LP Ma’arif NU Kota Semarang Kembangkan School Based Manajemen

0
570

Semarang nujateng.com Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kota Semarang memilih mengembangkan pendekatan manajemen unggul dalam strateginya untuk memacu semua satuan pendidikan di era zonasi ini. Hal ini dikatakan oleh ketua LP Maarif NU Kota Semarang, H Asikin Khusnan seusai rapat kerja dinas (Rakerdin) di aula MA Al Asror, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang.

“School Based Management dalam mengelola satuan pendidikan, dengan memperkuat karakter, keunggulan, kekhasan dan dukungan masyarakat atau community support,” kata Asikin, Rabu (18/9/2010) sore.

Manajemen unggul ini, lanjutnya, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah/madrasah LP Ma’arif NU Kota Semarang semakin meningkat. Sehingga, dalam penerimaan siswa baru nanti target sekolah diharapkan bisa terpenuhi.

Asikin menjelaskan, salah satu tugas utama LP Ma’arif NU adalah mengkoordinasikan satuan pendidikan yang mana praktiknya melakukan penguatan karakter Aswaja An-nahdliyyah dan nasionalisme. “Penguatan karakter dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran dan pembiasaan pada satuan pendidikan,” ucapnya.

Menurutnya, nilai-nilai Aswaja An-nahdliyah dan nasionalisme secara gamblang telah diajarkan dalam mata pelajaran ke-NU-an. Selain itu, juga diintegarasikan ke dalam semua mata pelajaran lain yang relevan.

Diterangkannya, penanaman nilai-nilai Aswaja An-nahdliyyah seperti tawasuth, tawazun, tasamuh, i’tidal dan cinta tanah air juga dilakukan melalui pembiasaan peserta didik. “Ada istighosah, ziarah kubur, tahlil, manaqib, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubbanul Wathan setiap pagi sebelum proses belajar mengajar dimulai,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, guru yang kompeten dan profesional akan mampu melahirkan peserta didik yang berprestasi dan meningkatkan mutu satuan pendidikan di LP Ma’arif NU Kota Semarang

Menanggapi beberapa kasus anak sekolah yang beberapa hari ini marak, Asikin mengingatkan, kenakalan anak sekolah (pelajar), harus dilihat sebagai akumulasi dan dampak dari tidak terpadunya bimbingan dan pembinaan anak pada tri pusat pendidikan, yaitu keluarga, masyarakat dan satuan pendidikan.

“Semua harus peduli pendidikan dan berpartisipasi dalam pembimbingan dan pembinaan anak. Keluarga peduli, lingkungan masyarakat bernuansa pembelajar, dan satuan pendidikan yang berkarakter akan mampu mengeliminasi kenakalan pelajar,” pungkasnya. (Rep:Rifqi/Ed: Rs-011)