Sembilan Pesan KH Ahmad Bagja Kepada Generasi Muda NU

0
224
kredit foto : NU Online

Oleh : Shofiyul Burhan (Mantan Ketua PMII Rayon Syariah Komisariat Walisongo Semarang)

KH. Ahmad Bagja, tokoh ulama dan aktivis NU yang pernah menjadi salah satu kandidat ketua PBNU pada muktamar NU ke 32 di Makasaar. Ia lahir di Kuningan 1945, tepat ditahun Indonesia merdeka.

Sosok teladan kader Nahdliyin yang tidak diragukan loyalitas dan militansinya di rumah besar Nahdlatul Ulama’. Semasa muda, beliau sudah mendedikasikan dirinya berkecimpung aktif di kaderisasi NU, mulai dari IPNU sampai menjadi anggota pergerakan mahasiswa islam Indonesia(PMII) semasa menjadi mahasiswa.

Ia tercatat dalam sejarah sebagai mantan ketua PB PMII periode 1977-1981 yang ke 4, yang sebelumnya diketuai oleh Mahbub Junaidi, Ahmad Zamroni, Abdullah Paddare.

Pengabdian beliau di NU tidak berhenti di kaderisasi PMII saja, Ia juga tercatat pernah menjadi wasekjen PBNU 1984-1989 dan 1991-1994, dan sekjen di periode kepengurusan Gus Dur yang kedua. Kiprahnya saat itu bisa dibilang sebagai tokoh yang berani dan kritis, menjadi sosial kontrol kebijakan pemerintah yang otoriter.

Prosesnya yang lama bergelut di Nahdlatul Ulama’ menjadikan Ia tahu betul perkembangan, dan kekurangan organisasi satu ini. Dari sisi anggotanya, konsep strategi gerakannya, maupun sisi manajerialnya.

Tak jarang disetiap pertemuan-pertemuan beliau saat menjadi Narasumber diberbagai forum, selalu menyampaikan manuver-manuver kritis tentang NU, tak lain hanyalah ingin membesarkan NU menjadi organisasi yang bermartabat.

Diantara beberapa pesan beliau, yang bisa dijadikan sebagai falsafah hidup, baik di lingkungan Nahdliyin maupun secara umum sebagai warga negara Indonesia adalah:

1. Kebebasan berpendapat dan menyampaikan informasi zaman sekarang sering kali dimanfaatkan oleh oknum yang berkepentingan memecah belah bangsa, maka yang harus dilakukan adalah mengkonfirmasi atas informasi hoaks.

Baca Juga  LESBUMI dan Pagar Nusa Meriahkan Konferwil XV NU Jawa Tengah

Sekarang ini banyak orang yang pintar namun tidak punya hati, sedikit sekali orang pintar yang jujur, yang banyak adalah sebaliknya. Yang perlu dilakukan adalah berdzikir untuk membangun nurani, hati, dan jiwa.

2. NU jangan sampai mengemis jabatan, dan memang seharusnya NU tidak mengemis-ngemis jabatan. Republik ini dibangun dengan derah kyai, dan ulama, tidak sepatutnya NU ngemis jabatan, akan tetapi memiliki bangsa ini.

Pernyataan ini beliau sampaikan untuk menegur keras oknum-oknum yang menjadikan NU sebagai tunggangan/kepentingan politik praktis, sebagai jembatan untuk memperoleh jabatan. Beliau juga mengingatkan pentingnya NU kembali berkhittah, sebagai organisasi sosial keagamaan, bukan sebagai organisasi politik praktis.

3. Pentingnya warga Nahdliyin untuk tidak mempolitisasi organisasi, karna ini adalah penyakit, apabila tidak segera di basmi makan dikhawatirkan akan menjalar sampai ke akar rumput.

4. Organisasi NU harus Besar lewat kaderisasi generasi pemuda NU, termasuk di PMII, karna PMII adalah organisasi kederisasi utama dan paling Utama di NU.

5. Bersyukurlah ketika berorganisasi di NU, karna didalamnya begitu banyak hal-hal yang sangat positif. Jadilah kader NU yang berusaha untuk baik, dan berupaya menjadikan NU lebih baik.

6. Jika menginginkan NU besar, maka jangan sampai memikirkan sisi kurang baik dari NU, akan tetapi pikirkanlah kebaikan-kebaikan yang ada pada NU.

7. Sebagai kader NU harus mempunyai mimpi yang besar, agar masalah-masalah yang dihadapai akan terasa kecil, sebaliknya, apabila mempunyai mimpi yang kecil, maka masalah sekecilpun akan kelihatan besar.

8. Kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Totalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik.

Baca Juga  Kaca Mata

9.Jadikan Ikatan Pelajar (IPNU), Ikatan Pelajar Putri (IPPNU), PMII, dan GP Ansor sebagai proses kaderisasi NU untuk mendidik diri.

Itulah sembilan pesan yang di titipkan beliau untuk generasi NU, yang termuat dari beberapa ceramah-ceramah beliau saat mengisi forum seminar.

Ibarat gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan hal-hal baik yang pernah dilakukan semasa hidup, begitulah ungkapan yang tepat untuk beliau.

Beliau meninggal dunia tepat hari kamis tanggal 02 februari jam 01.05 WIB di RS medical center Jakarta, dan dimakamkan di Cirebon. Jasad beliau memang telah meninggalkan warga Nahdliyin, namun jasa-jasanya, pesan-pesanya akan selalu melekat dihati setiap generasi-generasi NU.