Mencari Hotel Arabistan di Semarang (Bagian Ketiga)

0
354

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

nujateng.com Di Museum Nahdlatul Ulama yang terletak di Jalan Gayungsari Timur, Surabaya, gambaran tentang tempat pelaksanaan tiga muktamar Nahdlatul Ulama (1926, 1927 dan 1928) terekam dengan baik. Tidak seluruh prosesinya memang. Tetapi, tentang dimana muktamirin menginap, ada petunjuk yang cukup membantu.

Pada banyak literatur disebutkan, muktamirin menginap di Hotel Muslimin, daerah Peneleh yang masuk kategori wilayah tua di Surabaya. Tiga muktamar awal dilaksanakan di tempat ini. Jejaknya, dalam artian bangunannya, masih ada dan bisa kita saksikan hingga sekarang. Namanya sudah berganti, menjadi Hotel Bali.

Jika peserta menginap di Hotel Muslimin, maka pelaksanaan apel akbarnya sendiri dihelat di Masjid Ampel. Demikianlah bagaimana situasi pelaksanaan muktamar 1926-1927 terpatri dalam ingatan melalui bangunan-bangunan yang menjadi saksinya. Termasuk Hotel Muslimin atau Hotel Bali.

Lain Hotel Muslimin, lain Hotel Arabistan.

Saya berharap, tadinya, akan ada tanda baik ihwal Hotel Arabistan, yang hingga kini, belum juga saya mendapatkan tambahan data. Di Museum NU, ada beberapa foto yang selama ini belum diketahui publik. Juga ada keris, tasbih, pakaian serta jubah milik para kyai. Pun, kitab-kitab lawas dari pelbagai genre ada disana. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU dalam Bahasa Belanda (tahun 1939) serta Bahasa Arab Pegon juga bisa dijumpai.

Foto mengenai situasi Muktamar Semarang 1979 juga dipajang disana. Gambarnya lebih jelas dari foto yang ada dalam tulisannya Mitsuo Nakamura. Naskah asli “Khittah Nahdliyah” yang ditulis oleh KH. Ahmad Siddiq dan dirilis Februari 1979 juga ada disana.

Namun, tidak ada petunjuk mengenai Hotel Arabistan. Tempat menginap peserta muktamar pertama di luar Surabaya itu masih misterius. Museum NU di Surabaya, belum memberikan jawaban

Baca Juga  Menghindari Dikotomi