Jejak “Kulliyatul Muballighin” di Kampung Melayu-Semarang (Bagian 3)

0
116
kredit foto : Tedi Kholiludin

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

Bu Ambar, panggilan akrab Jum Ambarwati mengenalkan rumah depan Masjid Layur itu sebagai Asrama. Bersama salah satu puteranya, Muhammad Faisal (kelahiran 1968) mereka berdua saling menambal ingatan tentang bangunan tersebut.

“Kami menyebutnya Asrama, mas” kata Faisal. “Yang tinggal disana, rata-rata, mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri),” imbuh Faisal. “IAIN mana pak?” saya memastikan. “IAIN yang di Ngaliyan itu,” jelasnya.

Mereka kemudian melanjutkan ceritanya tentang asrama tersebut. Seingat mereka, mereka yang tinggal di asrama tersebut, tak berkeberatan untuk menjadi pimpinan administratif di lingkungan sekitar.

“Rata-rata ketua RT-nya ya anak-anak itu. Kalau sudah akan lulus, segera diganti yuniornya,” Faisal mengisahkan.

Atas informasi yang mendekati valid, saya mengucapkan terima kasih. Karena, ada hal yang harus dikerjakan siang itu, saya kembali ke rumah dan memutuskan akan menyambangi Kampung Melayu di sore hari.

***

Adzan Ashar berkumandang tak lama setelah saya melintasi rel kereta sebelum masuk Jalan Layur. Tujuan utama sudah ditetapkan, sholat di Masjid Layur. Setelah memarkir motor, berwudlu, saya pun sholat di bagian utara masjid, dekat pintu keluar.

Saya nyaris meninggalkan masjid, hingga kemudian, ada seorang pria yang tak lain adalah takmir Masjid Layur. Saya pernah bertemu dengannya ketika menulis Masjid Layur dan dinamika masyarakat muslim di kota ini.

Niat untuk mengambil gambar pun saya urungkan. Saya menunggu takmir masjid tersebut untuk sekadar mengobrol dan memastikan letak lokasi asrama. Rupanya, ia hendak sholat ashar berjamaah. Meski sudah sholat ashar, saya pun akhirnya kembali melaksanakan sholat ashar, berjamaah.

Usai sholat, saya mendekati takmir masjid yang bernama Ali Mahsun. “Oh iya mas, di depan itu asrama,” katanya menunjuk sebuah tempat.

“Disana itu, teman-teman mahasiswa tinggal. Tahun kemarin masih ada bekasnya, tapi kemudian kami robohkan, karena sudah tidak layak huni,” katanya memberi keterangan. Berdasarkan informasi yang diberikan kepada saya, tanah itu adalah wakaf kepada Yayasan Masjid Layur.

Bangunannya sendiri sekarang sudah rata dengan tanah. Dari depan, hanya seng yang bisa dilihat. Ali Mahsun sendiri tak tahu banyak cerita masa lalu dari bangunan tersebut.

Saya kemudian membuka tas dan mengambil buku “Berangkat dari Pesantren”. Saya membuka halaman dan menunjukkan kepadanya cerita dimana Kyai Saifudin Zuhri melewati dan menjelaskan kepada Hamka tentang Gedung tersebut. “Oh, ini ayahnya Menteri agama kemarin ya,” tanyanya.

Tanah atau bangunan itu letaknya di Jalan Layur 70 bukan 67 seperti informasi awal yang saya dapatkan. Tapi 70 pun masih perlu dipastikan, karena Ali Mahsun sempat memiliki catatan tambahan, “nomor 70 atau 70B gitu mas.”

___

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.