Kisah Ulama Klasik dalam Menyelesaikan Masalah

0
641
Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH. Mohamad Muzammil. (Dok: nujateng.com)

Setiap orang selalu menghadapi masalah. Tidak ada orang yang hidup di dunia ini tanpa masalah. Baik yang sederhana maupun yang rumit. Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Kadang manusia berkeluh kesah karena menghadapi masalahnya. Ini biasa terjadi.

Sebaik-baik orang yang menghadapi masalah adalah orang yang memiliki kesadaran untuk memecahkan masalahnya. Tanpa adanya kesadaran, tentu seseorang tidak akan berpikir jernih.

Secara umum, orang yang menghadapi masalah akan merumuskan masalahnya, disusun dugaan jawabannya. Setelah itu ia akan mencari dan mencatat data atau informasi yang dapat membantu untuk memecahkan masalahnya. Setelah mendapatkan data atau informasi yang cukup, kemudian dipilah dan dianalisis, sehingga ditemukan alternatif pemecahannya. Kemudian disimpulkan dan diambil salah satu alternatif yang dapat dilakukannya. Tentu setelah dipertimbangkan manfaat dan madlaratnya.

Langkah demikian itu adalah pemecahan masalah secara ilmiah, menurut pandangan paham positivistis, empiris dan logis. Bagi orang-orang yang menganut paham positivisme, empirisme dan rasionalisme, langkah-langkah tersebut dilakukan secara teliti dengan melakukan riset dengan menerapkan ilmu pengetahuan modern.

Kita orang Islam banyak terpengaruh dalam melakukan pendekatan ilmiah tersebut dalam pemecahan masalah. Namun kita sebagai orang Islam tidak cukup jika melakukan pendekatan ilmiah, karena masalah yang kita hadapi terkadang sulit dinalar dengan rasio atau data-data empiris.

Pendekatan ilmiah adalah ikhtiar lahir dalam mengatasi masalah. Dan ini adalah manusiawi. Namun ada faktor x yang kadang berpengaruh besar dalam keberhasilan mengatasi masalah yang dihadapi.  Karenanya dalam perspektif Islam, selain diperlukan langkah-langkah lahir juga diperlukan langkah-langkah batin.

Dalam suatu riwayat dari alim ulama disebutkan, setelah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari berdialog dengan Gurunya, Al-Juba’i. Ia sementara waktu tidak muncul di publik. Ia terus belajar, melakukan mujahadah dan riyadloh, sehingga ia dapat menemukan dalil-dalil yang shahih dan mutawatir.

Perawi Hadits yang populer seperti Imam Buchari Ra, dalam rangka mengumpulkan sunah-sunah Nabi Muhammad Saw, baik perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah), maupun ketetapan (taqririyah), Imam Buchori Ra. menemui ribuan ulama pada masanya untuk mem-validasi keabsahan atau tingkat keshahihan suatu Hadits; apakah mutawatir, shahih, hasan, ahad, dlaif atau munqati’.

Setelah menemui ribuan ulama pada masanya, kemudian Imam Bukhari Ra. kembali ke Masjid Nabawi untuk melakukan riyadloh batin kemudian, setelah itu baru menuliskannya pada kitabnya dalam keadaan bersuci dari hadats dan berpuasa, sehingga bisa dirampungkan kitab Hadits Shahih Bukhari.

Dikisahkan juga oleh beberapa ulama, hal yang lebih unik lagi dilakukan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ra.

Untuk membedakan Hadits-Hadits yang valid, ia mencium aroma hadits. Kalau berbau harum maka diyakininya sebagai hadits yang shahih, dan seterusnya. Ini bukan tidak rasional tapi supra rasional, karena akal pikiran manusia biasa tidak akan bisa menjangkaunya.

Sebagai orang Islam kita yakin bahwa setiap orang Islam memiliki tingkat spiritualitas atau pengalaman batin yang berbeda. Hal ini bersifat naluri, dan tidak bisa dipaksakan. Yang percaya ya silahkan, yang tidak percaya juga silahkan. Santai saja.

Menurut hemat penulis yang sangat awam, penulis percaya saja terhadap apa yang dilakukan oleh ulama terdahulu seperti Imam Al-Asy’ari, Imam Bukhori dan Imam Al-Ghazali,  karena keimanan dan keyakinannya yang sangat besar terhadap hal-hal yang gaib seperti Malaikat, dan Yang Maha Gaib, Allah Swt.

Bagi orang yang masih awam seperti penulis, selain melakukan pemecahan masalah secara dhohir, maksimal bertanya kepada alim ulama yang bisa kita jumpai. Lebih dari itu kita berdo’a yang kita bisa. Nah, bagaimana menurut anda? Semoga kita bisa memecahkan masalah kita dengan baik, amin.

Wallahu a’lam

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah