Mutiara Falak NU Telah Tiada

0
901
Kredit foto : NU

Oleh : Shofiyul Burhan (Alumnus MA MGS Sarang-Rembang)

Wafatnya ulama’ adalah matinya alam semesta, begitulah kiranya ungkapan yang sering dengar oleh kaum muslimin. Ulama’ adalah satu-satunya manusia yang mendapatkan predikat kehormatan dari Nabi Muhammad sebagai “warasatul anbiya'” pewaris risalah kenabian, yang berperan khusus meneladani sikap para nabi sebagai manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan agama dan mengimplementasikanya dalam peragai teladan bagi umat manusia. Sosok pengayom, bijaksana, dan memandang manusia dengan pandangan kasih sayang adalah ciri khas yang melekat dalam pribadi seorang ulama.

Ulama sebagai pewaris Nabi mempunyai peran masing-masing dalam mensyiarkan risalah kenabian, mereka cenderung menekuni keahlian yang sesuai dengan bidangnya. Adakalanya ulama yang lebih condong mensyiarkan Islam lewat sastra, musik, dan budaya, ada juga yang mensyiarkan Islam lewat satu kajian keilmuan agama yang jarang sekali di bidangi oleh kyai pada umumnya seperti ilmu fara’id, ilmu yang membahas tentang pembagian harta waris, atau ilmu Falak.

Kajian metodologis yang merupakan bagian dari ilmu astronomi yang konsen menentukan awal dan akhir bulan qomariyah lewat pendekatan ilmu hisab dan ilmu rukyat.

KH. Ghozali Masrurie dan KH. bukhori Masrurie tepatnya yang bisa menggambarkan sekian dari jumlah ulama’ yang mensyiarkan wawasan keislaman dengan khazanah keilmuan yang berbeda. Keduanya adalah putra dari KH. Masrurie.

Sosok kiai desa kharismatik di Kota Purwodadi Kabupaten Grobogan, yang masih mempunyai jalur keturunan darah biru dari Ki Ageng Selo cucu dari Bondan Kejawan/arya lembu peteng putra brawijaya V yang menikah dengan Dewi Nawangsih Putri Jaka Tarub. Sebagaimana yang diceritakan dalam kitab ahlal mutsamarah karya Syeikh Abu Fadhol.

Darah seorang pejuang penyebar Islam dari tanah Jawa mengalir deras kedalam tubuh kedua sosok kiai ini. Geneologi darah biru menjadi salah satu faktor yang membentuk keduanya menjadi sosok kiai teladan, menjadi pentolanya jamiyyah Nahdlatul Ulama’. Sepertinya, teori hereditas/gen pemimpin menjadi kebenaran faktual kedalam darah dua kyai ini.

KH. Bukhori Masrurie adalah adik dari KH. ghozali masrurie. Ia terkenal kyai nyentrik dengan pidato khasnya yang menjadi daya pikat warga Nahdliyin berbondong bondong mendengarkan ceramah-ceramahnya.

Dengan gaya ceramah ilmiyah dibumbui dengan goyon ala kyai NU menjadikan suasana forum pengajian mencair. Sesekali beliau juga menyanyikan lagu ciptanya “perdamaian” lagu legendaris di tahun 80an, yang disenandungkan oleh group kasidah Nasida Ria Semarang.

Disamping terkenal sebagai macan podium, Kyai Bukhori juga terlibat aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama’. Bahkan pada tahun 1985-1995 kurang lebih selama sepuluh tahun Ia mengabdikan dirinya sebagai ketua PWNU Jawa tengah, yang saat itu ketua syuriahnya adalah KH Sahal Mahfudz Kajen Pati dan dilanjutkan oleh KH. Maimoen Sarang Rembang. Kiprahnya juga dikenal di institusi kementrian Agama sebagai tim tafsir departemen agama selama beliau menjabat sebagai ketua PWNU Jawa Tengah.

Jejak keilmuan KH. bukhori Masrurie tersambung dengan sanad keilmuan sesepuh NU, tercatat dalam biografinya bahwa beliau pernah mesantren di pondok pesantren Sarang Rembang di bawah asuhan KH. Ahmad bin Syu’aib yang tak lain adalah santri KH. Hasyim Asy’ari.

Selanjutnya beliau juga mondok di Krapyak dibawah asuhan KH. Ali Maksum putra Mbah Maksum Lasem, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Alasan demikian yang mungkin membentuk sikap beliau loyal dan militas di NU sampai akhir hayatnya, faktanya pasca keluar dari struktur NU, beliau masih aktif “ngopeni” NU dari jalur kultural.

Diujung pertengahan bulan Mei tepatnya tanggal 17 tahun 2018 beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah sakit Unisula Semarang, jasadnya disemayamkan di Makam Sasonoloyo, Sambiroto Semarang. Semua tinggal kenangan, jasanya akan selalu dikenang oleh seluruh santri yang beliau tinggalkan, termasuk warga Nahdliyin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.