Kontroversi “The Santri”

0
939

Oleh : Dimas Indianto S (Dosen IAIN Purwokerto)

nujateng.com Sebentar lagi, peringatan hari santri digelar. Sebagaimana tahun sebelumnya, hari santri menjadi momen penting dalam mengenalkan kehidupan dan nilai-nilai kesantrian kepada khalayak. Sehingga di banyak tempat diadakan rangkaian kegiatan dari santri, oleh santri, untuk santri.

Tahun ini, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menggandeng sutradara film Hollywood, Livi Zheng membuat film bertajuk “The Santri”. Film yang sedianya akan rilis pada 22 Oktober itu keburu memancing kontroversial. Pasalnya, setelah trailernya keluar pada 9 september lalu, banyak pihak sudah menyatakan sikap untuk memboikot film yang dibintangi Gus Azmi, Wirda Mansyur, dan Veve Zulfikar ini.

Ada beberapa alasan pemboikotan film ini, yakni, pertama, film ini dianggap penyesatan aqidah karena memunculkan adegan seorang santriwati (Wirda Mansyur) membawa tumpeng ke dalam gereja, bahkan menyerahkan ke salah satu pendeta yang ada di depan jamaat.

Kedua, film ini dianggap bahaya moral, lantaran memunculkan adegan khalwat, yakni berdua-duaan antara Gus Azmi dan Wirda Mansyur di hutan. Kritikan pedas muncul salah satunya dari Hanif Alathas, menantu Riziq Shihab, yang juga ketua Front Santri Indonesia (FSI). Menurutnya, adegan tersebut tidak mencerminkan budaya santri.

Ketiga, ikhtilat bukan akhlak santri. Di beberapa meme yang bertebaran di sosial media, seperti di akun instargram Oposisi Ideologis, alasan film The Santri ini ditolak adalah karena adanya ikhtilat (campur baur yang bukan mahram) yakni produser filmnya, Said Aqil Siradj yang berdekatan dengan Livi Zheng di akhir trailer.

Keempat, Amerika sebagai kiblat santri. Dalam trailer, seorang Ustadz, yang diperankan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak mengatakan “Pada hari santri ini, 6 orang yang terbaik di antara kalian akan terpilih untuk berangkat dan bekerja di Amerika Serikat”. Ada sebagian pihak yang merasa keberatan Amerika dijadikan kiblat bagi kesuksesan seorang santri.


Dari keempat alasan itu, banyak yang menarik kesimpulan bahwa, film The Santri tidak layak ditonton. Sebaliknya harus diboikot karena sudah memberikan citra buruk bagi santri. Seolah film ini merusak aqidah dan moral serta adanya dukungan terhadap Amerika sebagai negara yang dicap liberal.

Logical Fallacy dan Keterburuan

Menyatakan untuk memboikot film The Santri adalah sikap yang terburu-buru dan cenderung emosional. Kurang santuy. Lha wong filmnya belum ditonton kok sudah memberi penilaian. Saya menangkap alasan-alasan di atas terjebak pada pola logical fallacy atau sesat pikir.

Logical fallacy ini tidak hanya sering (secara tak sengaja) digunakan oleh orang-orang yang kemampuan penalarannya terbatas, namun juga seringkali (secara sengaja) digunakan oleh orang-orang tertentu, dalam rangka mempengaruhi orang lain.

Pertama, menyimpulkan bahwa membawa tumpeng ke gereja adalah simbol penyesatan aqidah ini perlu diluruskan. Ini termasuk pada kesesatan jenis the texas sharpshooter, yakni memilih-milih data yang mendukung argumen si pemboikot dan mengabaikan data lainnya, sehingga memberikan ilusi logika.

Indonesia adalah negara multikultural dan menekankan nilai-nilai pluralism antar agama. Wajar jika lintas umat beragama saling menghargai. Apalagi hari santri yang kali ini mengangkat tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.

Saat ini Indonesia sedang terjebak pada ketegangan antar agama, lantaran oknum tak bertanggungjawab yang kerap dengan sengaja memperkeruh keadaan. Bahkan, Islam phobia sudah menjadi hal lumrah, alasannya Islam diidentikkan dengan terorisme, dengan kekerasan, maka kita butuh sesuatu yang mampu menghapus anggapan itu. Film The Santri menjadi jawaban, bahwa toleransi dan saling mengasihi antar umat beragama adalah kunci.

Lebih lanjut, memberikan tumpeng di gereja bukan berarti memberikan aqidah lalu berpindah agama. Berpindah agama tidak semudah itu. Ini sesat pikir yang banyak dialami orang-orang awam, menjadi semacam ketakutan jika harus berhubungan dengan orang yang berbeda agama. Lagi pula, yang diberikan adalah tumpeng, simbol humanisme transendental. Dalam tradisi Jawa penggunaan tumpeng di acara-acara adat adalah simbolis dari nilai-nilai adiluhung kehidupan.

Kedua, adanya adegan khalwat. Padahal itu hanya simbolik bahwa santri adalah manusia biasa. Pada fragmen ini, justru santri akan dibawa pada romantisme percintaan di pesantren yang pelik. Banyak pihak mengatakan bahwa santri pura dan santri putri tidak bertemu dalam satu forum, apalagi jalan bersama dan saling melempar senyum disertai doa-doa.

Tidak semua pesantren yang menerapkan aturan (qanun) yang ketat, beberapa pesantren (modern) bahkan menyatukan kelas madrasah antara santri putra dan santri putri. Percayalah bahwa, benih-benih cinta mudah sekali tumbuh dari bilik pesantren.


Bahwa dalam film ini yang diambil adalah potret pesantren modern, itu untuk mengikuti zaman. Apalagi film ini juga akan dipasarkan di Amerika, untuk itu perlu menampilkan citra santri yang modern dan moderat.

Penonton milenial akan tertarik dan mengetahui bahwa di dalam pesantren, santri masih bisa menjadi manusia biasa karena bisa merasakan rasa cinta. Toh tidak jarang juga, alumni pesantren yang pada akhirnya berjodoh dengan sesama alumni.

Ketiga, ini yang paling absurd. Alasan bahwa kedekatan Said Aqil sebagai produser film dengan sutradara Livi Zheng merupakan potret ikhtilat. Hanya karena memberi sambutan di akhir trailer dengan berjejer, beberapa orang menyimpulkan bahwa itu merupakan ikhtilat atau campur baur dua orang bukan mahrom.

Saya sepakat dengan yang disampaikan kritikus film Hikmat Darmawan yang menduga bahwa penolakan ini berbau politis. Hal ini dinamakan sesat pikir jenis argumentum ad hominem, yakni menyimpulkan sesuatu karena orang yang melakukan, bukan apa yang dilakukan.

Sehingga cenderung lantaran ketidaksukaan personal. Dalam pada ini, karena yang melakukan adalah Said Aqil Siradj yang cukup kontroversial maupun karena Livi Zheng yang dianggap tidak pas mengangkat tema santri.

Keempat. Rasa keberatan karena Amerika dijadikan referensi bagi “kesuksesan” santri. Amerika dianggap sebagai negara yang liberal, tidak pantas jadi impian santri. Ini sesat pikir paling kacau. Apakah karena santri lalu rujukannya harus Arab Saudi, Kairo atau negara-negara timur tengah lainnya? Ini justru menyempitkan makna belajar dalam konsep Islam.

Dalam Islam, belajar tidak dibatasi di daerah mana, dan tidak boleh di daerah mana. Karena pada hakikatnya semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita.


Argumen-argumen yang berseliweran di banyak akun sosial media ini cenderung pada asumsi subjektif yang tanpa mau tabayyun, mencoba untuk bersabar menunggu rilis filmnya. Ajakan pemboikotan film menjadi kentara muatan politis ketimbang an sich sebagai argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. (ed: Rs-011)