Jejak Langkah Kiai Hasyim Asya’ari (Bag.2)

0
278

Oleh : Mahlail Syakur Sf. (Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)

nujateng.com Kyai Hasyim sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan memang sudah terlihat oleh keluarga. Hasyim kecil kerap tampil sebagai pemimpin dalam komunitas sebaya. Ketika usianya menginjak tahun ketigabelas, Hasyim kecil sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.

Kyai Hasyim belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, K. Utsman, yang juga Pengasuh Pesantren Nggedang Jombang. Pada usia 15 tahun Kyai Hasyim meninggalkan kedua orangtuanya untuk berkelana memperdalam ilmu ke berbagai pesantren lain.

Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang diterimanya, Hasyim remaja itu melanjutkan nyantri di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Syaikhuna K.H. Cholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo di bawah asuhan Kyai Ya’qub. Di pesantren  inilah, Hasyim muda merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan.

Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan ‘alim dalam ilmu agama. setidaknya lima tahun Hasyim muda menyerap ilmu di Pesantren Siwalan ini. Kyai Ya’qub pun kesengsem berat pada pemuda yang cerdas dan ‘alim itu, sehingga Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga isteri.

Ketika itu Kyai Hasyim baru berumur 21 tahun. Beliau dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama isterinya berangkat ke Mekah guna menunaikan ibadah haji pada tahun 1893, dan menetap selama tujuh tahun di sana guna berguru pada beberapa syaikh dari Indonesia dan Arab yang terkenal seperti Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh at-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmatullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

Baca Juga  KH Abdus Salam Alhafidz; Suara Hilang, Tak Lagi Bisa Kumandangkan Adzan

Kemudian Kiai Hasyim kembali ke tanah air setelah isteri dan anaknya meninggal. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar.

Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Silsilah Keilmuannya KH. Hasyim Asy’ari

  • KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
  • KH Cholil Bangkalan
  • Kyai Ya’qub, Sidoarjo
  • Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
  • Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
  • Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
  • Syaikh Ibrahim Arab
  • Syaikh Said Yamani
  • Syaikh Rahmaullah
  • Syaikh Sholeh Bafadlal
  • Sayyid Abbas Al Maliki
  • Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
  • Sayyid Husain Al Habsyi
  • Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
  • Sayyid Abdullah al-Zawawi
  • Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
  • Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
  • Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad

Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tidak sedikit di antara santri Kiai Hasyim yang kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh pada masyarakat luas.

Di antara mereka adalah:

  • K.H. Abdul Wahab Hasbullah (pendiri Pesantren Tambak Beras, Jombang);
  • K.H. Bisri Syansuri (pendiri Pesantren Denanyar, Jombang);
  • K.H. R As’ad Syamsul Arifin;
  • K.H. Wahid Hasyim (puteranya);
  • K.H. Achmad Shiddiq;
  • Syekh Sa’dullah al-Maimani (Mufti di Bombay, India);
  • Syekh Umar Hamdan (ahli hadits di Makkah);
  • Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria);
  • K.H. R Asnawi (Kudus);
  • K.H. Dahlan (Kudus);
  • K.H. Shaleh (Tayu);
Baca Juga  NU CARE LAZISNU adalah “Raksasa” yang Sedang Tidur


Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu: 

  • Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah
  • Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Putra-putri dari Nyai Nafiqoh: 
  • Hannah
  • Khoiriyah
  • Aisyah
  • Azzah
  • Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
  • Abdul Hakim (Abdul Kholik)
  • Abdul Karim
  • Ubaidillah
  • Mashuroh
  • Muhammad Yusuf Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:1. Abdul Qodir
  • Fatimah
  • Khotijah
  • Muhammad Ya’kub