Ceramah yang Ramah

0
391
kredit : Islam NU

Oleh : Shofiyul Burhan (Founder LTC)

nujateng.com Tema yang menurut penulis penting untuk disampaikan. Ceramah mempunyai makna arti dasar menyampaikan nasehat/ajaran agama lewat bahasa verbal yang terdiri dari dua unsur subjek, orang yang berbicara(da’i,kyai,ustad)dan obyek, orang yang mendengarkan (mustami’).

Ceramah sama halnya dengan tabligh (menyampaikan ajaran) sebagaimana yang disampaikan oleh kanjeng Nabi dalam satu hadits yang sangat populer dilingkungan pendakwah.

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Bahwa Nabi Muhammad bersabda: sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.

Hadits ini menjadi dasar kalau ceramah mempunyai hukum fardhu kifayah, karena merupakan bagian dari cara untuk amar ma’ruf (perintah kebaikan).

Tabligh/ceramah seperti ritualitas lain, yang semestinya ada syarat prosedural yang harus dijalankan sebagai seorang pendakwah, bukan asal jeplak. Asal humor bisa menertawakan pendengar, pulang dapat gembolan amplop tebal plus dapat snack satu rinjing namun lupa dengan tujuan ceramah, lalai dengan nilai moralitas sebagai pendakwah.

Seringkali fenomena demikian kita jumpai di podium panggung, seorang penceramah dengan entengnya melakukan perundungan salah satu jama’ah pengajian. Tujuanya tidak lain agar jama’ah, lain terhibur dengan ceramah pendakwah.

Padahal dibalik itu sebenarnya ada hati yang tersakiti akibat perundungan pendakwah yang kelewat batas. Bukankah sikap demikian menciderai hifdzul ird (menjaga martabat orang lain).

Satu hal lain yang sering kita jumpai, penceramah dengan nada ceramahnya terlalu keras, mata melotot, urat leher sampai terlihat semua, di tambah lagi dengan gaya bahasa urakan ala preman pasar.

Fakta demikian sebetulnya menjadi tamparan keras bagi umat muslim, wabil khusus ustad atau kyai yang punya bakat sebagai penceramah, da’i.

Baca Juga  Berpulangnya Sang Muharrik

Alangkah eloknya, sebelum berdakwah. Menata moralitas diri seharusnya menjadi prioritas utama, sebelum terjun ke gelanggang dari panggung ke panggung. Kedua meneladani sikap Nabi sebagai penyampai Risalah dengan gaya sikap yang ramah, lemah lembut.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu(QS. Ali Imran 159).

Ada sebagian orang mengatakan,” kyai atau ustad itu memang gaya bicaranya ceplas, ceplos, sering bicara dengan kalimat kotor sebab menyesuaikan lingkungan, dia hidup dilingkungan keras.!

Alasan faktor lingkungan, tidak menjadikan seseorang harus mengikuti arus. Bekal pemahaman agama dan fikiran bisa menjadi media untuk melawan dari arus dominan. Nabi Muhammad SAW contohnya, selama 40 tahun beliau hidup di lingkungan arab kafir Quraisy yang terkenal keras sikapnya, suka berperang, dan tak segan membunuh bayi perempuan yang baru saja dilahirkan, apakah masih kurang keras kalau melihat kenyataan ini.

Akan tetapi bisa kita lihat bagaimana kepribadian sikap Nabi Muhammad, gaya bicara, dan interaksi sosialnya Nabi. Beliau pribadi yang santun, lemah lembut, gaya bicaranya jelas, dan tidak pernah menyinggung orang lain. Interaksi sosialnya baik, bahkan masa mudanya dijuluki oleh kaumnya dengan julukan Al-Amin (yang dapat di percaya).

KH. Hamim Djazuli, biasa orang mengenal dengan nama Gus Miek, kiai nyentrik putra dari ulama sufi Jawa KH. Djazuli Utsman. Ia sosok figur kiai yang nyeleneh. Dakwah dilingkungan keras dan kotor. Tempat-tempat esek-esek penjajah dumbel berdaging di wil Surabaya dan sekitarnya. Namun tak lantas lingkungan tersebut mempengaruhi beliau dari tutur maupun sikapnya. Ia mampu mengendalikan arus, bukan malah terbawa arus.

Baca Juga  Gus Mus Sebagai Pejuang HAM

Bisa dilihat dokumenter-dokumenter beliau saat mengisi Jamiyah Dzikrul Ghofilin, majlis ta’lim yang beliau dirikan. Perkataanya lembut, penyampaiannya jelas, dan kalam-kalamnya menghujam hati mustami’.

Semoga bermanfaat, sekedar mengingatkan pada diri sendiri, selanjutnya anda-andalah yang menafsirkannya wahai netizen…….