Mitsuo Nakamura, Peneliti Asing Pertama di Muktamar NU (Bagian Kedua)

0
268
Kredit foto : Jongkie Tio, Kota Semarang dalam Kenangan

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

Mitsuo Nakamarua datang ke Semarang tidak hanya dengan membawa informasi yang terbatas tentang Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga bias. Ia bersentuhan dengan NU pada 1970-1972 ketika melakukan penelitian di Kotagede, Yogyakarta.

Kala itu, ia tengah melakukan riset tentang Muhammadiyah yang beberapa bagiannya kemudian dipublikasikan dalam “The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, c.1910s-2010.” Buku itu, setahu saya, terus diperbaharui oleh Nakamura. Seperti halnya “A Modern History of Indonesia” karya MC Ricklefs yang pada 10 atau 20 tahun setelah terbitan pertama, menambah bab baru.

Kita tahu, pertumbuhan NU di kota tersebut, kala itu, masih belum pesat. Dominasi atas atmosfer keagamaan di Yogyakarta pada umumnya, masih kuat ada dalam pengaruh Muhammadiyah yang tercirikan sebagai organisasi modern yang reformis. Nakamura, tak berkeberatan dengan tesis para peneliti Barat, seperti Harry J. Benda dan Clifford Geertz, tentang NU.

Atas dasar amatan peneliti-peneliti itu, NU adalah “organisasi tua dan kuno di daerah pedesaan, yang secara keagamaan tradisional, secara intelektual sederhana, secara politik oportunis dan secara kultural sinkretis,” kata Nakamura dalam “The Radical Traditionalism of the Nahdlatul Ulama in Indonesia”.

Tapi, pasca 1970-an ia melihat gelagat yang lain. Ilhamnya datang dari penelitiannya Ken Ward di Jawa Timur, “The 1971 Election in Indonesia: An East Java Case Study.” Menurut Ward, seperti disitir Nakamura, NU hadir sebagai penjaga kelompok sosial yang independen, sekaligus pengkritik konsisten terhadap Orde Baru ketika itu.

Utamanya dalam kebijakan pembangunan. Di Jawa Timur, Ward tidak hanya mencermati pertarungan politik pada Pemilu 1971 yang merupakan area dimana Golkar berhadapan dengan NU, tetapi ia turut memberikan pencermatan terhadap pandangan dunia pimpinan NU disana.

Baca Juga  Tuhan Alam dan Tuhan Budaya

Isu inilah yang kemudian dibicarakan serius di Muktamar NU Semarang. H. Cholid Mawardi, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan ini, setahun sebelum muktamar digelar.

Nama Abdurrahman Wahid dan Mahbub Junaidi tampil sebagai aktivis muda yang diperhitungkan. Mereka mewarnai diskusi pada Muktamar Semarang. Keduanya adalah kolumnis yang sangat produktif. Tulisan-tulisannya mewarnai koran dan majalah yang memiliki jangkauan distribusi cukup luas, seperti Kompas dan Tempo.

Meski begitu sangat keras mengkritik pemerintah di satu sisi, tapi Nakamura tidak melihat ada pergeseran dari sisi keagamaan. NU tetap tradisional, mengembangkan pesantren di pedesaan, dimana agama dan pengajaran agama dipraktekkan dan ditularkan dari generasi ke generasi. Radikal secara politik dan tradisional secara beragama, pikir Nakamura, adalah paradoks.

Tapi, Muktamar Semarang, mengubah atau lebih tepatnya memberi legitimasi atas apa yang menurutnya paradoks itu. Awalnya, ia mengira bahwa yang radikal akan tidak akan bisa bersanding dengan yang tradisional.

Yang terjadi, NU menjadi radikal dalam politik meskipun beragama secara tradisional, tetapi, radikalisme politik betul-betul terjadi karena tradisionalisme keagamaannya (that it is becoming politically radical precisely because of its religious traditionalism).

***

Muktamar Semarang dilaksanakan di GOR Simpang Lima, dimana 4500 orang berkumpul disana. Mereka adalah delegasi dari 343 Cabang NU di seluruh Indonesia kecuali Timor Timur.

Mereka menginap di hotel atau losmen sederhana di sekitaran tempat kegiatan. Tiap harinya, peserta muktamar diangkut menggunakan microbus yang disewa panitia. Ada dapur umum besar yang didirikan dekat GOR untuk menyiapkan konsumsi muktamirin.

Tulisan ini pertama kali terbit di laman facebook Tedi Kholiludin