Pertemuan: Syari’at dan Budaya

0
950
Naharul Ijtima merupakan salah satu kegiatan Nahdlatul Ulama untuk menjalin silaturahmi. (dok. nujateng.com)

Warga Nahdltul Ulama (NU) atau biasa disebut Nahdliyin memang senang berkumpul atau silaturahmi, karena diyakini banyak tambahan kebaikan-kebaikannya atau barokahnya. Silaturahmi di kalangan Nahdliyin tidak hanya pada acara keluarga, namun juga acara peringatan hari besar Islam, dan acara jam’iyyah atau organisasi NU.

Dalam keluarga, dijumpai banyak acara pertemuan untuk doa bersama atau “selametan”, mulai dari empat bulan kehamilan, tujuh bulan kehamilan, kelahiran anak, memberikan nama anak, aqiqah, sunatan, lalu pernikahan dan seterusnya. Jika ada anggota keluarga yang meninggal, juga diadakan pertemuan untuk mendoakan janazah seperti membaca Yasin dan tahlil selama tujuh hari, dua puluh lima hari, empat puluh hari, seratus hari dan seribu hari. Ada juga haul, setahun sekali.

Kalau ada keperluan tertentu, juga dilakukan “selametan”, seperti mau membangun rumah, menempati rumah baru, mau bepergian ibadah haji, dan sebagainya.

Kemudian dalam memperingati hari besar Islam: ada acara maulid Nabi, acara isra’ mi’raj, hari raya Idul fitri, hari hara Idul qurban. Kadang dalam masyarakat di daerah tertentu ada acara “apitan”, “shafar-an”, “suronan”, dan sebagainya.

Acara-acara tersebut seringkali dipersoalkan karena dianggap tidak ada dalilnya, bahkan ada yang mengatakan bid’ah. Padahal, di kalangan Nahdliyin sering disampaikan banyak dalil, baik dalil naqli, aqli, waqi’i dan irfani. Semua dalil bersumber dari Allah SWT karena semuanya adalah karunia dari-Nya, apakah kita mau bersyukur atau sebaliknya.

Sebagai ungkapan rasa syukur, pertemuan silaturahmi tersebut diselenggarakan oleh Nahdliyin. Biasanya acaranya terdiri dari: pembukaan atau muqadimah, pembacaan ayat suci al-Qur’an, shalawat Nabi, tahlil, sambutan tuan rumah atau shohibul hajat, kemudian uraian pengajian dan doa penutup, kadang setelah itu ramah tamah makan bersama.

Dari rangkaian acara tersebut, semuanya baik dan tidak ada yang bertentangan dengan syariah. Bahkan termasuk ibadah mu’amalah. Membaca al-Qur’an atau mendengarkannya atau memperhatikannya adalah ibadah, membaca shalawat juga ibadah, baca kalimah tauhid atau tahlil juga ibadah untuk memperbaharui iman. Mengaji atau tholabil ilmi juga ibadah, apalagi doa juga ibadah. Bahkan makan bersama juga ibadah karena merupakan shodaqoh maaliyah.

Shodaqoh adalah perintah Nabi kepada setiap umatnya sesuai kemampuan, waktunya juga tidak dibatasi. “Yang punya ilmu, shodaqohlah dengan ilmunya, yang punya harta, shodaqohlah dengan hartanya, yang punya kekuatan maka shodaqohlah dengan kekuatannya”. Bahkan membaya ayat suci al-Qur’an adalah shodaqoh, tersenyum dengan saudara atau teman juga shadaqoh”. Jadi sesuai kemampuan.

Sedang dalam lingkup organisasi NU, selain ada pertemuan formal yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga seperti musyawarah nasional atau muktamar, juga ada pertemuan informal seperti lailatul ijtima, naharul ijtima, dan sebagainya.

Dengan pertemuan tersebut, maka jam’iyyah NU menjadi berkembang seperti saat ini. Karena itu bagi pihak yang tidak suka NU, hal tersebut dinilai bid’ah. Meskipun dinilai bid’ah, namun Nahdliyin meyakini bahwa pertemuan-pertemuan tersebut adalah bid’ah Hasanah, atau hal baru yang baik, karena bersifat ibadah mu’amalah atau hubungan sesama umat manusia.

Sebenarnya tanpa disadari para pengkritik NU, pada jaman Nabi juga tidak ada organisasi, namun semua kalangan sekarang juga bikin organisasi. Tentang organisasi apakah ada dalilnya, baik yang bersifat amar atau perintah maupun nahi atau larangan?

Yang ada pada jaman Nabi adalah kepemimpinan. Bahkan secara tegas, Nabi bersabda bahwa, “kalian semua adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya…”.

Kemudian juga ada perintah Nabi agar ummatnya menyambung tali persaudaraan atau silaturahmi. Ini sudah lazim karena banyak dalilnya, sehingga ummat Islam, terutama Nahdliyin melakukan banyak acara silaturahmi. Karena itu dapat dipahami bahwa syariatnya adalah adanya perintah silaturrahmi. Adapun bentuknya seperti apa merupakan kreativitas ummat. Tentang kreativitas ini adalah bagian dari budaya karena merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia.

Sebagaimana adat tentang berpakaian. Syariatnya adalah supaya menutup surat. Adapun setiap ummat menutup aurat memakai baju gamis, baju koko atau baju batik dan sarung adalah merupakan budaya. Jadi kita bedakan, mana yang merupakan ketentuan syari’at, dan mana yang merupakan aspek budaya. Hal ini saling melengkapi, yang sebenarnya sangat indah bukan?

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah