Jejak Historis dan Arkeologis Ashabul Kahfi (Bag -2)

0
1604
kredit ilustrasi : soeloehmelajoe.wordpress.com

Oleh : Shofiyul Burhan (Alumnus MA MGS Sarang-Rembang)

Membaca sejarah Ashabul Kahfi (the seven sleepers) dari ayat suci Alqur’an, fikiran pembaca diajak membuka lembaran-lembaran cerita masa lampau yang tercecar dalam kitab-kitab sejarah atau cerita isroiliyyat yang sering dijumpai pada beberapa penafsiran ayat dari surat al-Kahfi.

Terkadang selera pembaca lebih banyak melihat dari sisi keteguhan tujuh pemuda yang mempertahankan keimanannya sebagai ibrah umat Nabi Muhammad, namun itu semua tergantung dari sudut mana pembaca memahami cerita tersebut. Dengan pembacaan ayat-ayat alqur’an dari sudut pandang yang berbeda, pengetahuan yang didapatkan juga pasti akan berbeda pula.

Dalam catatan ringkas ini, penulis mengajak pembaca memahami cerita Ashabul kahfi dari sudut pandang sejarah dan arkeologi yang dijelaskan oleh al-Qur’an dalam surat al-Kahfi ayat 9-25.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا (9

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

Dari susunan lafadz ayat ke 9 dari surat al-Kahfi ini, penulis mengajak menyelami beberapa penafsiran dari dua lafad “الكهف” dan “الرقيم”, kedua lafadz ini menurut penulis menjadi titik temu sejarah tersibaknya tujuh pemuda yang tertidur selama baratus tahun lamanya di dalam gua.

Imam ibnu katsir dalam kajian tafsirnya, mengutip beberapa riwayat. Salah satu diantara kedua lafad ini periwayat menafsirkan sama yaitu pada lafadz “الكهف” yang mempunyai arti “gua” yang berada di “gunung”, atau gua yang berada di suatu lembah.

Titik perbedaan dikalangan mufasir dan versi Nasrani adalah letak dan nama dari gunung dimana gua itu berada. Menurut Jabba’i gunung itu bernama Banjalus, dan menurut versi Kristen gua itu berada di kaki Gunung Pion (Gunung Coelian) dekat Efesus (kini Selcuk, Turki) seiring ditemukannya bukti arkeologi gua tersebut beserta bangunan diatasnya ditahun 1927-1928 saat diadakan penggalian. Wallahu a’lam.

Baca Juga  Tradisi Menyalin Kitab di Pesantren

Sedangkan lafadz “الرقيم” Ibnu katsir mengutip beberapa riwayat dengan pengertian yang berbeda. Dhohak mengartikan “roqim” berupa lembah. Imam Mujahid mengartikannya berupa bangunan-bangunan/peninggalan dalam bentuk material, sedangkan Ka’ab mengartikan suatu desa di mana Ashabul Kahfi tinggal.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ia tidak mengetahui arti “rokim” apakah berupa bangunan atau kitab/manuskrip. Akan tetapi menurut ali bin Abi Tholhah menjelaskan bahwa “rokim” adalah kitab/manuskrip” sebagaimana keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Sa’id bin Jubair mengartikan “Rokim” hampir ada kesamaan dengan Ali bin Abi tholhah berupa papan dari batu yang didalamnya tertulis cerita Ashabul Kahfi yang meletakkan di pintu-pintu gua dimana ketujuh pemuda itu tertidur. Kitab/manuskrip ataupun material lain,