Moderasi Beragama dalam Pendekatan Tafsir al-Quran (Bag-2)

0
314

Oleh : Shofiyul Burhan (Founder TLC)

nujateng.com Kota Yatsrib menjadi tujuan utama Nabi hijrah dari Makkah, setelah kedua belas orang dari Suku Aus dan Khazraj menyatakan masuk Islam.

Isu datangnya Nabi terakhir menjadi isu utama di kota tersebut, satu sisi mereka meyakini mitologi Yahudi yang diceritakan dalam kitab Taurat mereka kalau Nabi Muhammad karakteristiknya sama dengan apa yang disampaikan taurat. Kedua mereka membutuhkan juru damai yang mampu mendamaikan antar suku yang bertikai saat itu.

Setelah perintah Allah turun, menyuruh Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah sebagaimana terekam dalam al-Qur’an surat An Nisa 97. Tepat bulan juli 622 M Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib beserta para kaum Muhajirin.

Yatsrib menjadi wilayah yang istimewa sebagai tempat hijrah, sebab penduduknya sudah banyak mengenal tentang karakteristik Nabi Muhammad, Kedua sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Quraish Shihab dalam bukunya “Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih” bahwa suku Aus dan Khazraj terkenal sebagai tipikal masyarakat yang ramah.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW sejak awal sebelum hijrah sudah membangun kedekatan emosional dengan penduduk Yatsrib lewat perdagangan yang pernah beliau lakukan semasa muda, disamping itu, suku Najjar salah satu suku yang tinggal di Yatsrib tidak lain adalah kerabat beliau dari klan Abdul Muthollib.

Setelah memahami kondisi budaya, sosial, agama masyarakat Yatsrib. Wawasan pembaca akan terbuka bagaimana Yatsrib yang awalnya adalah daerah konflik, kemudian menjadi daerah yang nyaman, damai setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW hijrah. Yatsrib berubah menjadi kota dengan nama Madinah, sebagai perwujudan dari kota yang madani/civil society, masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. (Qodri Azizy, 2004).

Baca Juga  Tafsir Delima Cinta

Kesuksesan Nabi Muhammad membangun kota Madinah karena beliau mengenalkan Islam dengan cara yang ramah, adaptif dengan budaya setempat. Contoh demikian bisa dilihat dari cara Nabi memasukkan ajaran islam kedalam rutinitas keagamaan mereka secara gradual, tidak dengan cara revolusi yang menekan.

Merubah ritualitas yang bersifat simbol keagamaan beliau kompromikan. Merubah kiblat “القبلة” sebagai bagian dari simbol keagamaan akan menjadi masalah sensitif apabila tidak disikapi dengan kebijaksanaan.

Mayoritas suku yang ditinggal di kota Madinah beragama Yahudi, dan Nasrani. Kiblat mereka saat menjalankan ritualitas keagamaan menghadap arah Baitul Maqdis, tempat suci yang dibangun pertama kali oleh Nabi Sulaiman (Salomo) putra Dawud (Daud) pada tahun 957 SM. Menurut kepercayaan orang yahudi dan nasrani tempat inilah yang dijadikan Ibrahim menyembelih putranya, Ishak moyang dari Israel.

Baitul maqdis atau masjidil aqsha menurut pandangan Yahudi dan Nasrani adalah tempat yang disucikan, sebagai identitas keagamaan yang tidak dapat tergantikan dengan tempat manapun.

Islam datang dari makkah ke Madinah sebagai agama baru, agama yang menjadi lanjutan agama-agama samawi yang datang lebih dahulu. Ajaran-ajaran Islam diwilayah ritualitas berbeda dengan ajaran Yahudi dan Nasrani. Sholat, puasa sebetulnya sudah menjadi ritualitas Yahudi Nasrani namun caranya berbeda dengan ajaran Islam.

Ritualitas solat bagi orang-orang muslim sudah diwajibkan satu tahun setengah sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Syarat, rukun sholat, dan hal yang berkaitan dengan sholat dijelaskan secara berangsur setelahnya( Tafsir Ibnu Katsir ). ka’bah tempat suci yang dibangun Nabi Ibrahim dan putranya Ismail menjadi kiblat solat orang-orang muslim, menjadi bagian dari rukun sholat, sama hanya Masjid al-Aqsha yang menjadi kiblatnya orang-orang Yahudi