Era Digital, Eranya Anak Muda NU

0
599

Oleh: Ulil Abshar Abdalla (Founder Ngaji Ihya Online)

Salah satu ciri khas sosiologi masyarakat NU adalah: informalitas, hubungan kiai-santri yang lekat sekali, struktur yang lebih desentralistis, tidak sentralistis, watak kultural yang “nyante”, “asoy-geboy”, “easy going”, rada “slengekan”, keragaman yang bersumber dari kuatnya semangat otonomi pada masing-masing unit sosial yang berpusat pada figur kiai.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya melihat, ciri-ciri sosial-kultural masyarakat NU ini sangat cocok dengan semangat sosial-peradaban yang mencirikan era digital, era revolusi industri 4.0. Jika kita telaah zaman digital ini, beberapa gejala menonjol berikut ini bisa kita lihat: desentralisasi, tersebarnya sumber-sumber inisiatif, terpecahnya “Otoritas” dalam bidang apapun, kadang begitu ekstrim hingga berujung pada “matinya otoritas” (biasa disebut the death of expertise, “موت الخبرة”).

Ciri lain zaman digital juga mirip dengan ciri-ciri kultural masyarakat NU, yaitu kecenderungan orang-orang untuk berkerumun, berkumpul di sekitar tokoh-tokoh yang sering dianggap sebagai celebrity. Ini mirip dengan suasana sosial di NU: santri-santri berkerumun di sekitar sosok kiai yang dihormati, membentuk lingkaran-lingkaran konsentris yang mirip dengan orbit sistem matahari atau galaksi. Masing-masing kiai membentuk galaksinya sendiri-sendiri.

Tidak ada tokoh tunggal yang menjadi pusat segala-galanya. Kedudukan dan otoritas organisasi di NU kalah kuat dan pengaruh dibanding otoritas personal dalam diri romo kiai. Zaman digital menyaksikan gerakan sosial yang mengarah ke bentuk yang serupa: tokoh dan sosok lebih menonjol, dan menciptakan “galaksi pengaruh” yang lebih besar dari pengaruh sistem yang impersonal.

Dengan kata lain, zaman digital adalah zaman yang mengekstrimkan kecenderungan-kecenderungan sosial-kultural yang dulu pernah dinamai sebagai “zaman posmodernisme”. Saya malah melihat, zaman digital justru tampak seperti ingin berputar dan kembali kepada corak-corak sosial-kultural dalam masyarakat tradisi. Makin modern atau hiper-modern masyarakat di zaman ini, yang terjadi justru “re-tradisionalisasi” — masyarakat seperti kembali kepada pola-pola sosial dalam masyarakat tradisional.

Karena itu, saya ingin mengatakan, bahwa zaman digital adalah zaman yang membawa semangat sosial-kultural yang pas dengan ciri-ciri kultural NU. Saya sebagai orang yang tumbuh dalam keluarga tradisional, merasa “nyaman” sekali dengan zaman digital ini, karena saya menemukan banyak kesejajaran antara keduanya.

Tentu saja tidak semua hal di zaman digital ini sesuai dengan watak NU. Ada beberapa hal dalam zaman digital saat ini yang kontras dengan semangat kultural NU, misalnya: kecenderungan melebih-lebihkan, ekstremitas, pamer yang berlebihan, sensasionalitas, hiper-narsisisme, dsb.

Tetapi watak zaman digital yang cenderung desentralistis, lebih menekankan informalitas (contoh terbaik: gaya berpakaian Steve Jobs dan Mark Zuckerberg yang sangat santai dan informal itu), agak mirip dan sesuai dengan ciri-ciri masyarakat NU.

Dilihat dari semangat kultural, zaman digital bisa dipandang sebagai zaman NU. Anak-anak NU mestinya menyambut dengan gembira datangnya, serta memainkan peran yang penting dalam era ini. Dan ini sudah mulai tampak di mana-mana. Teman-teman NU di banyak tempat terlibat aktif dalam gerakan literasi yang berbasis teknologi digital. Beberapa nama jelas patut disebut: Savic Ali, Hamzah Sahal, Aguk Irawan, dll.

Jadi, marhaban zaman digital!
Kediri, 13/01/2020

Tulisan ini pertama kali terbit di laman facebook Ulil Absar Abdalla dengan judul ” Era Digital adalah Eranya Anak-Anak NU”