Ketua PWNU Jateng: NU Bagian dari Dinamika Dunia”

0
488

Semarang nujateng.com Dalam rangka menyongsong harlah NU tanggal 31 Januari, nujateng.com melakukan wawancara dengan Ketua PWNU Jateng HM Muzamil.  Muzammil, sapaan akrabnya menegaskan bahwa kelahiran NU bukan karena faktor lokal semata melainkan karena faktor global. Berikut petikan wawancaranya :

Pada hari lahir (harlah) ke-94 NU tanggal 31 Januari, PWNU Jateng akan melakukan serangkaian kegiatan apa?

Acara harlah kita diperbolehkan merayakan setiap  tanggal 31 Januari, juga boleh diperingati setiap tanggal 16 Rajab. Hal ini karena lahirnya NU tanggal 31 Januari 1926 bertepatan tanggal 16 Rajab 1344. Insya Alloh PWNU Jateng akan memperingati harlah NU pada 16 Rajab, sekaligus kita menyongsong isra mi’raj Nabi Muhammad SAW pada 27 Rajab. Harapannya NU bisa terus menerus mengambil hikmahnya. Kalau ingin mulia dunia akhirat ya harus terus lakukan perjalanan ke arah yang lebih baik, agar pada saatnya dapat diangkat derajatnya oleh Alloh SWT. 

Mengapa kita harus peringati lahirnya NU? 

Banyak faktor yang bisa kita ingat dalam memperingati harlah NU. Pertama, latar belakang sejarah berdirinya NU. Kedua, spirit atau ghiroh perjuangan para ulama pendiri NU. Ketiga, do’a bersama atau istighosah. Dan keempat,  pelajaran atau hikmah yang bisa kita lakukan saat sekarang dan mendatang. Jadi memperingati harlah NU bukan sekedar seremonial dan hura-hura, namun yang penting adalah sejauh mana kita bisa mengambil hikmahnya dari sejarah berdirinya,visinya dan gerakannya saat itu. 

Bagaimana kondisi NU saat ini ?

NU adalah bagian dari dinamika dunia internasional, bukan hanya dinamika internal Indonesia saja. Sebab kelahiran NU adalah respon para ulama saat itu terhadap situasi di Hijaz atau sekarang Makkah dan Madinah Munawaroh yang dikuasai Ibnu Saud sejak 1924 hanya membolehkan satu paham saja, tidak memperbolehkan madzhab lainnya.

Jadi,  NU bukan merupakan organisasi lokal, tetapi organisasi global. Makanya logonya adalah bola dunia dikelilingi bintang sembilan dan tali atau istilah jawanya Dadung kawuk, yang maknanya dunia harus bersatu, berkeadilan, tanpa diskriminasi, atau bahasa agamanya adalah Rahmat al-alamin.

Sekarang ini dunia kan masih memprihatinkan karena adanya keserakahan satu pihak atas pihak lainnya, meski negara-negara di dunia ini sudah banyak yang merdeka, namun secara  defacto belum dirasakan adanya kedaulatan.

NU sendiri mestinya terus komitmen menjaga keseimbangan dunia internasional dengan cara mendesak pemerintah agar tidak condong sedikit pun, baik ke kiri maupun ke kanan, seperti terakhir dilakukan Gus Dur dan Kyai Hasyim Muzadi. Ya udahlah ini urusan PBNU. Kita konsentrasi saja di daerah, he he…

Lalu di Jateng sendiri bagaimana pak?

NU di Jateng ada 35 Kabupaten/Kota dengan 36 Cabang NU, karena Lasem sejak awal berdirinya NU sudah terbentuk Pengurus Cabang. Setiap Cabang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing, sehingga kami sebagai pengurus wilayah ngajak mereka untuk koordinasi dan sinkronisasi, agar program-program Jam’iyyah bisa dilaksanakan.

Hal ini penting karena apa yang diprogramkan harus dilakukan, jangan sampai justru kita melakukan apa yang tidak kita programkan. Jadi agar organisasi kita ini berjalan di atas relnya. (Ed; Rs-011)