Quo Vadis Parpol berbasis Islam

0
661

Oleh : Mohamad Muzamil (Ketua PWNU Jawa Tengah)

Quo Vadis, merupakan bahasa latin yang maksudnya adalah kemana engkau pergi? Dalam konteks partai politik (parpol) berbasis Islam, bisa ditanyakan kemana engkau akan pergi wahai parpol berbasis Islam?

Dalam pandangan politik, setidaknya umat Islam berbeda pandangan dalam menghadapi higemoni politik sekuler, yang memisahkan antara agama di satu pihak dengan praktek politik kekuasaan di pihak lain.

Pertama, adanya pihak yang larut dalam sekularisasi politik seperti dilakukan Kemal Attaturk di Turki beberapa waktu yang lampau; kedua, adanya sebagian pihak yang menolak mentah-mentah sekularisasi, dengan melakukan Islamisasi politik dan pemerintahan, seperti dilakukan organisasi-organisasi seperti Ikhwanul muslimin, Hizbut tahrir dan sejenisnya yang kembali mengusung khilafah.

Dan ketiga, adanya upaya mengambil jalan tengah seperti mensepakati berdirinya negara Republik yang tidak berasaskan agama melainkan mengakomodasi nilai-nilai agama seperti musyawarah dan keadilan guna mewujudkan akhlaq Islam, rahmat al-alamin.

Parpol berbasis Islam di Indonesia juga tidak jauh berbeda dengan kondisi umum tersebut dalam mensikapi modernisasi politik. Selain terdapat parpol yang sekuler, juga ada parpol tertentu mengikuti proses demokrasi dengan mengikuti pemilu, namun parpol tertentu ini memiliki hidden agenda, apabila memang pemilu akan melakukan perubahan mendasar terkait dasar dan tujuan bernegara.

Sedangkan parpol yang bercorak pemikiran ketiga berusaha tetap konsisten dengan bentuk, dasar dan tujuan bernegara dengan akhlaq Islam. Apakah benar demikian? 

Seperti sudah menjadi kesepakatan para pendiri Indonesia bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. NKRI bukan negara agama, juga bukan negara sekuler, melainkan Negara Pancasila yang mengakomodir nilai-nilai agama dan tradisi masyarakat yang sejak awal nilai-nilai falsafahnya diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Dengan kesepakatan demikian, mestinya Indonesia konsisten bahwa semua parpol juga harus berasas Pancasila. Namun dengan dalih reformasi dan demokrasi, akhirnya pemerintah bersikap lunak, membolehkan parpol berasas pada agama yang dianut penduduk Indonesia. 

Padahal sudah jelas dinyatakan tentang hubungan agama dan Pancasila, setidaknya dalam rumusan pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (P4) pada pemerintahan orde baru, bahwa Pancasila bukan dimaksudkan untuk menggantikan kedudukan agama. Pancasila adalah dasar dan tujuan atau falsafah negara, sedangkan agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. 

Rumusan tersebut dianggap telah usang, sehingga saat ini negara seolah tidak berdaya dalam menghadapi gelombang gerakan politik yang berdasar pada agama. Hal ini ditandai dengan banyaknya publik yang tidak lagi setuju tentang Pancasila, dan berusaha digantikan dengan sistim yang berdasarkan pada agama.

Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa  menyebutkan bahwa dalam jangka waktu 13 tahun publik yang mendukung Pancasila angkanya semakin menurun. Hasil survei tahun 1985 publik yang pro Pancasila sebanyak 85,2%. 4,6% ingin NKRI bersyari’ah dan 10,2 % responden tidak tahu atau tidak jawab.

Kemudian hasil survei tahun 2015 menunjukkan 79,4%  responden yang pro Pancasila. Sebanyak 9,8% responden ingin NKRI bersyari’ah. Dan 10,8% responden tidak tahu atau tidak jawab.

Jika keadaan tersebut tidak diantisipasi maka akan menjadi persoalan dikemudian hari menganai eksistensi NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Lebih-lebih saat sekarang ini UUD tersebut telah diamandemen terakhir pada tahun 2002, yang semangat, arah dan praktek penyelenggaraan negara jauh berbeda dari semangat dan arah UUD 1945 sebelum diamandemen. 

Karena itu bagaimanakah arah parpol berbasis Islam, apakah tetap seperti sekarang ini yang cenderung pro pada liberalisasi, ataukah ada upaya untuk menyeberang ke kanan, atau ingin berada di tengah? 
Jika konsisten dengan cita ideal Islam, maka parpol berbasis Islam akan berusaha di tengah atau al-tawasuth, tidak condong ke kiri atau liberalis dan tidak pula ke kanan atau fundamentalis. Namun akhornya sejarahlah yang akan mentatatnya.
Wallahu a’lam.