Konsentrasi

0
766

Oleh : Lek Basyid Tralala*

Syamsul  seorang anak yang setiap hari rajin ke masjid. Namun, suatu ketika  ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, mulai hari ini aku tidak mau ke masjid lagi.”

            “Lho mengapa?” sahut sang ayah keheranan.

“Karena di masjid aku menemukan orang-orang yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan Handphone, sementara yang lain membicarakan asyik  keburukan orang lain.”

Sang ayah pun berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan. Setelah itu baru kamu boleh memutuskan apapun ! ”

Syarat apa itu, Yah?”

“Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid. Ingat, jangan sampai ada setetes air pun yang tumpah.”

Sang anak pun menyanggupi. Ia membawa segelas air berkeliling masjid dengan sangat hati-hati. Tidak ada setetes air pun yang jatuh karenanya. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,    

“Apakah  kamu sudah membawa air itu keliling masjid?” Anaknya menjawab, “Sudah.”

“Apakah ada yang tumpah?”

“Tidak,” jawab anak itu.

“Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan Handphone?” Tanya si ayah lagi.

“Duh, aku tidak tahu, yah !. Pandanganku hanya tertuju pada gelas ini saja, Ayah,” jawab anaknya.

Kembali si ayah bertanya, “Apakah di masjid tadi ada orang-orang  yang membicarakan kejelekan orang lain? Wah, aku juga tidak dengar. Konsentrasiku hanya tertuju untuk menjaga air dalam gelas ini saja.”

Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, “Begitulah hidup anakku, jika kamu konsentrasi pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu sendiri.”

***

Dibalik sebuah cerita tersimpan pembelajaran bagi orang – orang beruntung. Begitu pula pada kisah di atas. Cerita tersebut  sangat relevan dalam konteks sekarang terutama dalam rangka membangun manusia Indonesia yang unggul dan berbudi pekerti. Pembentukan peribadi yang unggul dapat dimulai dari rumah. Sekolah atau pondok pensantren hanyalah  sebatas lembaga yang bertugas menambah atau  menyempurnakan pendidikan di rumah dan orang tua tetap menjadi pengendali utama kesuksesan belajar sang anak.

Kendala utama penanamn kepribadian unggul dan berkarkter pada diri anak di rumah atau di sekolah adalah lemahnya konsentrasi belajar.  Konsentrasi belajar terjadi karena memudarnya fokus  belajar. Hal ini disebabkan adanya pencabangan pemikiran, seperti  ingin bermain, ada hasrat lain yang tersembunyi, atau lemahnya komunikasi dengan orang tua.

Indikasi  menurunnya konsentrasi belajar adalah berkurang semangat bersekolah. Bangun kesiangan, pekerjaan rumah tidak diselesaikan atau  pulang sekolah selalu terlambat. Fenomena seperti ini akan terus berlanjut apabila sang anak belum bisa menemukan solusinya serta para orang acuh terhadap masalah anak. Sedangkan dampak terfatalnya adalah kegagalan belajar. tidak naik kelas atau keluar sekolah.

Upaya persuasif bahkan represif dari orang tua atau sekolah terkadang perlu dilakukan guna  membuka kesadaran agar sang anak tetap semangat bersekolah. Namun sayang,  usaha tersebut sering gagal karena magnet di luar lebih kuat dari motivasi itu sendiri. Sedangkan  hukuman tidak lagi menjadi sesuatu yang  menakutkan, sedangkan nasihat hanya sekedar untaian kata indah yang manis di telinga.

Menyikapi hal tersebut,  perlunya  kesamaan sikap antara pihak sekolah dan orang tua. Salah satunya orang tua harus terbuka kepada  sekolah, begitu pula sekolah harus proaktif dalam menangani masalah siswa tersebut. Keakuratan data, kesabaran dan tidak pilih kasih harus dikedepankan guna menumbuhkan keprofesionalan dalam bekerja. Begitu pula orang tua jangan lepas tangan terhadap masalah anak, apalagi sampai  menjelek-jelekan guru dihadapan anaknya.

Jika demikian perlunya rumusan strategi guna menjaga konsentrasi belajar anak diantaranya  kuatkan niat, komukasi sehat antara orang tua dan anak, kontrol kegiatan, konsistensi sikap orang tua, dan bangun cita-cita.

  1. Kuatkan Niat

Di dalam jiwa manusia ada sebuah kekuatan yang sangat luar biasa yakni niat. Bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan Jika seseorang ingin melakukan perbuatan jelek tapi terjadi kontradiksi dalam hati itu artinya antara niat dan perbuatan terjadi pertentangan. Maka wajar sekali setelah  perbuatan tersebut dilakukan akan muncul rasa pertobatan atas prilaku tersebut.

Begitu pula orang tua ketika hendak menyekolahkan anaknya, tanamkan bahwa niatan bersekolah adalah melaksanakan perintah agama, mencari ilmu untuk bekal di masa datang. Di sekolah tidak ada pelajaran yang sulit, yang ada hanyalah kurangnya semangat belajar siswa.

  • Komunikasi yang sehat

Komunikasi merupakan aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Setiap orang yang hidup dalam masyarakat, dari bangun tidur hingga tidur lagi, secara kodrati senantiasa terlibat  komunikasi dengan sesama. Terjadinya komunikasi sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations).

Komunikasi antarpribadi mempunyai banyak manfaat. Melalui komunikasi antarpribadi seorang individu dapat mengenal diri sendiri dan orang lain, menjalin hubungan yang lebih bermakna serta dapat mengubah nilai-nilai dan sikap hidup orang lain. dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh dalam rangka  mengubah mind sett, sikap, kepercayaan, opini dan  perilaku komunikan. Alasannya karena komunikasi antarpribadi umumnya berlangsung secara tatap muka (face to face), sehingga  terjadilah kontak psikologi kedua belah pihak.

Komunikasi antarpribadi diterapkan oleh orang tua /  guru untuk membuat anak didiknya merasa nyaman di rumah atau di sekolah. Bila ada sikap aneh terhadap  perubahan mimik serta merta orang tua atau guru segera bertanya kepada anak tersebut secara pribadi. Sehingga orang tua atau guru segera  mengetahui apa yang dirasakan oleh anaknya terutama yang berkaitan dengan kesulitan belajar.

  • Kontrol Kegiatan.

Banyak anak curhat kepada kepada gurunya karena protek orang tua. Berbagai alasan disampaikan agar anak tetap berada di rumah setelah pulang sekolah.  Kegiatan ektrapun  juga tidak diperkenankan dengan alasan pulangnya terlalu sore.

Pembatasan kegiatan yang dilakukan oleh orang tua adalah sesuatu yang wajar,  asal tidak sampai mematikan kreativitas anak. Pada dasarnya masa belajar adalah masa pertumbuhan. Pemberian kesempatan beraktivitas  merupakan sarana penanaman kepercayaan orang tua kepada anak. Selain itu, juga untuk menumbuhkan pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Lalu agar anak tidak terlelap dalam aktivitas di luar rumah ajaklah sang anak untuk menyusun jadwal kegiatan serta memilih kegiatan yang harus diikuti. Dengan demikian bila jadwal tidak ditepati orang tua langsung kontak atau bisa menghubingi wali kelasnya.

  • Konsistensi orang tua.

Sikap dan perilaku konsisten merupakan salah satu indikator kunci dalam diri seseorang yang memiliki integritas. Semakin tinggi sikap dan perilaku kosnsitensinya biasanya integritasnya juga semakin tinggi. Konsistensi adalah suatu keharusan ketika hendak membangun dan menanankan kedisiplinan pada anak terutama sikap orang tua.

Konsisten itu merupakan suatu kegiatan  yang dikerjakan berulang kali dan terus menerus tanpa jeda waktu hingga menjadi sebuah kebiasaan hidup.  Pemahaman ini hendaknya dikembangkan ke ranah  kegiatan yang positif  dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan keluarga..

Konsisten pikiran, sikap, bicara dan perbuatan merupakan pilihan setiap orang. Artinya, tidak otomatis setiap orang menjadi konsisten. Saat memilih sikap konsisten maka seluruh kehidupannya menjadi konsisten. 

Tidak hanya seketika, atau sekali-sekali saja, atau kadang-kadang tergantung moodnya, atau saat dibutuhkan saja. Tidak sama sekali seperti itu. Tetapi konsisten dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan seumur hidupnya. Memang memelihara, merawat dan mengembangkan sikap konsisten dalam  hidup sangat  baik bahkan ada yang mengatakan sebagian keberhasilan sudah ada di tangan.  

Pertanyaannya apakah orang tua sudah cukup konsisten dalam membangun  karakter anak ? Sebagai contoh, mengubah kebiasaan bangun pagi hari dari pukul 06.00 pagi menjadi pukul 04.30  pagi. Lalu kapan waktu anak belajar dan kapan pula anak harus mengaji. Bahkan ada anjuran antara pukul 18.00 – 20.00 WIB agar TV dimatikan. Sudahkah hal tersebut dilakukan.

  • Bangun Cita – cita

Setiap anak punya impian masa depan. Adanya yang ingin jadi dokter, dosen, TNI, POLRI, pengusaha, atau seniman. Bila anaknya dua maka impiannya dua. Bila anaknya empat berarti ada empat keinginan yang harus terjaga oleh tua. Namun impian tersebut sering berubah seirama usia mereka. Perubahan cita – cita  hendaknya terus terpantau orang tua agar impian itu bisa menjadi alat untuk memotivasi anak.

Alangkah indanya jika alasan mempunyai impian tersebut dikomunikasikan dengan  orang tua.  Sehingga orang tua bisa mengambil langkah guna memberikan suntikan ekstra bila si anak sedikit mengalami penurunan semangat belajar. Selain itu, orang tua juga perlu menyiapkan strategi lain manakala impian tersebut terbentur masalah yang sulit teratasi.

Orang tua tetap berperan sentral manakala si buah hati mengalami dekonsentrasi belajar.  Komunikasi orang tua dengan anak bak hubungan antarkasih, sehingga  sesibuk apapun tetap harus terjaga dengan baik. Jalinan online di setiap malam harus dipanjatkan guna membangun pribadi rohani yang kuat. “ Ya Allah tempatkanlan anak ketempat yang baik karena Engkaulah sebaik-baiknya Dzat Yang Menempatkan

*Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan.