Antara yang Ushul dan yang Furu’

0
926
Tradisi Takbir Keliling (Dok. Istimewa)

Islam di Indonesia adalah unik. Keunikannya bukan terletak pada hal-hal yang pokok (ushuliyah), seperti aqidah, syari’ah dan akhlak. Melainkan pada aspek furu’iyyah yang bersifat tradisi dan budaya.

Dapat dipahami dari keterangan para alim bahwa, hal-hal yang ushuliyah merupakan kewajiban (ta’lif) yang harus dilakukan oleh para mukallaf (setiap orang Islam sudah aqil baligh dan merdeka).

Ushuliyah tersebut bersifat universal, berlaku sepanjang masa dan setiap tempat. Yang menarik adalah hal-hal ushuliyah ini juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dan ini wajar, karena Islam diturunkan dengan bahasa Arab, dimana pemeluknya dianjurkan untuk berpikir dengan akal sehat dalam memahaminya.

Dalam bidang, aqidah biasa dipelajari melalui ilmu tauhid. Dalam ilmu tauhid ini ada firqoh-firqoh yang berbeda, seperti Syi’ah, Khawarij, Muktazilah, Qadariyah,  Jabariyah, Mujasimah, Jahmiyah, dan Ahlussunah wa al-Jama’ah (aswaja),  yang masing-masing firqoh terdapat varian yang berbeda-beda, sehingga semuanya berjumlah 73 firqoh.

Kemudian dalam syari’ah, dapat dipelajari melalui ilmu fiqh. Dalam fiqh juga ada beberapa madzhab, baik yang salaf seperti imam madzhab empat, maupun yang khalaf, seperti madzhab fiqh modern atau kontemporer.

Kemudian tentang akhlaq, dipelajari melalui ilmu akhlaq atau ilmu tasawuf. Dalam ilmu tasawuf juga ada yang sependapat dengan thoriqoh, dan ada pula yang tidak sependapat dengan thariqah. Dalam thariqah juga terdapat sekitar 40-an thariqah yang muktabrah, yang memiliki sanad hingga Rasulullah. Dan ada pula yang tidak bersanad.

Perkembangan keilmuan Islam tersebut sangat menarik perhatian, karena sama-sama berangkat dari sumber pokoknya, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Perbedaan tersebut terjadi karena faktor teks dan konteks. Dari sisi teks, terdapat ayat-ayat yang muhkamat (jelas ketentuan hukumnya), juga terdapat ayat-ayat yang mutasyabihat (memiliki arti lebih dari satu makna). Sedangkan perbedaan konteks terjadi karena perbedaan geografi, ideologi, politik dan pemahaman terhadap sejarah yang berkembang.

Dari sudut pandang geografi, ada ulama ahli hadits ,karena waktu itu sering bertemu dengan Nabi SAW., dan ada pula ulama ahli ra’yi, karena jarang bertemu dengan Nabi Muhammad, karena jarak tempat yang jauh. Perbedaan ini masih wajar karena tidak banyak menimbulkan polemik.

Justru yang memprihatinkan adalah perbedaan yang disebabkan karena faktor politik, karena sudah menyangkut tentang kepentingan kekuasaan, utamanya konflik antara Sahabat Ali bin Abi Thalib dengan Sahabat Mu’awiyah, dan seterusnya.

Islam yang masuk di wilayah nusantara, sejak 1945 sebagian besar wilayahnya menjadi Indonesia, adalah beraqidah aswaja. Nah yang menarik dari Aswaja adalah adanya tradisi unik yang sudah turun temurun, yang tidak dijumpai di belahan dunia lainnya.

Dalam melakukan dakwah, Syaikh Ja’far Shodiq atau Kanjeng Sunan Kudus, ketika Idul Adha tidak memotong lembu, namun memotong kerbau. Tentu nilainya sama yakni untuk tujuh orang, karena Syaikh Jakfar Shodiq menghormati tradisi masyarakat setempat yang pantangan memotong lembu. Akhirnya Islam bisa diterima damai oleh masyarakat setempat. Demikian pula, Syaikh Raden Syahid atau Kanjeng Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media dakwah. Demikian pula tujuh anggota Walisongo lainnya juga berdakwah dengan menggunakan media tradisi yang ada dalam masyarakat.

Keunikan lain, misalnya tentang acara gerebek besar di Demak, upacara sekaten di Solo serta kegiatan lain di wilayah nusantara yang sangat beragam. Kemudian ada imsak, yakni waktu beberapa saat sebelum subuh bagi yang menjalankan sahur untuk berpuasa.  Ketika Idul fitri, di negara lain tidak dijumpai adanya halal bi halal, namun di negeri kita Indonesia, terdapat acara halal bi halal, mudik, lengkap dengan hidangan sayur lodeh, kupat, dan sebagainya.

Ada juga acara sedekah bumi, sedekah laut, dengan melakukan acara tertentu, yang menarik kunjungan wisatawan, dari dalam maupun luar negeri. Tradisi dan nilai budaya yang unik tersebut kini telah berkembang, meskipun ada pihak yang menilainya bid’ah. Namun hal tersebut diyakini sebagian besar muslim di negeri ini sebagai bid’ah hasanah.

Karena itu apakah hal-hal yang furu’iyyah dapat  menghapus hal-hal yang bersifat ushuliyah?

Islam adalah agama wahyu atau agama langit. Agar bisa membumi, diterima, difahami dan diamalkan manusia, maka Allah mengangkat utusan (Rasulullah) dari kalangan manusia yang dipilihnya. Dan utusan yang terakhir adalah Nabi Muhammad.

Justru dengan demikian agama samawi bisa membumi. Tanpa simbul tradisi dan budaya yang merupakan kreatifitas akal manusia, maka agama langit akan sulit diterima, dipahami dan diamalkan oleh manusia.

Allah adalah dzat Yang Maha Kuasa. Sementara hamba-hamba ciptaan-Nya adalah makhluk yang lemah. Nabi Musa ingin bertemu Allah di muka bumi ini, Nabi Musa tidak kuat, apalagi kita mansia biasa yang bukan Nabi dan bukan Rasul.

Karenanya dapat dimengerti bahwa hal-hal yang furu’ adalah alat perantara (washilah) untuk mencapai tujuan (al-ghayah) agar hal-hal yang ushuliyah dapat dipahami dan diamalkan. Hal-hal yang ushuliyah juga merupakan washilah untuk mencapai derajat taqwa kepada Allah. Karenanya hal-hal yang furu’ tidak akan bisa mengjapus hal-hal yang ushul. Jadi masuk akal bukan? Wallahu a’lam.

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah