Nasionalisme dan Perlawanan Kultural ala Kiai Sholeh Darat

0
770

Judul               : Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara
Penulis            : Taufiq Hakim
Penerbit           : Institute of Nation Development Studies
Cetakan           : Pertama, Tahun 2016
Tebal               : 242 Halaman
ISBN               : 978-602-74816-8-8
Peresensi        : Ahmad Sajidin

nujateng.com Semarang yang dikenal sebagai kota sejarah telah mencatatkan diri dalam menyumbangkan tokoh-tokoh nasional bangsa, mulai dari Dr Kariadi, yang kemudian menjadi nama Rumah Sakit di Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ yang kemudian mendirikan kampus ministri UNIKA Semarang dan beberapa tokoh-tokoh lain yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Dalam perjuangan tersebut tidak memperdulikan aspek agama, akan tetapi berangkat dari rasa keterjajahan yang panjang sehingga seluruh elemen yang berasal dari agamanya masing-masing bersatu melawan setiap penjajahan yang ada di Nusantara.

Mengenal sejarah nasionalisme para tokoh bangsa, khususnya di kota Semarang rasanya kurang lengkap jika belum mengenal sosok Kiai Sholeh Darat dengan tanpa mengesampingkan peran tokoh-tokoh yang lain tentunya. Hal ini penting untuk diketahui generasi sekarang agar nilai dan perjuangan beliau-beliau bisa dilestarikan.

Kiai Soleh Darat mempunyai nama lengkap KH. Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani, beliau merupakan putera dari Kiai Umar yang merupakan ulama pejuang kemerdekaan penasehat Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa.

Nama asli kiai Sholeh Darat adalah Muhammad Sholeh sesuai dengan pemberian kedua orang tuanya, akan tetapi setiap beliau menulis kitab namanya ditulis sebagai Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani. (hlm. 440

Menurut John Locke sebagai pencetus teori empirisme menganggap bahwa sumber pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi. Jika hal yang diutarakan John Locke ini kita korelasikan dengan  bacaan yang ada di buku ini mungkin pendapat John Locke ini menemukan relevansinya, dalam perjalanan hidup kiai Sholeh Darat sebagian besar jiwa nasionalisme dan spirit ilmu pengetahuannya terbentuk dari lingkungan dimana ia tumbuh dan berkembang.

Yang tentunya juga didapatkan dari pengalaman secara indrawi karena beliau lahir di era pergolakan nusantara dibawah jajahan VOC yang menimbulkan pecahnya perang Jawa diberbagai wilayah Nusantara kala itu. (hlm. 36-51)

Berbicara tentang nasionalisme biasanya berawal dari sikap seseorang untuk mempertahankan wilayah yang ditempatinya –yang disebut negara—untuk tetap berdaulat, adil dan makmur, maka penyebab dari adanya sikap nasionalisme tentu berawal dari adanya sekelompok orang yang menjajah wilayah negara yang menyebabkan ketidakadilan, kesengsaraan dan ketertindasan.

Saat kepulanganya dari Makkah ke Mlayu Darat, Semarang kondisi saat itu negara pemerintahan kolonial mengalami kekuatan yang meningkat, dan sebaliknya kondisi masyarakat mengalami situasi keterjajahan yang semakin memprihatinkan, hal ini terjadi sepanjang abad ke-19  dan mencapai puncaknya pada seperempat akhir ke 19 ketika berlangsung proses birokratisasi pemerintah Hindia Belanda/Indonesia. (hlm. 74)

Pada saat itu negara tidak sedang mengalami keterjajahan secara revolusioner sehingga harus berperang angkat senjata, melainkan proses keterjajahanya sudah sistematis lewat peraturan negara kolonial yang dibuat oleh Belanda. Maka mulailah perlawanan yang dilakukan oleh Kiai Sholeh Darat untuk membebaskan bangsanya dari keterjajahan dengan cara mempertajam pemikiran dan pengetahuan generasi bangsa tentang agama Islam dan Nasionalisme melalui lembaga pendidikan yang bernama Pesantren Darat. (hlm. 78)

Pesantren ini merupakan pesantren tingkat lanjut “pascasarjana” sehingga santri-santri yang belajar disana sudah belajar tentang agama Islam sebelumnya. Diantara para santri Kiai Sholeh Darat ialah: Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Mahfudz Tremas, KH. Dahlan Tremas, KH. Amir Pekalongan, KH. Idris Solo, KH. Umar Solo, KH. Sya’ban Semarang, KH. Abdul Hamid Kendal, KH. Tohir Mangkang, KH. Sahal Kauman Semarang, KH. Dimyati Tremas, KH. Siraj Rembang, KH. Munawwir krapyak Jogja, KH. Dalhar Muntilan, KH. Mudzakir Sayung Demak, KH. Ihsan Jampes. Dan kiai-kiai lainya yang tersebar diseluruh Jawa. (hlm. 81)

Selain menjadi pusat kaderisasi ulama, pesantren ini juga menjadi tempat penggemblengan para pejuang NKRI. Tidak heran jika di pesantren ini selalu diawasi Belanda. (hlm.2).

Kala itu strategi yang dipakai oleh Kiai Sholeh darat dalam menggembleng santri-santrinya yang kelak menjadi pimpinan pergerakan revosulioner era kemerdekaan adalah dengan menggunakan pendekatan tasawuf, menurut beliau hal ini harus ditanamkan karena sebelum masyarakat menghendaki kemerdekaan secara fisik dari penjajah, terlebih dulu yang dilakukan adalah memerdekaan rohaninya. (hlm. 103)

Kemudian langkah perlawanan secara kultural dalam bidang pedidikan santri tersebut dapat dijumpai dari berbagai karya beliau yang dijelaskan mulai bab 2 sampai bab 3 dalam buku tersebut yang mengajari Nasionalisme dalam bungkus agama misalnya seperti: haram hukumnya menyerupai penjajah, strategi arab pegon untuk mengarang kitab dan mengajarakan agama Islam supaya mudah difahami dan tak lupa pula untuk menyelipkan nilai-nilai nasionalisme yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam, hal ini dilakukan agar Belanda dapat dikelabuhi karena pada waktu itu tidak boleh menerjemahkan teks-teks Arab kedalam bahasa Jawa.  

Strategi Kiai Sholeh darat ini sangatlah rasional mengingat diera tersebut masyarakat Jawa masih sangat terbelakang secara ilmu pengetahuan, maka ketika pilihanya angkat senjata sama saja dengan bunuh diri.

  Di era ini merupakan era penyadaran nasionalisme atau era ideologisasi, kemudian praktiknynya adalah ketika murid beliau seperti mbah Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad.

Demikianlah Kiai Sholeh Darat dalam mengajarkan nasionalisme serta perlawanan kultural terhadap proses kolonialisme penjajah yang kaya akan tradisi keilmuan yang memadukan keagamaan dengan kebangsaan.

Buku ini menjadi penting untuk kita dalam memahami nasionalisme itu secara substansi, yaitu tidak hanya sekedar anti asing, akan tetapi lebih kepada sikap melawan terhadap segala bentuk penjajahan baik pelakukanya asing ataupun oligarki yang ada dinegeri sendiri.

 Kemudian karena jauhnya kapasitas penulis resensi dari kata layak apalgi ahli, disini penulis hanya menyampaikan dalam hal kepenulisan terdapat percetakan yang ngeblur pada halaman 157 sehingga ini merupakan kekurangan buku tersebut. Selain itu terdapat beberapa keterangan yang perlu divalidasi lebih lanjut tentang kebenaran dan pendalaman sejarah atas peristiwa-peristiwa yang berlangsung di era Kiai Sholeh Darat Tersebut. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.