PenTul

0
1588
kredit foto : Istimewa
Iklan

Oleh : Mukti Ali Qusyairi (Alumni Pesantren Lirboyo Kediri dan Ketua LBM PWNU DKI Jakarta)

nujateng.com Di antara tradisi belajar atau metode belajar di Pesantren salaf-tradisional Lirboyo–dan mungkin juga pesantren yang lain?–adalah menyalin teks kitab dengan menggunakan tulisan tangan para santri masing-masing dan membubuhi makna berbaris utawi-iki-iku. Saya pun menyalinnya ketika mesantren.

Teks-teks kitab yang disalin kebanyakan dalam kategori kitab-kitab ilmu piranti (alat) nahwu-sharaf seperti Jurumiyah, Qawa’id al-Sharfiyah, al-‘Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, kitab ilmu mantik (logika) seperti kitab Sulam al-Munawaraq, kitab ushul fikih seperti kitab Tashil at-Thuruqat, ilmu hadits seperti Nadzham al-Baiquniyah.

Ketika saya pulang kampung, saya mencari di 5 almari dari 12 almari yang semuanya berisi kitab dan buku, saya baru berhasil mendapatkan beberapa salinan kitab dengan tulisan tangan saya sendiri. Di antaranya yaitu kitab at-Tashil at-Turuqat, sebuah kitab yang menjelaskan ilmu ushul fikih; kitab Sulam al-Munawaraq, sebuah kitab yang menjelaskan tentang ilmu mantiq (logika); kitab al-‘Arudl, sebuah kitab yang menjelaskan rumus pembuatan syair; Nadham al-Baiquniyah, sebuah kitab yang menjelaskan ilmu hadits. Sedangkan kitab-kitab ilmu nahwu-sharaf belum saya temukan. Semoga masih tersimpan di 7 almari lain yang belum sempat saya buka. Keburu balik lagi ke Jakarta.

PenTul

Penulisan kitab ini dengan menggunakan tinta China dicampur dengan ares (batang pohon pisang bagian dalam berwarna putih susu setelah dikelupas lapisan-lapisan batangnya) yang sudah dikeringkan dan urai seperti benang. Kenapa disebut tinta China? Sebab dalam bungkusnya terdapat tulisan China.

Tinta China, seingat saya, sebelum tahun 95, tinta China masih dalam bentuk batangan. Kita sendiri yang mencairkan dengan digosok-gosokan di piring ssmbari diberi air secukupnya agar tinta batangan bisa lumer membaur bersama air. Pasca 95, sudah dijual versi tinta cairnya. Sehingga ada 2 pilihan, versi batangan dan versi cair. Meski batangan lebih murah.

Tinta dan ares dimasukan ke dalam box tinta terbuat dari kuningan segenggam atau sekepalan tangan. Dan penanya disebut PenTul yang kepalanya terbuat dari besi dalam bentuk miring yang dimasukan ke gagang terbuat dari kayu yang ringan dan kalau digunakan dengan cara dicelupkan ke dalam box tinta tersebut. Setelah dicelupkan, baru digoreskan ke atas kertas buku. Hasil goresannya bisa kita lihat bersama dalam foto ini.

Satu box tinta bisa digunakan untuk menulis ratusan halaman–tepatnya berapa ratus halaman sudah lupa. Sehingga, satu box tinta bisa digunakan 6 bulanan. Jadi setahun cukup dengan dua kali isi ulang saja. Tapi jika teks kitabnya banyak yang harus ditulis, kadang mencapai 3 box tinta lebih dalam setahun.

Kenapa disebut “Pentul”? Sebab praktiknya pulpen itu digunakan dengan mencelupkan ujung kepalanya dengan satu colekan ke dalam tinta yang ada di box sedikit dan cepat yang disebut dalam bahasa Jawa, ditutul atau ditul. Sa’tul, nuli sa’tul. Satu celupan-colekan dan digoreskan di atas kertas, lalu satu celupan-colekan dan digoreskan di atas kertas, dan seterusnya.

Rotring
Jika PenTul sebagai salah satu alat tulis yang sangat ekonomis tapi menghasilkan goresan yang jelas, punya daya tahan yang kuat, dan bernilai seni–tentu saja soal seni cukup relativ tergantung kualitas keindahan khotnya seseorang dan siapa yang menilai. Maka, di tradisi santri Lirboyo masa saya mesantren, banyak yang lebih suka menggunakan Pulpen Rotring sebagai alat tulis memaknai.

Jadi, matan (teks dasar) ditulis dengan PenTul. Sedangkan makna kata perkata atau arti berbaris plus tarkib (kedudukan kalimat dan tanda baca) ditulis dengan Pulpen Rotring.

Syahdan, Pulpen Rotring umumnya digunakan oleh seorang arsitektur. Karenanya harganya tinggi. Dulu, seingat saya, Pulpen Rotring mencapai harga satu kali wesel (kiriman bekal bulanan ortu untuk santri), yaitu 40rb di saat pulpen-pulpen lain masih kisaran 100 atau 200 rupiah. Sekarang mencapai harga 200rb.

Biasanya Rotring dibeli di awal tahun, ketika masih ada perbekalan yang agak sedikit lumayan. Tapi biasanya santri baru belum tahu Rotring, sehingga menggunakan pulpen biasa. Setelah melihat seniornya banyak yang menggunakan Rotring, akhirnya ikut.

Kenapa Pulpen Rotring? Seingat saya, alasannya karena kepala Rotring sangat kecil yang di dalamnya terdapat jarum kecil bagaikan rambut, sehingga menghasilkan goretan yang kecil, cocok untuk menulis makna, tidak memakan ruang yang lebar, dan memiliki kekuatan tinta yang luar biasa.

Rotring memiliki badan yang di dalamnya terdapat penampungan tinta yang bisa isi ulang jika habis. Ketika tinta habis, penampungan tinta diisi ulang sambil membasuh Rotring secara utuh khususnya bagian kepala tempat untuk menggores di atas kertas.

Sebab jarum kepala yang senantiasa berinteraksi dengan kertas, sehingga kadang serpihan kertas ikut terbawa ke batang kepalanya yang berpotensi penyumbatan dan akselerasi tinta sedikit terganggu. Setelah dibasuh, kembali lancar.

Tentu saja tidak semua santri menggunakan Rotring. Sebagian menggunakan pulpen biasa, dan bahkan sebagian yang lain menggunakan PenTul baik untuk menulis matan maupun menulis makna. Saya sendiri kadang menggunakan pulpen biasa ketika Rotringnya sedang sedikit rewel, tidak lancar, tersendat akibat lama tak dicuci. Dan tahun pertama di Pesantren, saya pun menggunakan pulpen biasa.

Khot

Bentuk penulisan atau khot terjadi dinamika. Saya melihat khot waktu saya di kelas Ibtidaiyah, jauh berbeda dengan khot saya di kelas Tsanawiyah. Tentu saja setiap kita banyak latihan, nulis terus menerus, mumarasah, maka kualitas khot kita mengalami kemajuan. Sebaliknya, jika kita lama tidak menggunakannya, lama tak menulis, maka kualitas khot kita menurun.

Nah, teks dalam foto ini adalah khot saya di kelas Tsanawiyah MDHM Lirboyo, tertulis tahun 96. Genap berusia 24 tahun.

Nembel

Di Lirboyo ada keharusan setiap tulisan dan makna harus kumplit, tidak boleh ada yang kosong. Perenambulan menjelang ujian semester ganjil dan genap ada pemeriksaan tulisan dan makna. Sehingga menjelang pemeriksaan, para santri sibuk menambal makna dan tulisan yang kosong. Diistilahkan dengan “nembel”. Jika tidak ada yang kosong sama sekali disebut “tam”.

Jika musim nembel tiba, para santri riuh menembel bersama teman-temannya. Ada yang memilih nembel di serambi masjid, di maqbarah (kuburan) masyayih, di bilik, di gedung kelas yang kosong, bahkan juga di bancik dan di warung serta di pematang sawah.

Jika nembel makna, biasanya ada teman yang membantu membacakan dan yang lain menuliskan makna di kitabnya sendiri, dan bergantian. Dilarang ditembelkan dengan tulisan orang lain. Harus menbel dengan tulisan asli miliknya sendiri. Orang lain/teman hanya bisa membantu membacakan makna saja ketika nembel.

Biasanya juga ada yang nembel berjamaah, berkerumun, sambil ngopi bareng atau ngeteh bareng. Teh atau kopinya ditaruh di gayung. Ada juga sambil menghisap rokok. Masing-masing membawa box tinta sendiri-sendiri. Tapi jika ada yang kehabisan tinta, bisa menutul ke box tinta milik temannya.

Hawamisy

Saya suka mencatat keterangan-keterangan penting yang dikutip dari kitab-kitab lain yang ditulis di samping atas-bawah matan atau samping kanan-kiri matan, sebuah keterangan pendukung dan memperkaya wawasan yang terdapat di dalam teks matan. Atau mecatat keterangan kiyai kami. Atau menulis bagan penjelasan agar mudah untuk memahami teks. Atau terkadang doa-doa dan nasihat baik. Catatan pinggir ini disebut oleh kitab kuning dengan nama hawamisy.

Hawamisy ini terkadang saya tulis dalam bentuk teks Arab, dan terkadang dalam bentuk latin.

Seingat saya, catatan hawamisy yang paling banyak dan gondrong ada di salinan kitab Alfiyah Ibnu Malik–sayang belum ketemu. Sebab jika ada keterangan penting, selalu saya catat di pinggir matan. Keterangan penting itu saya kutip dari kitab kitab-kitab Nahwu, yaitu Ibnu ‘Aqil, Hasyiyah Subban, Ibnu Hamdun, Hudhariy, Yasin al-Fakihiy, Al-Kafiyah fi an-Nahwu, al-Kitab, Jami’ ad-Durus, dan yang lainnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.