KH. Abdullah Sajad: Tujuh Peninggalan Islam di Situs Sedangguwo (Bag.2-habis)

0
663

Semarang nujateng.com Di Sendangguwo sendiri, dipercayai bahwa daerah tersebut pernah menjadi tempat singgah (petilasan agung) Sunan Kalijaga, tepat di punden Guwo. Salah satu murid Sunan Kalijaga (Nyai Rebon) yang konon berasal dari Cirebon pun menetap, hingga Beliau wafat dan dimakamkan di RT 01 RW 01, Kelurahan Sendangguwo. Tak hanya itu, ada tujuh peninggalan-peninggalan Islam di Situs Sendangguwo.

1. Masjid Berumur Lebih Satu Abad

Tidak dapat diketahui persis kapan masjid ini berdiri, tetapi yang jelas ia merupakan bukti dakwah Islam di wilayah Semarang ‘bentangan’ Timur sejak satu abad yang lalu. Mesjid As-Sajad (demikian sekarang masyarakat menyebut) didirikan oleh KH. Abdullah Sajad, mungkin sekitar akhir abad 19. Karena menurut penuturan dari para keturunannya seperti telah saya uraikan.

Disamping mendirikan masjid KH. Abdullah Sajad juga mendirikan Pondok Pesantren yang terletak di depan masjid. Masjid, pesantren, rumah kiai, memang merupakan ciri utama sebuah bangunan pondok pesantren. Sepeninggal KH. Abdullah Sajad pesantren tersebut dilanjutkan oleh putranya KH. Muhammad Dimyati mungkin kurang lebih sejak tahun 1918 – tahun wafat KH. Abdullah Sajad – sampai wafatnya tahun 1955

Menurut penuturan K. Muzayyin putra KH. Dimyati, ayahnya mulai mengajar di pensantren sejak umur 22 tahun. Beliau lahir kurang lebih 1896 karena menurut penuturan beliau sendiri pada saat hujan abu 1901 KH. Dimyati berumur 5 tahun. Dengan demikian maka meninggalnya KH. Abdullah Sajad kurang lebih tahun 1918-an. Selanjutnya diteruskan adiknya KH. Abdullah Daenuri sampai wafatnya sekitar tahun 1970-an.

Tetapi bangunan tua pesantren itu kini telah tidak ada. Walaupun demikian tidak berarti pesantren itu telah punah sama saekali. Sampai sekitar tahun 1970-an masih tetap ada. Para Santrinya datang dari berbagai daerah di Jawa. Kini walaupun ditempat pesantren tua telah hilang, namun di sebelahnya juga masih berdiri bangunan pondok Pesantren Addaenuriyah I yang dikelola oleh KH. Afif Abdullah cucu KH. Abdullah Sajad. Bahkan sejak tahun enam puluhan pesantren tersebut dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya mengelola pondok pesantren dengan sistem salaf, tetapi juga membuka Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah yang menggunakan sistem pendidikan formal.

Pindahan Dari Karangturi

Menurut penuturan K. Muzayyin yang mendapat cerita dari ayahnya , masjid Jami’ As-Sajad merupakan pindahan dari masjid yang dulu terletak di daerah Karangturi Semarang. Memang tidak jelas apakah pindah dalam arti memindah keseluruhan bangunan, atau hanya kayu-kayunya bekas perbaikan dari Masjid di Karangturi tersebut.

Pemindahan tersebut atas saran dari KH. Saleh Darat yang melihat potensi santrinya yang maju dan melihat daerah Sendang Guwo yang rawan terhadap masalah kemusyrikan. Sehingga KH. Abdullah Sajad diperintahkan untuk berdakwah di daerah Sendang Guwo. Menurut sumber setempat mengapa disebut desa Sendang Guwo, karena di desa tersebut memang ada Sendang (kolam) dan Guwo (gua). Kedua tempat yang sampai sekarang masih bisa dilihat jejak-jejak sejarahnya tersebut, konon pusat berkembangnya kemusyrikan yang luar biasa. KH. Abdullah Sajad menempati daerah yang berdekatan dengan Sendang tersebut yang kemudian didirikan Masjid dan pondok pesantren.

Bekas-bekas kayu yang berasal dari masjid Karangturi sampai 1999 masih ada berupa soko masjid empat buah. Ciri utama dibuat dari kayu jati, dengan garapan yang masih sederhana.

2. Jadwal Sholat tahun 1900

Jadwal Sholat tahun 1900 di Masjid As-Sajad Sendangguwo. Karya KH. Dahlan Termas juga menantu KH. Soleh Darat. Jadwal ini menggunakan angka dan huruf Arab. Bahasa Jawa. Menggunakan patokan tahun walandi (Belanda). Terbingkai pada kayu jati. Ukuran panjang/panjang 45cm X lebar 37 Cm

Bukti otentik yang di buat tahun 1318 Hijriyah yang berarti 1900, sampai sekarang masih tetap bertengger di masjid tersebut. Jelas bertenggernya jadual solat tersebut merupakan bukti otentik bahwa masjid ini didirikan sebelum tahun 1900 yang berarti telah berumur lebih dari satu abad. Dalam jadual tersebut tertulis:

“ Nahmadullah wa ‘aunihi fi lailatis sabti naslakhu rabi’utsani sanah 1318 hijriyah, al muwafiqu 25 agustus sanah (tidak tampak) miladiyah ‘ala yadil ‘abdiz dzalil Ahmad Dahlan Darat Samaran ghafarallahu lahu wali jami’il muslimin”.

Sedangkan dibawahnya lagi tertulis dengan tulisan arab pegon, Iki jadwal wektu kanggo Semarang tumeko sak pengetane lan sak pengulone lan negoro kang marek-mareki Semarang ing dalem arah ngalor ngidule kaurutaken runtute wulan walandi kerono arah ora suloyo saben-saben tahun…..”

KH. Ahmad Dahlan, penulis jadual tersebut adalah murid sekaligus menantu KH. Saleh Darat menikah dengan putrinya yang berasal dari istri ketiga R. Siti Aminah bernama Zahroh. KH. Ahmad Dahlan berasal dari Termas, Pacitan Jawa Timur.

Menapaki usianya yang sudah lebih dari satu abad masjid As-Sajad telah mengalami beberapa renovasi. Renovasi terbesar mungkin sekitar tahun 1960-an dengan bangunan model susun tiga bagian atap, dengan sebuah menara yang menjulang tinggi bangunan khas zaman Belanda dan kemudian terakhir adalah tahun 1999.

Dari masjid dan pesantren tersebut agama Islam secara pelan namun pasti mendapat dukungan dari masyarakat yang disiarkan secara turun temurun oleh para keturunan KH. Abdullah Sajad. Sehingga daerah Sendangguwo yang dimasa lalu sangat kental dengan mistik dan kemusyrikan, dapat menerima ajaran Islam, demikian menurut penuturan KH. Afif Abdullah.

3. Al-Qur’an Tulisan Tangan

Al-Qur’an tulisan tangan ini peninggalan K.H Abdullah Sajad, Sendangguwo Tembalang, tidak jelas ditulis tahun berapa. Beberapa halaman depan dan belakang telah hilang. 15 baris tiap halaman

4. Kaligrafi Arab/Doa akan berkhutbah

Kaligrafi Arab, doa orang yang mau khutbah supaya tidak grogi. Kaligrafi ini tertempel di Masjid As-Sajad Sendangguwo Tembang. Ditulis tahun 1941 sebagaimana tertulis dalam kaligrafi ini. Ukuran 28,5 X 15 Cm

5. Mustaka Panah Arjuna dan Menara

Mustaka Masjid As-Sajad Sendangguwo yang lama. Tidak jelas tahun berapa, namun menurut dugaan sama dengan tahun kaligrafi do’a, kurang lebih zaman Jepang. Mustaka Panah ini terbuat dari seng, dengan model kemuncaknya anak panah. Ukuran tinggi 234 Cm, lebar 81 Cm. Disamping itu masjid ini juga memiliki keunikan bentuk menara.

6. Pedang suduk maru kartasura, tongkat komando Perang Laskar Diponegoro

7. Kitab-kitab Lama

– Kitab Ilmu Rubuk dan Pedoman Penentuan
KiblatNaskah tulisan tangan ini terdiri atas 2 kitab, penentuan rubuk dan kitab penentuan kiblat, ukuran 21,5 X 17 Cm dengan ketebalan 33 halaman. Naskah menggunakan bahasa Arab makna gandul berbahasa Jawa. Kemungkinan ditulis akhir abad 19.

– Kitab Tafsir Faidurrahman KH. Saleh Darat
Kitab ini mulai ditulis pada tanggal 20 Rajab 1309 H, selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1311 H/ 1893/94 M dan dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir tahun 1311 H oleh percetakan Haji Muhammad Amin Singapura Kitab ini meskipun baru selesai pada jilid pertama Surat Al-Fatehah dan Al-Baqoroh, namun cukup tebal. Ada 577 halaman, ditulis dengan huruf Arab Pegon

– Serat Fatimah Pegon
Kitab yang cukup tebal ini tertulis dalam kolofon ditulis di Rembang. Menggunakan model tembang macapat. Tebal 486 halaman. Ukuran naskah 26,5 X 17 Cm, dengan ketebalan 5,5 Cm.

– Naskah Kitab Fathul Qodir
Naskah Kitab Fathul Qodir, tidak jelas tulisan siapa, kemungkinan tulisan KH. Sonhaji Abdullah atau KH. Abdullah Daenuri. Kitab ini aslinya karya KH. Maksum bin Ali Kuwaron Diwek Jombang. (Rep: GK/Ed: Rs-011)