Konotasi Religius, Makna Syariat

0
412
Melanggar Sumpah

Penulis : Sumanto Al Qurtuby *

nujateng.com Anda tentu sudah biasa mendengar kata “syariat” atau “syari’at” karena sudah sering sekali diobral di Indonesia dan semakin gencar dipromosikan oleh para sales syurgah.

Tetapi apa sih sebetulnya makna dasar syari’at itu? Dan apakah kata ini hanya dipakai oleh umat Islam saja? Hanya berkonotasi “relijiyes” saja?

Dalam kajian linguistik dan sejarah kebahasaan di Timur Tengah, tempat dimana kata ini pertama muncul, kata “syariat” itu memiliki akar kesejarahan dan kebahasaan yang cukup rumit dan kompleks. Kata ini tidak selalu berkonotasi relijiyes. Kata ini juga tidak hanya dipakai oleh umat Islam saja. Dan memang, kata “syariat” dalam bahasa Arab berakar dari Bahasa Ibrani dan Aram.
Makna dasar kata ini adalah “jalan” atau “jalan setapak” atau lebih spesifik lagi “jalan [setapak] yang harus diikuti”. Asal-usul atau konteks awalnya adalah “jalan menuju sumber mata air”.

Dalam sejarahnya, sebelum berkonotasi keagamaan (baca: “jalan Tuhan”), kata syariat juga biasa dipakai dalam konteks non-agama. Misalnya, para suku Arab Badui pastoralis nomaden biasa menyebut kata “syariat” (dan turunannya) untuk “jalan setapak yang biasa dilalui oleh hewan-hewan menuju sumber mata air”.

Kata syariat kemudian dijadikan atau dimaknai sebagai “jalan Tuhan” yang berkonotasi keagamaan karena pentingnya jalan menuju sumber mata air ini sebagai sumber kehidupan, apalagi di gurun pasir yang gersang dan kering-kerontang yang susah sekali mencari sumber-sumber mata air.

Apakah Muslim sebagai satu-satunya umat agama yang menggunakan kata “syari’at” dalam konteks keagamaan sebagai “jalan Tuhan”? Tidak. Umat Kristen dan Yahudi di Timur Tengah juga menggunakan atau memakai kata “syari’at” untuk menerangkan hukum atau jalan Tuhan dalam tradisi agama mereka.

Pada abad pertengah, kata “Taurat” juga diterjemahkan atau dimaknai sebagai “syar’at” oleh kaum Yahudi berbahasa Arab di Timur Tengah. Rabbi Sa’id bin Yusuf Al-Fayumi, salah satu filsuf dan tokoh Yahudi Arab yang sangat masyhur selalu menyebut kata “syari’at” untuk hal-ikhwal yang berkaitan dengan hukum / jalan Tuhan bagi umat Yahudi. Rabbi Sa’id dikenal sebagai pendiri atau pemrakarsa penerjemahan literatur-literatur (termasuk teks-teks keagamaan) Yahudi berbahasa Ibrani ke dalam Bahasa Arab.

Nah, apakah sekarang sudah ada sedikit gambaran tentang kata “syariat”? Jadi apa kira-kira makna dan maksud dari “bank syariat”, “perda syariat”, “perumahan syariat”, “kos-kosan syariat”, “hotel syariat”, “losmen syariat” atau mungkin “begenggek dan tempat ngencuk syariat”…?

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

*Dosen antropologi di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi