Kiai Tatang Saputra sebagai Mualim Langgar

0
621
kredit foto : Sholawat Fatih tulisan tangan Mualim Tatang Saputra yang ditulisnya sekitar tahun 1997.

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

nujateng.com Setidaknya, ada dua kategori mualim yang biasa dikenal di masyarakat Kuningan Utara. Pertama, mualim yang kegiatan pokoknya adalah mengisi pengajian di langgar atau tajug serta menjadi imam sholat jum’at. Kedua, mualim yang punya peran sebagai guru agama formal, baik di madrasah sore ataupun di sekolah negeri.

Dari sisi pendidikannya, mualim jenis pertama berlatar pesantren. Sementara, mualim kedua, selain juga belajar ilmu agama, ia juga mengenyam pendidikan formal sebagai calon guru agama, yang pada tahun 1970-an dikenal dengan Sekolah Guru Agama atau SGA.

Mualim Tatang Saputra adalah mualim langgar. Ia merupakan menantu KH. Mas’ud yang lahir pada tahun 1939 di daerah yang sekarang, secara administratif, masuk ke dalam wilayah Kota Banjar. Meski sama-sama Sunda, tetapi dialek serta kebudayaan masyarakat Banjar berbeda dengan Kuningan yang merupakan wilayah yang mendapatkan pengaruh Cirebon dan Mataram. Tradisi ke-kiai-an mungkin tak terlampau familiar disana.

Riwayat pendidikannya, lebih banyak dihabiskan di pesantren. Terakhir, sebelum menikah, ia menimba ilmu di salah satu pesantren daerah Kadugede, Kuningan. Di lembaga pendidikan tertua ini, menjadi jalan baginya untuk bersua dengan jodohnya.

Kebutuhan kesehariannya ditopang oleh aktivitas di sebuah warung kecil di pasar desa. Sisanya, ia memainkan peran sekunder untuk pengajian Kamisan dan menjadi imam utama di langgar. Di “masjid negara” ia juga dijadwal sebagai imam Sholat Jum’at. Bisa dikatakan bahwa aktivitas utamanya adalah langgar, baik sebagai pengisi Kamisan maupun imam sholat lima waktu.

Selain di langgar, ia kerap mendaras kitab-kitab fiqih untuk pemula di rumahnya. Audiensnya, rata-rata anak-anak usia Sekolah Menengah di sekitaran rumah. Biasanya, orang tua dari anak-anak ini meminta kepada Mualim Tatang untuk menambah jam pendidikan agama dengan sesi pelajaran membaca kitab kuning. Anak-anak ini kemudian datang pada sore hari, selepas pulang dari sekolah formal, untuk kemudian mendengarkan Mualim Tatang membaca Safinatun Najah atau Fathul Qorib.

Selain mengajari dasar-dasar pengetahuan agama, Mualim Tatang kerap dimintai pendapat oleh masyarakat dalam hal-hal tertentu. Utamanya yang berkaitan dengan rumah tangga, pekerjaan, kesehatan serta kepentingan lainnya. Bahkan, saat beliau berbaring di rumah sakit sekira tahun 1998-1999, ia masih sempat mengijazahkan salah satu doa untuk kesembuhan pasien yang juga dirawat di kamar yang sama. Atas apa yang dilakukannya, masyarakat lebih mengenal Mualim Tatang sebagai “guru hikmah”.

Dalam sebuah dokumen pendirian sebuah yayasan, Mualim Tatang didaftarkan dengan nama “Kyai Tatang Saputra.” Namun, masyarakat lebih familiar dengan panggilan mualim ketimbang kiai. Seperti yang telah digambarkan, bahwa di pedesaan dimana tidak ada pesantren, ada kecenderungan untuk melembagakan “kiai” terbatas kepada satu orang .

Mualim Tatang hidup satu masa dengan KH. Mas’ud. Bahkan, beliau wafat terlebih dahulu (tahun 1999) daripada mertuanya itu. Artinya, pada kurun waktu antara 1970-2007, yang disebut kiai adalah KH. Mas’ud. Sementara, bagi yang lebih muda, betapapun mungkin memiliki kelebihan secara pengetahuan, masyarakat akan lebih nyaman memanggilnya mualim. Panggilan mualim barangkali bisa disematkan pada banyak orang, tetapi kiai hanya satu saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.