Huruf ض, Pertanda NU Sebagai Wajah Peradaban Islam Dunia

0
948
kredit foto : hargeulis.com

Oleh : Shofiyul Burhan (Founder LTC)

Tulisan huruf ض pada kalimat NU yang lengkungnya memanjang lurus bergaris horisontal melintas tepat ditengah bola dunia menunjukkan cita-cita NU kedepan sebagai pusat peradaban islam dunia.

KH. Ridwan Abdullah menggambarkan lambang NU sesuai persis dengan isyarah dalam mimpinya. Penulis meyakini bahwa lambang NU merupakan ilham yang mempunyai makna “sir” , ibarat seperti kode-kode rahasia yang tidak banyak orang memahami maksud dari huruf tersebut.

Keterbatasan berfikir seringkali menjadi kelemahan seseorang memahami maksud dari pada kode-kode atau huruf-huruf rahasia yang tercecer dalam manuskrip-manuskrip kuno atau kitab-kitab suci.

Sebagaimana Alquran yang menjadi kitab sucinya orang muslim, didalamnya juga terdapat beberapa huruf rahasia yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah, seperti ayat الم، كهيعص، طه atau ayat-ayat yang menjadi awal pembuka surat al-Quran.

Para mufassir ketika melewati ayat-ayat tersebut seringkali melontarkan kalimat “والله اعلم، والله اعلم بمراده” yang artinya Allah lah yang tau, atau hanya Allah yang mengetahui maknanya. Akal manusia terbatas, tidak mampu menjangkau samudra ilmunya Allah.

Menafsiri ayat “sir” dalam pembuka surat Alqur’an dengan keterbatasan akal berarti menciderai hak prerogatif kalam Allah. Akan tetapi itu tidak terjadi disaat seseorang menafsiri huruf-huruf atau kode rahasia hasil buatan manusia, untuk menemukan jawaban dibalik rahasia kode-kode tersebut.

Sebagaimana huruf ض dalam kalimat NU yang sengaja di tulis KH. Ridwan Abdullah melintas tepat ditengah bola dunia lambang NU

Huruf Dloth(ض) adalah bagian dari huruf hijaiyah yang berada dalam urutan ke 15 setelah huruf shod (ص). Huruf satu ini memiliki keistimewaan dibanding huruf hijaiyah lainya, dan menjadi satu-satunya huruf hijaiyah yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW”

انا افصح من نطق لغة الضاد
“saya adalah orang yang sangat fasih mengucapkan huruf ض “.

Walaupun hadits ini tdak shohih sebagaimana pernyataan ibnu katsir, dan Ibnu jazari. kenyataanya memang huruf ض sangat sulit diucapkan selain orang Arab.

Fakta orang Jawa, ketika mengaji tepat pada bacaan huruf dloth(ض)biasanya terdengar seperti bacaan ط Dan ظ, sebagaimana bacaan ayat terakhir dari surat alfatihah. Tidak dibaca ولاالضالين akan tetapi terdengar seperti membaca ولاالطالين atau ولاالظالين.

Tidak heran, kalau huruf dhodh menjadi bahasa khusus arab, karna memang orang ajam(selain arab) kesulitan membaca huruf ini sesuai dengan makharijul hurufnya.

Bacaan Huruf dloth(ض) menjadi identitas kultur dari suatu bangsa, dibaca sesuai dengan konteks kultur dimana ia dibaca, akan tetapi tidak meninggalkan “makharijul huruf” sebagai kepakeman yang harus di jaga.

Tidak bisa dipaksakan bacaan ض orang Jawa sama persis dengan bacaan dhodhnya orang arab, karna lisan kedua bangsa ini terdesain sangat berbeda.

Huruf ض menunjukkan makna filosofis keberIslaman ala NU yang mengejawantahkan Islam sesuai dengan kultur Jawa sebagaimana yang diajarkan oleh walisongo, tanpa meninggalkan ruh Islam yang dibawa oleh NAbi Muhammad SAW. Seperti halnya huruf dhodh yang harus dipakemkan sesuai “mahorijul huruf” walaupun logat membacanya setiap negara berbeda.

Dalam salah satu ceramah KH. Ma’ruf Amin pernah menyinggung makna huruf dlod ini, bahwa dlod yang melintas di tengah bola dunia sebagai bukti kalau keberIslaman ala NU suatu saat akan menjadi warna di dunia global.

Syeikh Ali Bu Shohr dalam kajian kitabnya “Asrarul Huruf Wal A’dad” menjelaskan rahasia dari pada huruf ض yang mempunyai arti “ضل من خالف محمد وال محمد” tersesat orang-orang yang berselisih dengan Nabi Muhammad SAW dan keluarganya(ahlul bait). Mengkaji makna sir dari kitab ini, penulis mengajak pembaca menyelami ajaran NU yang telah di ajarkan oleh para muassis NU.

Bahwa mafhum mukholafah(pemahaman terbalik pada suatu teks) dari makna dlot tersebut adalah mengikuti dan Mencintai Rasulullah, ahlul bait dan Sahabat Nabi yang menjadi ciri khas Islam ahlus sunnah wal jama’ah, lebih-lebih warga NU, sudah tidak diragukan lagi kecintaannya kepada Rasullullah dan Ahlul Bait.

Makna sir dlot dalam kitab tersebut telah membuka sedikit tabir ض dalam kalimat NU, sebagai ajaran yang khas dimiliki oleh golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang menjadi ideologi dasar jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Kontekstualisasi makna sir dlot kedalam ciri khas NU sebagai penganut Asya’iroh(aliran madzhab asy’ariyah) akan ditemukan benang merahnya jika disandingkan dengan hadits Nabi “عليكم بالسواد الاعظم”.

Hadratus syeikh Hasyim Asy’ari dalam “risalah ahlus sunnah waljamaah” juga menyinggung hadits “sawadul a’dhom” sebagai kelompok yang mengikuti pendapat ulama salaf sholih, dan selalu sepakat dengan pendapatnya ulama’ haramain dan ulama Al-Azhar sebagai panutan umat dan pengikut kebenaran.

Mayoritas ulama menafsirkan “sawadul a’dhom” dengan golongan mayoritas muslim pengikut madzhab asy’ariyah. Sudah diketahui muslim diseluruh penjuru dunia, bahwa golongan asy’ariyah termasuk golongan yang paling besar diantara golongan-golongan islam lainya. Pengikutnya tersebar diseluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan menamakan sebagai organisasi Nahdlatul Ulama’.

Menurut catatan LSI, muslim indonesia yang mengikuti organisasi NU berjumlah 60 juta jiwa, kuantitasnya melebihi dari jumlah golongan-golongan non-Sunni yang tersebar di dunia.

Tak heran kalau Gus Mus sapaan dari KH. musthofa Bisri mengatakan bahwa “sawadul a’dhom” penafsiran sekarang ya organisasi Nahdlatul Ulama’, secara kuantitas pengikutnya terbanyak di Dunia dibanding organisasi atau golongan islam lain, dan secara kualitas ajaran-ajaran NU sama dengan ajaran Sunni lainya.

Berangkat dari analisa ini, penulis berkeyakinan bahwa NU sebagai organisasi islam Sunni terbesar di dunia, kedepan akan menjadi pusat peradaban islam Dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.