Saya Tidak Tahu

0
828

Oleh : KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah

Tidak semua pertanyaan dari penanya bisa dijawab, kadang orang terus terang menjawab, “maaf saya tidak tahu”. Barangkali ini sikap yang bijak, daripada dijawab namun menimbulkan masalah di kemudian hari. Apakah sikap seperti ini bisa disebut menyembunyikan ilmu? Jwabannya adalah tergantung pada konteksnya.

Ilmu adalah kesepakatan (ijma’) para pemilik ilmu (al-alim), yang merupakan intisari atau maksud dari makna tersirat dari yang tersurat di dalam Al-Qur’an dan AlHadits. Hal ini sangat penting karena ada maqolah bahwa, “berbicara lah kepada orang sesuai dengan tingkat akalnya”.

Karena itu ada hal-hal yang bersifat umum, dan ada pula hal-hal yang bersifat khusus. Hal-hal yang bersifat umum meliputi semua hal yang termasuk kategori fardlu ain, kewajiban yang dilakukan oleh setiap mukallaf, mulai dari bersuci atau thaharah, rukun Islam, sampai pada Akhlaq al-karimah.

Sedangkan hal-hal yang khusus menyangkut tentang derajat batin seseorang atau kedudukan spiritualitas seorang hamba dihadapan Sang Khaliq, dzat yang Maha Menciptakan. Keadaan spiritualitas seorang ini, tidak banyak orang tahu, kecuali orang tertentu yang menjadi guru thariqatnya atau mursyidnya.

“Tidak tahu orang lain itu wali kecuali ia adalah wali”. Istilah wali atau kekasih Alloh Ta’ala adalah hal yang khusus, yang hanya diketahui oleh orang yang khusus pula.

Memang benar bahwa wali itu ada yang masyhur atau terkenal, dan ada pula yang mastur, atau tersembunyi. Wali yang masyhur karena keistimewaan atau karomahnya diperlihatkan oleh Alloh Ta’ala kepada khalayak. Karomah adalah buah dari keajegannya atau Istiqomahnya seseorang dalam menjalankan ijazah dari mursyidnya dalam beribadah dengan ikhlas lahir batin. Ia sudah sampai pada kedudukan mengetahui Dzat Alloh (al-Arif billah) atau ma’rifatullah, sebuah kedudukan spiritualitas yang sangat tinggi. Barangkali hal ini lah yang disebut “khowash al-khowash”.

Adapun wali mastur atau tersembunyi, tidak banyak orang yang tahu, kecuali oleh seseorang yang sudah sampai pada derajat wali.

Pada sutau majlis pengajian diterangkan kisah menarik oleh seorang Mursyid. Suatu ketika seorang Kyai yang terbiasa ziarah ke makam seorang wali yang masyhur, karena banyak orang yang menziarahi makamnya. Setiap kali ziarah, Kyai tersebut selalu bertemu dengan juru kunci makam wali yang masyhur tersebut. Namun suatu saat Kyai tersebut ziarah dan tidak berjumpa juru kuncinya. Ketika Kyai itu sedang istirahat, ia terlelap ketiduran karena capai. Dalam tidurnya itu ia bermimpi bertemu sang juru kunci, terlihat olehnya, juri kunci itu telah memakai “mahkota” dengan perabotannya yang sangat mewah, seperti bangunan kerajaan yang besar dengan para pembantunya yang setia menjalankan titahnya. Kemudian seorang Kyai itu terbangun lalu menanyakan pada pengganti juru kuncinya dan diceritakan bahwa juru kunci dimaksud telah meninggal dunia. Dari keterangan ini, Kyai tersebut menyimpulkan bahwa juri kunci makam yang telah meninggal dunia itu adalah seorang wali.

Karena itu wali yang mastur, kadang kondisinya sangat sederhana, namun sikap penghambaannya kepada Alloh Ta’ala senantiasa ikhlas dan Istiqomah. “Senajan ashor toto dhohire ananging mulyo maqom derajate”, meskipun hal yang nampak sangat sederhana, namun ia memiliki kedudukan batin yang sangat mulia”.

Apakah para pejabat pemerintah bisa menjadi wali? Dikisahkan oleh Kyai lainnya bahwa kesempatan para pejabat pemerintahan (hukama), peluang masuk ke dalam syurganya Alloh adalah nomer wahid, ranking satu. Namun peluang masuk nerakanya juga nomer satu. Hal ini tergantung pada niat dan caranya (kaifiyat)-nya dalam mengemban amanat di pemerintahan. Kalau niatnya baik karena Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya, dan melaksanakan niatnya juga dengan cara yang baik, maka ia bisa menjadi wali.

Sultan al-Malik al-Sholih di Samudera Pasai Aceh, atau sultan Fatah di Demak, adalah termasuk umara yang dikenal adil dan bijaksana dalam memerintah. Kebijakan mereka adalah untuk kemaslahatan masyarakat yang menjadi rakyatnya. Begitu pula Sultan Agung Hanyukrokusuma atau raja Mataram Islam adalah dikenal juga sebagai umara yang baik hati.

Mereka bisa berbaik hati karena hidayah Alloh dengan lantaran dibimbing para wali atau ulama yang memiliki kedudukan spiritualitas khusus, khowas al-khowas. Artinya mereka memiliki adab yang sangat baik dan ketaatan yang luar biasa pada ilmunya ulama, sehingga mereka bisa berbuat adil.

Dengan begitu, siapa saja, baik dari kalangan rakyat biasa atau dari kalangan bangsawan, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi wali atau kekasih Alloh Ta’ala. Syaratnya itu tadi, mau menghambakan diri kepada Alloh Ta’ala dengan niat yang baik dan dengan cara yang baik pula. Niat dan cara yang baik tersebut adalah yang didasarkan pada ilmu yang telah menjadi kesepakatan atau ijma’ para ulama, serta dilakukan dengan ikhlas dan terus menerus.

Karena itu yang menjadi tujuan bukan keistimewaan atau karomah yang akan didapat, namun keikhlasan dan istiqomahnya seseorang dalam menjalankan ilmunya untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala dengan tulus ikhlas.

“Ya Alloh, Engkaulah tujuanku, dan kerelaan Mu lah yang aku cari”, demikian itu lah kira-kira tujuan hidupnya para pencari dan pengamal ilmunya, sehingga mereka merasa lebih tidak tahu karena yang Maha Tahu adalah Alloh SWT.

Semakin tinggi penguasaan seorang terhadap ilmu, maka semakin membuat ia merasa tak tahu, merasa hina dan merasa lemah.

Bukankah di atas langit masih ada langit ?

Wallahu a’lam