Dari Lambang ke Gerakan, Memahami Sejarah hingga Ajaran NU

4
9163
kredit foto : hargeulis.com

Oleh: Shofiyul Burhan (Founder LTC)

nujateng.com Melihat bola dunia yang dikelilingi tali tambang dengan sembilan Bintang yang ada disekitarnya, mengingatkan kembali sejarah masa lalu disaat KH. Wahab Chasbullah menugaskan KH. Ridwan Abdullah membuat lambang NU sebagai surprise pada muktamar NU ke-2 di Surabaya bulan oktober 1927.

KH Ridwan Abdullah namanya terukir dalam catatan sejarah NU berkat kepiawaiannya melukis lambang NU yang mempunyai makna filosofis berupa ajaran, ideologi, fikrah dan harokah Nahdlatul Ulama’.

Menjelang Muktamar NU ke-2, kurang lebih satu setengah bulan sebelum muktamar di selenggarakan, beliau diberi target oleh KH Wahab Chasbullah untuk menyelesaikan pembuatan lambang NU.

Namun apa dikata, seminggu sebelum muktamar lambang belum juga selesai dibuat. Beliau merasakan kesulitan membuat lambang kebesaran NU, usaha sudah dijalankan namun setiap kali melukis, lambang selalu tidak jadi, dan terjadi sampai berulang kali.

Belum lengkap sebagai kyai NU kalau tidak memadukan unsur mistisisme dan logika dalam setiap menjalankan amanah ke-NU-an. Seakan NU adalah organisasi yang tidak melibatkan manusia saja, akan tetapi harus ada keterlibatan Allah di dalamnya baik lewat ilham atau isyarah dari kanjeng Nabi Muhammad sebagai bentuk keridhoan atas organisasi ini.

Ditengah kegelisahan, pada suatu malam disaat orang-orang sudah tertidur lelap, beliau berwudhu dan beristikhoroh memohon agar mendapatkan kemudahan membuat lambang NU.

Betul saja, beliau tertidur sejenak, dan bermimpi melihat langit yang sangat cerah berwarna biru, diatasnya beliau melihat bola dunia yang dikelilingi bintang dan dilingkari tali tambang beserta pengikatnya.

Setelah terbangun dari mimpinya, beliau menyadari kalau mimpi itu adalah ilham sebagai bentuk restu ilahiyah, dan saat itu juga beliau segera mengambil kanvas dan kertas untuk melukis lambang NU yang sesuai dengan bayangan mimpinya.

Tepat jam 02.00 dini hari beliau memulai melukis, dan pada keesokan harinya gambar sudah jadi beserta tulisan NU berbahasa arab yang berada ditengah bola dunia dengan posisi horisontal, dan juga tahun kelahiran NU yang berada tepat dibawah bola dunia.

Lambang yang terdiri dari bola dunia, bintang sembilan, tahun kelahiran, tali tambang melingkar, untaian tali sejumlah 99, tali pengikat, dan tulisan NU berwarna putih dengan background (warna dasar) hijau semuanya mempunyai kandungan makna filosofis dari aspek sejarah, ideologi,ajaran, fikrah dan harakah NU, bahkan cita-cita kedepan NU sebagai pusat peradaban Islam dunia.

Sejarah lahirnya NU, dari tahun kelahiran dan tempat NU didirikan digambarkan dalam lambang peta Indonesia di dalam bola dunia, dan tahun 1926 yang berada di bawah bola dunia.

Ahlussunnah waljama’ah sebagai ideologi NU diwujudkan dalam gambar sembilan bintang yang melingkari bola dunia. Satu bintang besar melambangkan figur penerang Umat Nabi Muhammad SAW, empat bintang diatas bola dunia melambangkan empat Khulafaurrosyidin yang menjadi pimpinan para sahabat Nabi, dan empat bintang dibawahnya melambangkan empat madzhab fiqh:Imam syafi’i, Imam maliki, Imam hanafi, dan Imam Ahmad bin hambal.

Kesembilan bintang itu menunjukkan bahwa ahlussunnah berpegang teguh kepada Sunnah Nabi, Sunnah sahabat, dan pendapat tabi’in. Sebagaimana definisi ahlussunnah waljamaah dalam sebuah hadits yang populer ما انا عليه و اصحابي yaitu kelompok yang mengikutiku dan sunnah sahabatku.

Ajaran-ajaran NU juga dilambangkan dalam sembilan bintang yang mempunyai arti ajaran yang pernah diajarkan oleh walisongo, sebagai tokoh muslim yang sukses menyebarkan Islam di Nusantara, yang sekarang dikenal dengan istilah ajaran Ahlussunnah waljamaah An-nahdliyah, yaitu ajaran islam ahlussunnah wal jama’ah sebagaimana dikonsepkan oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dari sisi bertauhid, berfiqih, maupun bertasawwuf yang sesuai dengan ajaran walisongo dengan ajaran berislam yang ramah, lembut dan tidak mudah mengkafirkan atau mengharam-haramkan seeorang yang beda golongan.

Fikrah dan harakah NU diwujudkan berupa lambang tali tambang melingkar pada bola dunia, tali pengikat yang agak kendor, untaian tali yang berjumlah 99, warna dasar lambang NU, dan warna tulisan NU.

Tali tambang yang melingkari bola dunia menunjukkan bahwa harokah NU selalu menjaga persaudaraan, ukhuwah islamiyah(persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah(persaudaraan sebangsa),dan ukhuwah basyariyah(persaudaraan sesama manusia).

Tali pengikat yang kendor berada dibawah bola dunia menunjukkan fikrah NU yang “tawassuth” (moderat), “tawazun” (seimbang) “ta’adul” (adil) dan “tasamuh’ (toleransi) dalam berdakwah, tidak dengan cara yang kenceng sekenceng tali pasti. Atau meminjam kata dari Ulil Abshar dakwah dengan cara yang “slow”.

Warna dasar hijau pada lambang NU mempunyai arti filosofis kesuburan sebagai bentuk gerakan pengabdian NU kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kualitas pendidikan.

warna tulisan NU berwarna putih sebagai perlambang kesucian. Menurut penulis lambang ini lebih cenderung mengarah kepada seseorang yang terlibat dalam organisasi Nahdlatul ulama atau warga NU, tidak akan mungkin NU sebagai wadah organisasi bisa bergerak tanpa ada yang menggerakkan.

Maka dari itu, kesucian hati masuk menjadi warga NU sebagai wadah perjuangan adalah kewajiban, bukan untuk kepentingan pribadi atau hanya menjadikan NU sebagai jalan memperoleh jabatan, dan kepentingan politik praktis.

Sedangkan untaian tali sejumlah 99 adalah gambaran dari Asmaul Husna sebagai inti utama ber-NU atau tujuan dari pada dakwah NU yaitu semata-mata untuk mendapatkan Ridho dari Allah SWT.

Tulisan huruf dhodh pada kalimat Nahdlatul ulama yang lengkungnya membentang memanjang bergaris horisontal tepat ditengah melintasi bola dunia, melambangkan cita-cita NU kedepan bahwa NU di Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam dunia.