Ilmu dan Keteladanan Ulama

0
745
Ilustrasi (dok. Istimewa)

Ulama adalah orang-orang yang dikehendaki Allah memperoleh ilmu dan keteladanan. Sebagaimana pemahamahan yang diberikan kepada para Nabi dan Rasulullah. Karena itu, ulama disebut sebagai pewaris para Nabi.

Tentu bukan kenabian dan kerasulan yang diwarisi oleh para ulama, melainkan ilmunya, ibadahnya, akhlaknya, semangat perjuangannya dan keteladannya.

Nabi dan Rasulullah itu dipilih dan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa diberikan wahyu dan dijaga-Nya dengan diberikan keistimewaan-keistimewaan yang disebut dengan mukjizat. Mulai dari Nabi Adam ‘’Alahissalam sampai Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir.

Sedangkan ulama juga dipilih dan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa diberikan ilmu dan pemahaman yang menyeluruh terhadap wahyu yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Sahabatnya dengan jalinan sanad, diberikan istiqomah dan keikhlasan dalam menyebarluaskan ilmu dan pengamalannya.

Ulama tidak diberikan mukjizat, namun diberikan karomah, sehingga ulama mampu melindungi, mengayomi dan membimbing jamaahnya.

Dalam sepanjang sejarah perjuangan Islam, ulama itu terdiri dari keturunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang disebut dengan sayyid dan habaib, juga terdapat orang-orang yang bukan merupakan keturunan Nabi namun mendapatkan ilmu dan hikmah yang terpancar dari cahaya dan barokah guru-gurunya yang telah dididik oleh para sayyid dan habaib. Karena itu adanya maqolah, “Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan Ajam (selain Arab) kecuali dengan taqwa”, masih tetap relevan sepanjang jaman.

Dalam sejarah perjuangan Islam di Nusantara ini, khususnya di Jawa dikenal adanya Walisongo. Para Walisongo juga ada yang dari kalangan sayyid, habaib dan orang pribumi yang mendapatkan pendidikan dari sayyid dan habaib, seperti Simbah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Dengan demikian penduduk Jawa yang beragama Islam menaruh rasa hormat dan kecintaan yang tinggi kepada para sayyid, habaib dan kiai.

Siapakah para ulama tersebut? Sudah sering dijelaskan bahwa ulama adalah orang-orang yang rajin beribadah, bersikap zuhud dan wira’i, luas wawasannya tentang kehidupan akhirat, sangat memahami kemaslahatan hidup makhluk-makhluk Allah, dan dengan kefahamannya itu mereka selalu berjuang semata-mata mengharap ridla Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Karena itu ulama bukan merupakan status atau kedudukan, melainkan terkait dengan karakter yang kuat untuk selalu menjalankan ilmunya dengan ikhlas dan istiqomah. Dengan demikian sifat-sifat yang mulia dari ulama tersebut menjadi perekat persatuan ummat, dan menjadi suri tauladan yang baik bagi para jama’ahnya.

Mereka disebut ulama karena ilmu dan taqwanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. “Sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang paling takut kepada-Nya adalah para ulama”.

Oleh karena itu sebagian ulama menyatakan bahwa, “semua manusia akan mengalami kerusakan kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu juga akan mengalami kerusakan kecuali orang-orang yang beramal salih. Dan orang-orang yang beramal salih juga akan rusak kecuali orang-orang yang ikhlas”.

Ikhlas adalah rahasia Allah. Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui hati hamba-hamba-Nya.

Disamping itu, para ulama juga memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada para jamaahnya, sebagaimana kasih sayang Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Hal ini ditunjukkan oleh para ulama karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa, bukan karena lainnya.

Ulama adalah pemimpin umat. Kita sebagai pengikutnya disuruh oleh Allah untuk ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, taat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada ulil amri”.

Yang dimaksud dengan ulil amri itu adalah ulama dan umara selama mereka taat kepada Alah dan Rasul-Nya.

“Ulama dan umara adalah dua golongan yang memiliki pengaruh besar. Kalau keduanya baik maka baiklah seluruhnya dan kalau rusak maka akan rusak seluruhnya”.

Karena itu tidak keliru jika ada yang berpendapat bahwa, “Rusaknya akhlak umat ini adalah karena rusaknya akhlak pemerintah, dan rusaknya akhlak pemerintah itu disebabkan karena rusaknya akhlak ulama”, semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian, amin.

Bukankah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwa, “Tegak berdirinya dunia ini tergantung pada ilmunya ulama, adilnya para aparatur pemerintah, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya para fuqoro”, al-Hadits aw kama qaala. Wallahu a’lam.

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.