Abah Bagja dan Orang-orang NU Kuningan

0
230
kredit foto : NU Online

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

Bagi kami, anak-anak muda asal Kuningan, Jawa Barat, yang ngalap berkah di Nahdlatul Ulama (NU), nama KH. Ahmad Bagdja adalah teladan. Dalam Geografi NU, Kuningan bukanlah poros utama, bahkan dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat.

Entah yang ada di daerah pesisir utara seperti Cirebon, Subang, Karawang, ataupun dengan wilayah Selatan seperti Ciamis atau Tasikmalaya. Tidak banyak orang-orang dari wilayah ini, dari kalangan NU, yang dikenal luas secara publik sebagai tokoh nasional. Abah Bagja adalah satu dari yang tidak banyak itu.

Abah Bagja lahir di Kuningan, 1948. Riwayat personalnya yang saya tahu, sangatlah terbatas. Berbeda dengan karir publiknya. Beliau pernah menjadi orang nomor satu di Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1977 hingga 1981. Saya lahir ke alam dunia, beliau mengakhiri khidmah di PMII.

Kuningan, bukan saja memproduksi para sopir bus bernyawa seribu, tapi juga menelurkan kader handal yang berlatar “sembilan bintang.” Sekali lagi, mesk tak banyak.

Tidak hanya di PMII, Abah Bagja juga duduk di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Beliau menjadi kepercayaan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Sekretaris Jenderal, di periode kedua kepengurusannya.

Beliau adalah putera Kyai Muhammad Tohir, salah seorang yang tokoh agama di wilayah timur Kuningan. Abah Bagja, tepatnya, berasal dari Desa Cipetir, Kecamatan Lebakwangi.

Dulu, cerita salah seorang sahabat, Kiai Muhammad Tohir memiliki beberapa santri. Saya belum tahu, apakah yang dimaksud adalah sejenis pesantren dengan santri mukim, atau tempat mengaji santri part-time.

Tradisi keagamaan masyarakat Lebakwangi, agak sedikit lebih ‘hijau’ dibanding desa tempat tinggal saya. Dan, Abah Bagja lahir dari lingkungan demikian. Lebakwangi merupakan tetangga Kecamatan Garawangi, dimana KH. Hasan Maolani berasal.

Baca Juga  Mitsuo Nakamura, Peneliti Asing Pertama di Muktamar NU (Bagian Kedua)

Dalam sebuah literatur yang saya baca, tak jauh dari Lebakwangi, tepatnya di wilayah Parakan, Maleber, Nyai Hj. Chamnah seorang ulama perempuan asal Buntet, Cirebon, membina para anggota Tarekat Tijaniyah pada beberapa kelompok pengajian di Kuningan.

Ada beberapa kali momentum dimana saya bersua dengan Abah Bagja. Satu yang saya ingat adalah ketika beliau dihadirkan di Semarang untuk menginisiasi pendirian Ikatan Alumni PMII di Hotel Siliwangi (kalau tidak salah) Semarang.

Ia membakar semangat para kader dan mengingatkan tentang pentingnya berjejaring, membangun kesepahaman diantara para alumnus. Sisanya, saya bertemu Abah Bagja di Kantor PBNU dan tempat-tempat dimana NU menggelar acara dan beliau kebetulan hadir disana.

Sekali lagi, Abah Bagja adalah teladan, sosok pengkader yang sangat menginspirasi, utamanya bagi kami, anak-anak muda NU yang lahir di kota Burjo-Warmindo.

Innalillaahi wa inna ilayhi raaji’uun…