Cara Menolong Petugas Kesehatan, #Dirumahaja

0
950
ilustrasi dokter
kredit foto : minews.id

Oleh : Ahmad Sajidin (Koordinator GusDurian Semarang)

“Sebenarnya kami lebih membutuhkan APD tersebut, bahkan sementara ini kami masih menggunakan jas hujan sebagai APD sementara –sambil menunjukkan APD berbentuk jas hujan kepada kami–. Belum lagi tantangan untuk membangkitkan teman-teman perawat dari ketakutan dan melecut semangatnya untuk bersama-sama merawat pasien yang terindikasi covid 19. Hari ini, total ada 8 pasien,” tutur perawat.

nujateng.com Pengalaman ini penulis saat akan melakukan kegiatan menyumbangkan handsanitizer dan penyemprotan disinfektan didaerah kota Semarang yang membutuhkan. janjian kami pukul 15.00 WIB disuatu cafe Jl. Menteri Supeno 3 Semarang –nama cafe sengaja disembunyikan karena penulis hanya numpang gratisan–.

Seperti biasa karena latar belakang penulis adalah GUSDURian dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), maka seperti biasa kami agak molor tidak sesuai jadwal yang disepakati, ini harus dimaklumi kalau mau membuat janjian dengan kami, kalau tidak tahu tradisi molor tersebut berati bukan kami yang salah melainkan yang mengajaknya –Yang bagian ini hanya bercanda ya gaes,tapi memang sering begitu sih–.

Sore itu penulis berangkat dengan salah satu kader PMII Rayon Gus Dur, sebut saja Ifah, dia merupakan direktur Lembaga Studi Advokasi dan Perempuan (LPSAP) Rayon Gus Dur yang sering melakukan pendampingan di wilayah Brintik atau lebih tepatnya secara administratif ditulis Jalan  Wonosari 7 RT 6 RW 3 Kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan yang nantinya dijadikan sebagai salah satu tempat yang kami sasar untuk mendapatkan bantuan handanitizer tersebut.

Penulis menghampiri legend aktivis kemanusiaan Semarang beliau ketua Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) sudah 3 tahun lebih dan gak tahu reornya kapan, tapi semangatnya patut ditiru oleh pegiat sosial kemanusiaan di Semarang, Setyawan Budi karena beragam Kristen.

Itu semua tentu tidak menjadi soal, karena Gus Dur dulu pernah berkata“Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Ungkapan ini menjadi penting saat ini agar seluruh elemen bangsa dalam kondisi saat ini untuk mengutamakan gotong royong ketimbang saling mencela dalam upaya melawan virus Covid-19 saat ini yang sudah menjadi pandemi.

Sore itu kami berempat ngobrol soal bagaimana langkah yang kita ambil dan apa yang dapat kita perbantukan dalam membantu tenaga medis dalam upayanya mengatasi virus ini dan masayarakat untuk setidaknya meminimalisir penyebaran covid 19 di Semarang yang sudah tergolong zona merah, berdasarkan pantauan data Jateng Tanggap Covid 19 yang dapat diakses melalui laman https://corona.jatengprov.go.id/ semarang per tanggal 23 Maret 2020 pukul sampai dengan pukul 17.00 terdapat 700 kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP), 69 pasien dalam pengawasan (PDP). –tentunya dalam pertemuan tersebut kami tetap menjaga jarak dengan menerapkan jarak aman sekira 1 meter–.

Dalam pertemuan tersbut ada dua hal yang akan kita galakkan, pertama membantu sosialiasi edukatif dimasyarakat yang akan kita tuju, setelah itu meyerahkan bantuan berupa handzsanitizer dan penyemprotan disinfektan bila memang diperlukan, kedua membantu pihak-pihak medis dalam upayanya mengatasi pasien covid 19 dikota Semarang.

Kita Harus Waspada

Membagikan handsanitizer bantuan dari Yayasan Rasadharma ke 2 lokasi, yaitu di daerah Brintik dan disalah satu rumah sakit di daerah Semarang –sengaja disensor karena berkaitan dengan kesepakatan penulis dan pihak penerima untuk tidak menyebarluaskan nama Rumah Sakit (RS) tersebut–.

Selepas kesepakatan itu diambil beranjaklah kami menuju RS yang dituju dengan prosedur masuk yang agak ketat kami menuju ruang posko siaga covid 19 untuk bertemu salah satu dokter yang nantinya akan memberikan keputusan untuk menerima atau tidak barang yang kami tentukan sesuai dengan kebutuhan RS tersebut.

Setelah menunggu sekira 1 jam akhirnya dokter menemui kami dan menyambut dengan baik maksud dan tujuan kami, sembari kami mau menyerahkan barang, dokter tersebut kemudian cerita banyak soal pengalaman dan himbauan bagi kami, dan ini yang penting untuk penulis sampaikan dalam tulisan ini.

Kurang lebih apa yang diceritakan dokter tersebut begini, mas kami dari pihak RS terimakasih banyak kepada anda-anda yang sudah berkenan membantu pekerjaan yang sulit ini, sebelum lebih lanjut tolong jaga kerahasiaan identitas dan RS kami karena ini berkaitan dengan prosedur RS ini.

Sebenarnya kami memang sangat butuh bantuan seperti handsanitzer, disinfektan untuk kita gunakan sebagai tambahan karena memang kurang stoknya. Hari ini kami dalam membuat disinfektanpun kami buat secara mandiri. mengingat hari-hari ini pasien jumlahnya melonjak dan ketersediaan alat seperti alat pelindung diri (APD) untuk kamipun masih alakadarnya.

“Sebenarnya kami lebih membutuhkan APD tersbut, bahkan sementara ini kami masih menggunakan jas hujan sebagai APD sementara –sambil menunjukkan APD berbentuk jas hujan kepada kami–, belum lagi tantangan untuk membangkitkan teman-teman perawat dari ketakutan dan melecut semangatnya untuk bersama-sama merawat pasien yang terindikasi covid 19 yang hari ini total ada 8 pasien,” ungkapnya

Ini betul betul menjadi tantangan bagi kami, sampai-sampai setiap hari kami suplay vitamin terus menerus agar kondisi tim medis bisa tetap kuat untuk melayani pasien yang ada, belum lagi ketika ada PDP mau masuk, kita juga harus memastikan wilayah yang dilewati sebisa mungkin steril dan tidak menjadi tontonan sehingga membuat warga menjadi panik.

“Kalau jenengan tahu mas, kami ini sudah beberapa hari tidak bertemu dengan keluarga, sekalipun bertemu harus benar-benar memproteksi diri untuk menjaga jarak dan tidak pula bertemu dengan anak-anak kami. Hal itu terpaksa kami lakukan mas meski sesungguhnya memang berat, karena sekarang lawannya adalah lawan yang tidak terlihat mas itu lebih sulit dibandingkan melawan lawan yang terlihat meski mereka bersenjata lengkap mas,”  tambahnya.  

Maka dorongan moral dan bantuan ini sangat penting untuk kami tenaga medis yang saat ini sedang berjuang melawan pandemi Covid-19 in. maka, himbauan-himbauan untuk selalu menjaga kebersihan, menjaga kesehatan dan tetap stay dirumah kalau memang tidak ada keperluan yang benar-benar penting untuk di indahkan mas, setidaknya itu bisa membantu kami  sebagai tim medis mas. Kemudian kami menyerahkan bantuan dan terakhir dokter tersebut mengatakan nanti kalau ada apa-apa bisa langsung kontak saya saja ya mas.

“Siap pak,” timpal kami lalu pamitlah kami untuk menuju parkiran tempat motor kami parkirkan.

Setelah kami balik dari RS tersebut kemudian kami melanjutkan perjalanan ke brintik untuk membagikan handsanitizer kepada warga, tidak banyak memang, tapi mudah-mudahan itu bermanfaat setidaknya untuk memberikan pencegahan dan yang paling penting adalah dalam pemberian tersebut terdapat upaya edukatif untuk bersama-sama menjaga kebersihan seperti pesan dokter diatas.

Dari cerita dokter diatas kemudian penulis berefleksi bahwa memang benar untuk hari-hari ini sebaiknya kita memang perlu memproteksi diri kita sendiri-sendiri dengan mengisolasi diri untuk sebisa mungkin tidak bertemu dengan banyak orang, menjaga kebersihan dan perilaku hidup sehat lainya.

Cara membantu tenaga medis yang saat ini sudah kuwalahan, selain itu hal ini efeknya juga untuk diri kita sendiri, jika anda benar-benar menyayangi diri anda, keluarga anda dan semuanya, maka berperilaku seperti anjuran dokter tersebut wajib untuk dilakukan sampai benar-benar bangsa dan dunia ini selesai menghadapi wabah ini.

Lebih-lebih bagi yang sudah masuk zona merah maupun kuning. dan bagi yang daerahnya masih hijau dalam arti hanya terdapat ODP dan jumlahnya sedikit tentu jangan menganggap remeh, karena belum tentu sepenuhnya daerah tersebut benar-benar aman dan tidak terdapat orang yang berpotensi terkena covid 19, hal ini berdasarkan pada peristiwa sore tadi ada pasien yang berasal dari daerah yang ODPnya rendah sekarang menjadi PDP.

Semua wilayah berpotensi terserang virus ini, dan  menjadi kekhawatiran tersendiri jika wabah ini pada akhirnya masuk ke wilayah yang minim fasilitas kesehatan sebagai rujukan covid 19 tentu akan kesulitan jika nanti diwilayah tersebut ada yang terpapar. maka kuncinya jangan sampai meremehkan, tetap ikhtiar, jangan panik dan dirumah saja jika tidak ada keperluan yang benar-benar penting untuk dilakukan.

Penulis: Ahmad Sajidin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.