Gagasan IKA-PMII Menjadi Badan Otonom NU

0
943

Semarang nujateng.com Sebagai bagian dari kalangan Nahdliyin kultural, para anggota Ikatan Alumni PMII ingin memberikan kontribusi yang lebih besar dalam ikut serta membangun bangsa dan negara. Situasi hari ini bangsa Indonesia sedang menghadapi banyak masalah baik dari faktor internal maupun eksternal.

Dalam sejarah negara-bangsa Indonesia peran ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) sangat besar. Hingga kini NU selalu menjadi garda depan dalam mengusung visi keislaman dan keindonesiaan. Visi ini sesuai dengan garis ideologi PMII.

“Oleh karena itu tidak ada salahnya kita membincang bagaimana jika IKA-PMII diusulkan menjadi badan otonom (Banom) NU. Hal ini bisa menjadi salah satu rekomendasi Munas dan Konbes NU di Sarang, Maret 2019,” kata Ketua Umum PC IKA-PMII Kota Semarang, Drs H Nur Syamsudin M.Ag dalam sebuah diskusi Pengurus Cabang IKA-PMII Kota Semarang di Banaran Resto Mugas Semarang, Sabtu (18/01/2019)

Ada lima alasan sebagai dasar kenapa IKA-PMII perlu diusulkan sebagai Banom NU. Nur Syamsudin mengemukakan pertama alasan sejarah, hubungan PMII dan NU yakni PMII lahir sebagai Banom NU tahun 1960 kemudian independen 1972 dan tahun 1990 menjadi hubungan interdependen.

Kedua, realitas hari ini IKA-PMII sebagai kelas menengah NU mengisi struktur NU mulai PB NU, PW, PC bahkan MWC dan Ranting. Ada juga yang di anak ranting.

Ketiga, IKA-PMII juga berkontribusi mengisi jabatan-jabatan publik dan strategis di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan komisi-komisi negara. Ini menunjukkan Sumberdaya Alumni PMII tidak diragukan lagi.

Keempat, IKA-PMII juga menjadi perintis kegiatan sosial budaya, sosial ekonomi dan ikut memberi solusi atas problem-problem kemasyarakatan. Ini menunjukkan sosok intelektual organik. Alasan kelima, syarat menjadi banom NU harus memiliki basis tertentu seperti usia atau profesi. Nah basis IKA-PMII adalah intelektualisme atau kecendekiawanan.

Baca Juga  NU Penyangga Utama NKRI

“IKA-PMII adalah generasi cerdik cendekia NU, yang menggunakan intelektualisme dan kecendekiawanan untuk ikut berkontribusi atas menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan kemanusiaan,” kata Nur Syamsudin.