Jejak “Kulliyatul Muballighin” di Kampung Melayu-Semarang (Bagian 2)

0
952

nujateng.com – KH. Saifudin Zuhri sudah memulai kursus pelatihan bagi para guru madrasah dan muballigh di Sokaraja, Banyumas pada tahun 1943. Kulliyatul Mu’allimin dan Kulliyatul Muballighin yang didirikan atas persetujuan Majleis Konsul NU, merupakan kursus regular selama tiga bulan untuk meningkatan sumberdaya guru madrasah dan calon muballigh.

Minat terhadap kegiatan ini ternyata cukup besar. 120 orang dari Kresidenan Kedu dan Banyumas mengikuti angkatan pertama Kulliyatul Mu’allimin (kursus calon guru). Sementara, 60 orang mengikuti Kulliyatul Muballighin (kursus calon mubaligh). Ketika mengabarkan ditangkapnya KH. Hasyim Asy’ari ke Banyumas, KH Kholiq Hasyim (adik KH Wahid Hasyim) diminta oleh Saifudin Zuhri tinggal sesaat di rumahnya. Menunggu situasi agak mereda. Ketika itulah tenaganya dimanfaatkan mengajar pada dua kursus tersebut.

Lebih kurang setahun setelah tinggal di Semarang, tepatnya 1 Januari 1952, ayah 10 anak itu mendirikan Madrasah Muballighin NU. Tak kurang dari 50 orang dari Jawad an Sumatera itu mengikuti kursus untuk waktu yang lebih lama, 3 tahun. Guru-gurunya antara lain Kiai Amin (penghulu dan guru Madrasah Mambaul Ulum, Solo), Ust. Zen al-Habsyi (R. Nuryaman, dan lainnya. Ada juga guru dalam bidang sosiologi dan ketatanegaraan, Raden Subekti Pusponoto dan Raden Hartono. KH. Zuber, KH. Ma’ruf dan KH. Badruddin turut juga mengajar.

Selain pengajar tetap, ada juga para kiai besar yang menjadi pengajar tamu. KH. Muhammad Ilyas, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Hasyim Asy’ari sendiri pernah datang dan memberikan gemblengan pada calon muballigh disana.

***

Tak sulit mencari jejak madrasah yang dimaksud. Dengan bekal informasi awal, bahwa tempat yang dulunya adalah Madrasah Muballighin itu ada di Jalan Layur, 67, saya menelusurinya di Sabtu pagi (1/2/20). Suasana belum terlalu ramai, meski hilir mudik kendaraan kecil sudah begitu padat.

Deretan rumah berusaha terus bertahan dari turunnya ketinggian tanah. Saya memarkir motor persis di seberang rumah lumayan besar bernomor 67. “Pak, mau Tanya. Ini betul, rumah yang dulunya adalah asrama, ya?” saya bertanya kepada seseorang yang kebetulan sedang berdiri tak jauh dari motor yang saya parkir. “Setahu saya bukan, mas,” jawabnya. “Di tahun-tahun 1960-an, ini kantor untuk tata niaga pelayaran,” jawabnya. Saya penasaran dengan jawabnya. Tapi, mulai meragukan informasi awal yang saya peroleh.

Setelah berpamitan, saya menelusuri gang kecil di samping kiri bangunan tersebut. Tidak ada tanda-tanda bahwa penghuninya bisa dimintai keterangan. Ada dua laki-laki berusia 50 tahun sedang duduk santai di kursi panjang. “Pak mohon maaf mau bertanya, rumah ini, dulunya apa dipakai asrama ya?” saya menunjuk bangunan tersebut.

Mereka berdua saling bertatapan. “Bukan mas,” salah satu menjawab pertanyaan saya dengan singkat. Rumah itu, lanjutnya adalah tempat atau lebih tepatnya kantor untuk usaha seorang pengusaha Kalimantan. “Mungkin pernah ada pemuka agama, tapi bukan madrasah, mas” jawabnya. “Atau njenengan Tanya saja ke Bu Ambar, beliau orang yang paling sepuh di Jalan Layur ini. Mungkin tahu,” katanya memberi saran.

Setelah mendapat arahan, saya berjalan ke luar dari gang kecil itu menuju rumah yang ditunjukkan, hanya berselisih satu rumah dari bangunan bernomor 67 itu.

***

Setelah mengucapkan salam, seorang wanita yang usianya mungkin hanya terpaut 3 tahun di atas saya, segera menghampiri. Setelah menyampaikan maksud, saya dipersilahkan duduk di ruangan depan. Saya masuk ke rumah yang pas, representasi orang Kampung Melayu. Rumah ini dihuni oleh keluarga dari Kalimantan, tepatnya dari Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Tak lama kemudian, perempuan tadi menuntun seorang ibu yang cukup sepuh keluar ruangan dan duduk di samping saya persis. Gurat-gurat anggun masih menghiasi wajahnya. Ia bukan orang biasa, jika tepat dikatakan demikian. Ia masih keturunan wedana Rembang yang lahir pada 1938.

Template perkenalan saya haturkan. Termasuk juga pertanyaan tentang gedung yang saya maksud. Sama seperti 2 orang yang saya mintai keterangan, wanita sepuh bernama Jum Ambarwati itu juga memberi jawaban yang kurang lebih sama. “Bukan nak. Itu kantor saja, bukan tempat pengajian,” jawabnya. Ia tak mengetahui jika ada semacam madrasah di Jalan Layur. Aktivis Aisyiyah Kota Semarang hingga tahun 1990 tersebut, memastikan tidak ada tempat yang saya maksud.

Kepada saya, Bu Ambar bercerita banyak tentang dirinya, serta keluarga suaminya. Rumah yang ditempatinya, dibangun abad 19. Ia adalah generasi kedua disana. Suaminya, Anang Karim, anak tunggal dari keluarga asal Kumai yang menjadi pengusaha kapal yang mengangkut barang-barang seperti kayu dan sebagainya.

Sudah dua kali rumahnya dinaikkan. Dari tanah awal, rumah yang sekarang ditempatinya, sudah berselisih dua meter.

“Kalau asrama mahasiswa, dulu ada di depan Masjid Layur,” tiba-tiba dia ingat satu hal. “Nah itu maksud saya Bu,” saya menimbali dengan penuh semangat.

Dr. Tedi Kholiludin, Dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.