Temui Paus Fransiskus di Vatikan, Ketua GP Ansor Jateng Hadiahkan Batik Truntum

0
1333

Vatikan– nujateng.com Di sela mendampingi Katib Aam Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengunjungi Vatikan, rombongan di antaranya Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, dan Ketua PW GP Ansor Jateng H Sholahuddin Aly, secara khusus mendapat perhatian dari Paus Fransiskus saat Audiensi Umum, Rabu (25/9/2019).

Pada kesempatan tersebut, Ketua PW GP Ansor Jateng yang berada dikerumunan jemaat secara khusus dipanggil untuk mendekat ke kawasan VVIP atau tamu khusus untuk bersalaman, memberikan hadiah ke Paus Fransiskus berupa Batik karya perancang busana ternama di Indonesia, Iwan Tirta.

“Barusan ikut audiensi umum dengan Pope Franciskus, saya dipanggil untuk mendekat masuk barikade tamu VVIP. Saya memperkenalkan diri lalu memberi hadiah batik motif Boketan Truntum untuk Paus,” ujar Gus Sholah.

Pada momentum tersebut, Paus menyampaikan sejumlah pesan, di antaranya pesan untuk saling mendoakan.

“Sambil salaman, Pope Francis beberapa kali bilang ‘pray for me’ dua sampai tiga kali ke saya,” ujar Gus Sholah.

Menurut Gus Sholah, pemberian hadiah berupa batik ke Paus Fransiskus, karena batik adalah khas bagi Indonesia di dunia internasional, selain tentunya sebagai warisan budaya Indonesia.

Sedangkan pemilihan batik motif Boketan Truntum untuk Paus, lanjutnya, memiliki pesan tentang keindahan serta keabadian cinta kasih sesama umat manusia.

Selain Paus Fransiskus, Gus Sholah juga memberikan hadiah Batik pada Sekretaris Pontifical Council for Interreligious Dialogue Vatican Mgr Indunil Kodithuwakku, di Vatikan, Selasa (24/9/2019) sore waktu setempat.

Adapun, rangkaian kunjungan ke Vatikan ini, membawa misi besar yakni mekakukan sosialisasi dan kampanye perdamaian dan Islam yang Ramah dengan menjalin kerjasama antara Nahdlatul Ulama dan Vatikan.

Sosialisasi yang dimaksud adalah hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama di Banjar Patroman, Jabar, Februari 2019 lalu.

Munas antara lain memutuskan menghilangkan sebutan Kafir bagi Warga Negara Indonesia yang tidak beragama Islam.

“Keputusan itu diambil sebagai langkah untuk merekontekstualisasi pemahaman keagaman umat dan bangsa. Hal ini penting dilakukan untuk menghindarkan konflik atas nama agama ke depan,” ujar Gus Yahya.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.id, Sekretaris Pontifical Council for Interreligious Dialogue Vatican Mgr Indunil Kodithuwakku mengatakan,
”Kami semua ingin menjadi pencipta kedamaian, bukan perusak kedamaian,” ujar Kodithuwakku.

Tahun ini, lanjut Kodithuwakku, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Universitas Al-Azhar Kairo yang difasilitasi Uni Emirat Arab menandatangani Deklarasi Abu Dhabi.

Deklarasi antara lain berisi, menghentikan penggunaan nama Tuhan untuk menghalalkan kekerasan, terorisme, dan pembunuhan serta berhenti menggunakan agama untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

”Itu (deklarasi) bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Hal seperti ini yang mesti kita dorong ke depan,” ujarnya.

Dalam pertemuan ini, Kodithuwakku didampingi Pastor Markus Solo, yang berasal dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sudah 12 tahun mengabdi di Vatikan.

“Kami punya sejarah hubungan dengan NU cukup lama dan kami tahu bagaimana pandangan dan pemahaman keagamaan NU. Dulu, Gus Dur biasa keluar masuk Vatikan, tetapi sudah lama tak ada pimpinan NU yang berkunjung ke sini,” kata Romo Markus.(Ansor/Ed: Rs-011)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.