Perlunya Mengikuti dan Bertanya kepada Ulama

0
885
Ilustrasi, dalam film Sang Kiai, tampak Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari dicium tangannya oleh para santri dan umat Islam.

Kemampuan para santri dalam menghafal al-Qur’an dan al-Hadits sudah dilakukan sejak generasi pertama Islam (as-saabiq al-awwaluun), yaitu pada masa Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam (Saw) dan para sahabat-nya Radliyallaahu ‘anhum (Ra).

Tentu bukan hanya kemampuan menghafal saja, namun juga dilakukan upaya pemahaman (tafaqquh fi ad-diin) dan pengamalan karena mencari keridlaan Allah Saw.

Selain menghafal, pemahaman dan pengamalan, juga dilakukan upaya penulisan wahyu tersebut, antara lain dilakukan oleh Sahabat Zaid bin Tsabit Ra., di pelepah kurma, kulit dan bebatuan, sehingga wahyu yang diterima oleh Nabi Agung Muhammad Saw bisa diingat dan dipahami oleh para sahabat dan keluarganya.

Nabi Muhammad Saw adalah “al-Qur’an berjalan”, karena akhlak atau kebiasaan perilaku Nabi adalah al-Qur’an. Hal ini diriwayatkan oleh salah seorang istri tercinta Baginda Nabi, Sayyidatina Aisyah Ra. bahwa “Akhlaq Nabi adalah Al-Qur’an” atau “Kaana khuluquhu al-Qur’an”, sehingga bagi para sahabat yang belum bisa memahami al-Qur’an dapat langsung melihat dan mencontoh perilaku (al-sunnah) Nabi secara langsung, baik perkataan (qauliyah), tindakan (fi’liyah) maupun ketetapan (taqririyah) Nabi Saw. sehari-hari. Karena itu Nabi Saw. adalah suri tauladan yang baik (uswatun khasanah) bagi orang-orang yang mengharap kasih sayang (rahmat) Allah dan menyebut-Nya (berdzikir) dengan sebutan yang banyak.

Di samping itu, jika umat waktu itu menemui suatu masalah dalam kehidupannya, mereka langsung dapat bertanya kepada Nabi Saw., sehingga paham (al-fiqh) mereka terhadap wahyu adalah sebagaimana pemahaman Nabi Saw terhadap wahyu yang diterimanya, yang dituntun oleh Malaikat Jibril ‘Alaihi all-salam (As), sehingga fiqh yang ada waktu itu adalah benar adanya (wa huwa ashqaq qaailiin). Di samping itu juga, Nabi Saw adalah ma’shum, selalu dijaga oleh Allah Swt. dari kesalahan atau kekeliruan.

Selain itu, ketika Nabi Saw. mengutus Sahabat Muadz bin Jabal menjadi “Gubernur” di Yaman, Nabi Saw bertanya kepada seorang sahabatnya itu. “Wahai Sahabat Muadz, dengan apa engkau akan memutuskan suatu perkara ummat?”, Sahabat Muadz menjawab, “akan saya putuskan dengan al-Qur’an”. Kemudian Nabi Saw. bertanya “kalau di dalam al-Qur’an tidak engkau jumpai ketentuan hukumnya, engkau akan memutuskan dengan apa?”. Sahabat Muadz menjawab, “akan aku putuskan dengan sunah-sunah Nabi Saw”. Kemudian Nabi Saw. bertanya lagi, “kalau dalam sunahku juga engkau tidak menemukan ketentuan hukumnya engkau akan memutuskan dengan apa?” Sahabat Muadz menjawab akan aku putuskan dengan pendapatku.

Dengan demikian, mulai saat itu sumber hukum Islam adalah al-Qur’an, al-Hadits atau kumpulan sunah-sunah Nabi Saw. dan pendapat sahabat.

Pendapat Sahabat Nabi dan para pengikutnya (at-tabi’in) kemudian dipilah atau dikategorisasikan oleh para ulama mujtahid menjadi ijma’ atau kesepakatan dan qiyas atau analogi, yaitu suatu masalah baru yang belum ada ketentuan hukumnya dicarikan kesamaan ‘illat (alasan)-nya dengan masalah lama yang sudah ada ketentuan hukumnya.

Karena itu, ijma’ dan qiyas adalah metodologi ijtihad atau metodologi berpikir (manhaj Aal-fikr) yang dilakukan oleh ulama Ahl as-Sunnah wa al-jamaa’ah (Aswaja) yang dipelopori oleh imam madzhab empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan imam Hambali). Di kalangan ulama ahli fiqh, memang ada metode lain, seperti ‘urf, maslahah mursalah, istihsan, sadz adz-dzari’ah, dan lainnya, namun para ulama berbeda pendapat dalam menerapkan metodologi istinbat tersebut.

Karena itu, untuk kehati-hatian, ulama Aswaja menggunakan rujukan al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Untuk memperdalam metodologi ijtihad tersebut, dikenal pula ilmu qawaaid fiqhiyyah dan ushul al-fiqh, yang dirumuskan oleh imam madzhab empat tersebut, terutama dirintis oleh Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i.

Dengan demikian, jika saat ini akan dilakukan ijtihad, maka tidak cukup apabila dilakukan hanya dengan kemampuan menguasai Bahasa Arab dan  menghafal al-Qur’an dan serta al-Hadits semata, namun juga harus menguasai khasanah keilmuan Islam yang sudah disusun oleh para ulama mujtahid terdahulu, seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, rijalul hadits, asbabun nujul, asbabul wurud, ilmu mantiq, dan masih banyak ilmu keislaman lainnya yang ditulis dalam kitab-kitab yang muktabar.

Jadi, bagi kita yang masih awam, cukup kita mengikuti para ulama yang memiliki kemampuan dan integritas serta berakhlak mulia. “Fas’alu ahla al-dzikri in kuntum laa ta’lamuun” (bertanyalah kepada ahli dzikir sekiranya engkau tidak mengetahui”. Bukankah malu bertanya akan sesat di jalan?. Wallaahu a’lam.

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah periode 2018-2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.