TIGA TUGAS KADER DALAM TRILOGI IPNU-IPPNU

0
1489

Oleh : Intan Khumairo*

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau biasa dikenal dengan IPNU dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama atau biasa dikenal IPPNU adalah dua organisasi bagi pelajar NU sebagai wadah pencetak generasi muda NU. Sebuah organisasi pastilah memiliki tugas dan tujuan tertentu sebagai cita-cita para anggotanya. Dalam IPNU dan IPPNU, para pelajar sebagai kadernya ditugaskan untuk belajar, berjuang, dan bertaqwa (Trilogi Pelajar).

Perwujudan tugas kader IPNU-IPPNU yang baik akan menghantarkan pada perwujudan cita-cita NU yang agung. Agar membangkitkan semangat kader IPNU-IPPNU maka tugas trilogi pelajar tersebut sering digaungkan bersama-sama sehingga melekat dalam jiwa kader IPNU-IPPNU.

Lalu apa yang dimaksud dengan belajar, berjuang, dan bertaqwa ?

Kata pertama, yakni belajar.

Mengapa kata belajar diletakkan pada awal ? Anggota dari IPNU-IPPNU adalah para pelajar yang memiliki tugas wajib yakni belajar. Bahkan sebenarnya, belajar tidak hanya diwajibkan bagi pelajar saja. Akan tetapi juga untuk seluruh umat Islam seperti yang telah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam haditsnya, “Mencari ilmu wajib bagi semua Muslim dan Muslimat”.

Kader IPNU-IPPNU masih berada pada tahap awal dalam NU. Dapat diibaratkan seperti orang yang ahli dalam masalah mobil. Mula-mula tidak mengerti apapun tentang mobil. Namun, setelah belajar sedikit demi sedikit mereka dapat mengetahui dan memahami seluk-beluk mobil, sehingga dapat melakukan perbaikan pada mobil yang rusak.

Sama halnya dengan kader IPNU-IPPNU yang harus belajar untuk mengetahui dan memahami seluk-beluk NU sehingga mampu menjadi generasi NU yang berkualitas sesuai dengan harapan NU. Proses belajar ini sangat diperlukan bagi IPNU-IPPNU. Namun tidak hanya belajar saja, tetapi penerapan dalam kehidupan sehari-hari itu jauh lebih diutamakan. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa kata belajar diletakkan pada awal.

Baca Juga  Harlah IPNU-IPPNU, Pelajar NU Sayung Adakan Lomba dan Ziarah Ulama

Belajar bukan hanya di bangku sekolah. Kader IPNU-IPPNU harus dapat mengambil pelajaran atas segala yang dialaminya. Kata belajar disini tidak hanya diartikan sebagai kewajiban belajar tentang NU saja. Namun juga belajar tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) agar mampu mengikuti kemajuan zaman. Selain itu juga harus belajar bagaimana cara menjadi kader unggulan untuk masa depan.

Lalu bagaimanakah cara belajar menjadi kader yang unggulan?

Salah satu cara menjadi kader unggulan yaitu dengan belajar dan mengasah kemampuan diri sesuai potensial yang dimiliki. Ketua IPNU-IPPNU seharusnya mampu memahami potensial setiap anggotanya, sehingga dapat menuntun mereka untuk mengembangkan potensialnya menjadi lebih baik. Seperti yang dikatakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang KH. A. Junaidi Hidayat, SH., S.Ag (g) yakni “Jangan pernah ajari bebek untuk terbang. Ajarilah bebek untuk berenang pasti akan sukses”.

Selain itu, belajar menjadi kader NU unggulan dapat dilakukan dengan banyak berdiskusi. Pada tahap awal mungkin hanya bisa mendengarkan diskusi yang diikuti. Jika sudah terbiasa mendengarkan, cobalah untuk berani berpendapat. Jangan takut salah, karena mengeluarkan pendapat menjadi hak bagi seluruh manusia.

Setelah terbiasa berdiskusi dan berpendapat akan mengasah otak sehingga akan lebih cepat dalam menerima dan menanggapi sesuatu. Pelatihan berbicara dengan mengutarakan pendapat dalam diskusi sangat bermanfaat bagi kader IPNU-IPPNU karena pada zaman ini, karena kemampuan berbicara sangat diperhatikan dalam bermasyarakat. Kemampuan berbicara muncul dengan diimbangi membaca literatur untuk menambah wawasan dan kosa-kata baru.

Kata kedua, yakni berjuang.

Pada keterangan di atas telah dijelaskan bahwa wujud dari hasil belajar adalah penerapannya dalam kehidupan. Setelah kader IPNU-IPPNU belajar dan mengamalkan ilmunya, terutama ilmu tentang agama dan amaliyah NU mereka berkewajiban untuk berjuang melestarikannya. Untuk melestarikan amaliyah NU harus dilaksanakan dengan Istiqomah. Sedang istiqomah bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Baca Juga  Gus Solah yang Gampangan dan Kami yang Amatiran

 Oleh karena itu, mereka kader IPNU-IPPNU harus berjuang istiqomah dalam melestarikan amaliyah NU. Setelah berhasil dalam berjuang meng-istiqomah-kan amaliyah NU, mereka juga dapat berjuang untuk memperkenalkan amaliyah NU pada dunia luar, mampu menjelaskan bahwa amaliyah NU bukanlah bid’ah seperti yang dikatakan sebagian orang. Usaha seperti akan menambah banyak orang yang mengenal NU dengan amaliyahnya.

Dalam proses berjuang, juga dibutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah. Masalah dalam berjuang tidak hanya dari faktor eksternal seperti komentar tidak baik tentang IPNU-IPPNU. Ketika terjadi hal semacam itu, kader IPNU-IPPNU harus dapat menjelaskannya dengan baik tanpa emosi dan menimbulkan perselisihan.

Masalah juga bisa datang dari internal. Dalam  berorganisasi tentu banyak karakteristik setiap anggotanya. Ketika dalam sebuah acara IPNU-IPPNU hanya beberapa anggota saja yang berkerja, sehingga menimbulkan kecemburuan. Hal itu dapat dicegah dengan adanya pembagian tugas yang adil, juga menjadi pembelajaran kader IPNU-IPPNU dalam mengadakan sebuah acara.

Kata ketiga, yakni bertaqwa.

Mengapa kata bertaqwa berada diakhir, Padahal taqwa menjadi perintah Allah dan Rasul-Nya?

Perintah bertaqwa sangatlah jelas tercantum dalam Al-qur’an yakni dalam Surat Al-imron ayat 102.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Untuk mewujudkan taqwa dengan sebenarnya taqwa membutuhkan ilmu. Bagaimana bisa kita bertaqwa jika tidak mengetahui caranya?

Ketika dalam proses belajar dilakukan dengan baik, mengetahui perintah-perintah Allah SWT. dan segala larangan-Nya, taqwa dapat diaplikasikan dengan sempurna. Beruntunglah para kader IPNU-IPPNU yang melaksanakan amaliyah NU, mereka memiliki dua keuntungan yakni istiqomah dalam amaliyah NU (ibadah kepada Allah) dan menambah level taqwa. Dengan bertaqwa dan membawa nama Allah SWT dalam segala kehidupan terutama dalam organisasi akan mempermudah segala urusan kita.

Baca Juga  Ashabul Kahfi, Jejak Perlawan Rakyat Kepada Pemimpin Dzalim (Bag-1)

Trilogi pelajar sebagai tugas kader IPNU-IPPNU harus dikenalkan kepada mereka agar menjadi pijakan mereka dalam NU. Dengan pengenalan tersebut,  harapannya dapat mencetak generasi NU yang memiliki kualitas IPTEK dan IMTAQ yang luar biasa.

Salam Belajar Berjuang Bertaqwa.

*Penulis adalah abdi dalem generasi pelajar NU