Islam: Agama, Ilmu dan Akhlak

0
938
Ilustrasi (Dok. Istimewa)

Islam mengajarkan supaya pemeluknya selalu menghambakan diri atau beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta‘aala, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya, agar para pemeluknya dapat selamat dan bahagia lahir batin, dunia akhirat.

Agar ibadahnya dikabulkan Allah Subhaanahu wa Ta‘aala, maka harus didasari dengan ilmu dan kerelaan serta terus menerus (Istiqaamah). Seorang Muslim yang berilmu (‘aalim) dan rajin beribadah (‘aabid), serta selalu berbudi pekerti baik (akhlaaq mahmuudah), hidupnya akan enak, berkecukupan dan mulia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagaimana penjelasan para alim ulama, seorang muslim yang selalu berbuat baik (shaalih), hidupnya tidak akan susah.  Masalah yang dihadapunya akan dipecahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta‘aala.  Sedangkan seorang muslim yang berilmu, beramal baik dan ikhlas karena Allah, hidupnya akan mulia dan dimulyakan. “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antaramu sekalian dengan beberapa derajat”.

“Kekasih Allah Subhaanahu wa Ta‘aala adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta‘aala serta menyampaikan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mereka itu lah tiada diliputi rasa khawatir dan tiada diliputi rasa susah”.

Dalam kondisi apa pun, para kekasih Allah Subhaanahu wa Ta‘aala (wali) tidak pernah merasa was-was dan tiada susah hidupnya. Ia selalu bahagia karena kedekatannya kepada Allah Subhaanahu wa Ta‘aala.

Siapa pun orang mukmin bisa mencapai kedudukan tinggi tersebut, asalkan mau berusaha mencari ilmu dari para ahlinya, selalu beribadah dan berbuat baik kepada sesama umat dengan suka rela.

Memang tidak mudah mencapai kedudukan mulia tersebut. Paling tidak, menurut ulama, seseorang mukmin memiliki niat yang baik, berlaku sabar dan syukur nikmat.

Berniat baik, diawali dengan menata hati. Hal ini tidak lah gampang. Penulis pun belum merasa bisa melakukannya. Sebab hati selalu berubah, kadang baik dan kadang kurang atau bahkan tidak baik. Karena itu hati disebut al-qalb, “bolak balik”.

Menurut para ahli thoriqoh, menata hati dibarengi dengan selalu mengingat Allah (berdzikir) dengan kalimat-kalimat mulia (kalimah thayyibah) yang diajarkan atau di-ijazah-kan guru, setidak-tidaknya dengan memohon ampun kepada Allah Subhaanahu wa Ta‘aala (istighfar) dan membaca shalawat kepada baginda Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam sebanyak-banyaknya. Jika hal ini bisa terus dilakukan, pada saatnya nanti hati menjadi tenteram, merasa rindu kepada ulama dan pada gilirannya juga merasa rindu kepada Nabi Muhammad Subhaanahu wa Ta‘aala.

Sebagian guru menasihati, “duduk bersama para ulama adalah lebih utama bila dibandingkan dengan membaca sekian banyak buku sendirian, karena dengan bersama ulama lambat laun akan bisa memahami intisari ilmu-ilmu yang telah dikuasai ulama”. Karena itu belajar terbaik adalah bersama guru yang ‘aalim (berilmu), ‘aabid (rajin ibadah) dan zuhuud (selalu tergerak hatinya karena Allah Subhaanahu wa Ta‘aala). Hal ini bukan berarti tidak boleh membaca buku, melainkan membaca buku setelah bertemu dengan al-‘aalim, dan setelah membaca juga mau mengkonfirmasikan bacaannya kepada al-‘aalim.

Disamping itu semoga kita bisa bersabar dalam menjalankan kebaikan tersebut, baik dalam situasi taat dan meninggalkan keburukan atau maksiat, maupun sabar jika ada musibah.

Untuk taat, lebih sulit, karena harus mau meninggalkan kenikmatan semu dan sementara seperti bermain atau bermalas-malasan. Untuk meninggalkan maksiat juga berat, karena harus meninggalkan hal-hal yang awalnya menyenangkan, namun susahnya tak berkesudahan. Karenanya seorang mukmin yang baik harus mau berusaha sungguh-sungguh, atau yang disebut dengan riyaadlah (latihan) dan mujaahadah (mengerahkan segenap kemampuan).

Jika bisa demikian, semoga bisa rendah hati, tidak ujub, dan bersyukur. Arti  bersyukur adalah menggunakan kenikmatan dari Allah Subhaanahu wa Ta‘aala untuk menambah ta’at kepada-Nya.

Jika kondisi tersebut bisa tercapai, maka pada saatnya akan mendapat ilmu yang manfaat kepada sesama. Semoga dikabulkan berkat syafa’at baginda Nabi Subhaanahu wa Ta‘aala. Amin.

Wallahu a’lam.

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nadlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.