiqih, tafsir, teologi, atau tasawuf saja tapi juga matematika, fisika, astronomi, kedokteran, sejarah, dan bahkan sosiologi dan antropologi. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang kemudian dikenal sebagai “sarjana polymath” yang spesialis di berbagai bidang keilmuan: hard sciences, religious sciences, social sciences.

Para sarjana Muslim klasik seperti Abu Raihan al-Biruni, Ibnu Khaldun, Ibnu Fadlan, atau Ibnu Battutah bisa disebut sebagai ilmuwan sosial dan humaniora (sosiologi, antropologi, atau sejarah) par excellence yang membahas aneka ragam aspek keislaman, tradisi umat Islam, struktur sosial masyarakat, kebudayaan masyarakat dlsb.

Al-Biruni mempelajari tradisi, ritual, kebudayaan masyarakat Hindu, Jain, Yogis, dan Brahmins di India dan tinggal dengan mereka melakukan “participant observation” (menurut ilmu antropologi) selama sekitar 13 tahun. Ia juga menguasai Bahasa Sansekerta. Ia menulis pengalamannya itu dalam buku klasik: “Kitab al-Hind” atau “Buku India”.

Ibnu Khaldun mempelajari struktur sosial dan sistem tribalisme suku-suku Arab Badui. Ibnu Battutah melakukan riset di China dan Far East, sedangkan Ibnu Fadlan mempelajari kebudayan dan struktur sosial masyarakat Eropa. Masih ada nama-nama ilmuwan sosial lain seperti Ibnu Jubair, al-Masudi, Ali Idris, al-Istakhri, dlsb.

Dalam konteks kontemporer, antropologi sudah diperkenalkan ke Timur Tengah sejak 1930an / 1940an oleh para pioneer “antropologi Inggris” termasuk Radcliffe-Brown dan Evans-Pritchard. Radcliffe-Brown bahkan pernah diundang oleh Universitas Alexandria di Mesir untuk mengajar dan membantu pendirian Institute of Sociology. Evans-Pritchard bahkan meneliti dan menulis komunitas Sufi dan suku Nuer di Sudan.

Banyak sekali para antropolog Muslim modern spesialis studi keislaman dan masyarakat Islam dan beberapa di antaranya sangat moncer seperti Mai Yamani & Madawi Al-Rasheed (Saudi), Fadwa El Guindi, Ahmad Abozaid, Hania Sholkamy (Mesir), Lila Abu-Lughod (Palestina), Ahmad al-Khashab, Atef Wasfi, Safia Qassim, Sami Abdulmunim, Talal Asad, Akbar Ahmed, dlsb.

Jadi, Islam sebagaimana agama-agama lain adalah sebuah “ruang kontestasi” yang sangat terbuka yang bisa dipelajari dan diperdebatkan oleh para sarjana dan ulama dari berbagai latar belakang keilmuan dan agama. Islam, seperti agama lain, ibarat samudra tak bertepi yang bisa dikaji, dipelajari, diteliti, dan ditulis dari berbagai pendekatan, perspektif, metodologi, dan kerangka teori.

Jadi itulah kira-kira kenapa saya mempelajari, meneliti, dan menulis Islam, keislaman, keberislaman, dan umat Islam dari berbagai dimensi: Islamic studies, sosiologi, sejarah, maupun antropologi. Maksudnya supaya lebih “kaffah” dan tidak membosankan. Jujur saja saya bosan membahas dan mengkaji Islam dengan cara “ndolal-ndalil” kayak tape recorder. Dalilnya mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.