KH. Abdullah Sajad, Kiai Pejuang dari Sedangguwo (Bag.1)

0
1192

Dahulu, Sendangguwo Semarang pasca meletusnya Perang Jawa mengalami krisis ulama’, meskipun sebelumnya disinyalir sudah pernah ada tokoh penyebar islam di Semarang, akan tetapi berkuasanya Belanda di Semarang menjadikan porsi penduduk abangan berlimpah dan kaum santri mencari tempat pelosok untuk mengajarkan agama islam. Sehingga Sendangguwo yang memiliki dua tempat sakral menjadi salah satu wahana yang rutin dipakai untuk praktik kesyirikan.

Sendangguwo yang dulu berbentuk sebuah sendang (tempat pemandian-Red) dan di tengah sendang itu terdadat sumber air berbentuk gua di dasar air. Konon, tempat itu didiami oleh banyak makhluk halus. Karena itu, tidak banyak yang berani mengambil air di tengah-tengah sendang tersebut. Pada umumnya warga sekitar takut celaka, karena kualat.

Ada kepercayaan saban Jumat malam sering terdengar suara lesung yang dipukul bertalu-talu. Anehnya, ketika didengar secara seksama, suara itu hilang. Sekitar 500 meter sebelah barat sendang, terdapat sebuah gua yang sangat panjang. Masyarakat mempercayai gua itu berujung sampai ke daerah Kaliwungu, Kendal. Masyarakat sering memberi sesaji di dua tempat itu untuk meminta berkah dan dijauhkan dari segala macam bencana. 

Di Sendangguwo sendiri, dipercayai bahwa daerah tersebut pernah menjadi tempat singgah (petilasan agung) Sunan Kalijaga, tepat di punden Guwo. Salah satu murid Sunan Kalijaga (Nyai Rebon) yang konon berasal dari Cirebon pun menetap, hingga Beliau wafat dan dimakamkan di RT 01 RW 01, Kelurahan Sendangguwo. 

Di tempat itu juga, sering digelar kebiasan buruk yang jauh dari nilai-nilai Islam. Setelah mengadakan pesta dan tari-tarian tayub, kemudian dilaksanakan pertandingan pencak dan minum-minuman keras. Tradisi ini berlangsung secara turun-temurun hingga kedatangan KH. Abdullah Sajad.

 KH. Abdullah Sajad adalah seorang pemuda alim bergaris keturunan kerajaan Mataram Kartasura Beliau bernama KH. Abdullah Sajad bin KH. Ahmad Rifa’i bin KH. Abdul Rahman bin KH. Muhyidinirrofi’i (Loning Purworejo) bin KH. Nur Iman (Mlangi) Amangkurat III, dari beliau silsilah berlanjut sampai pada Brawijaya V), KH. Abdullah Sajad adalah putra dan cucu dari darah ulama’ sekaligus pejuang pasukan Diponegoro bernama KH. Ahmad Rifa’i dan cucu seorang Panglima perang laskar Diponegoro bernama KH. Abdul Rahman, ayahandanya gugur saat berusaha membobol benteng Ungaran pada saat Pengeran Diponegoro ditahan di sana, sedangkan kakeknya diasingkan belanda ke tondano minahasa Sulawesi Utara sebagaimana terekam dalam Surat dari Menteri Negara Komisaris Jendral tanggal 1 Desember 1828 kepada Letnan Gubernur Jenderal Belanda (sumber : Arsip Nasional Republik Indonesia) bersama rombongan tokoh-tokoh Kyai penggerak perang jawa diantaranya Kyai Mojo. 

Tekad santri KH. Sholeh Darat, ulama kharismatik yang juga intelektual muslim penyebar agama Islam abad ke-18 di Semarang. Melihat kondisi masyarakat Sendangguwo yang begitu parah, dia merasa tertantang untuk berdakwah agama, dan memperbaiki moral dan akhlak masyarakat sekitar. Dia kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu. 

Suatu masa KH. Abdullah Sajad, suatu ketika dia ditantang oleh seorang jawara yang memiliki ilmu berkelahi dan ilmu kanuragan tinggi. Dia memerintah muridnya yang bernama Ma’ruf, agar menghadapi sang jawara itu. Hasilnya, Ma’ruf berhasil mengalahkannya. Dengan demikian, banyak masyarakat sekitar yang segan dan menghormatinya.

Penutupan sendang keramat yang digunakan sebagai media kemusyrikan umat juga beliau. Dengan cara beliau riyadhoh kepada Allah Swt. Puasa beberapa hari dan sendang tersebut ditutup memakai batang sodo lanang (1 buah batang daun kelapa yang jatuh menancap tanah) dengan membaca do’a “Laa Ilaaha Illa Anta Yaa Hayyu Yaa Qayyum, Yaa Hannanu Yaa Mannanu Yaa Dayyanu Yaa Sulthon”. Selang beberapa hari Masjid beliau pada waktu jam 03.00 pagi terdapat pujian do’a itu dan anehnya yang membacakannya adalah jin penunggu sendang tersebut. Sehingga pujian ba’da shubuh tersebut sampai sekarang masih sering dilantunkan di Masjin Jami’ As-sajad. 

Mbah Kyai Sajad mengajar agama Islam di masjid yang beliau dirikan, dan selanjutnya berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Namun sangat sulit mendapatkan informasi tentang siapa para santri saat itu. Walaupun demikian menurut Kiai Muzayyin yang pernah diberitahu bapaknya KH. Muhammad Dimyati, beberapa orang disebut antara lain masyarakat lingkungan sekitar dan santri yang datang dari daerah lain seperti KH. Abdul Manan dari Banyuwangi, yang konon sering diperintah membawakan tasbih Mbah Kiai Sajad, dimasa hidupnya kemudian terkenal sebagai kiai tarekat.

Dari buah pernikahannya dengan Karsanah, Kiai Abdullah Sajad dikaruniai tujuh orang anak yakni:

1. Nyai Aisyah menjadi istri KH. Munawir, yang mendirikan pondok pesantren di sebelah utara tempat KH. Abdullah Sajad. Sekarang namanya di abadikan sebagai nama Pondok Pesantren Salafiyah al-Munawir.
2. KH. Muhammad Dimyati, lahir tahun 1896 ia yang melanjutkan dan membesarkan pesantren bapaknya. Mengasuh pesantren sejak umur 22 tahun, sejak KH. Abdullah Sajad wafat pada Senin Wage 16 Agustus tahun 1918.
3. Agus Zuhdi (wafat  usia muda) 
4. Kholil (wafat usia muda) 
5. KH. Abdullah Daenuri (1904 – 1971 M) beliau melanjutkan menjadi pengasuh pesantren semenjak kakaknya KH. Muhammad Dimyati wafat pada tahun 1955.
6. KH. Masyhudi.

Dari keturunan istri pertama ini para cucunya terus bergiat dalam mengabdi dan membina masyarakat. Diantara mereka beberapa yang mendirikan pondok pesantren. Sampai sekarang ini tercatat pondok pesantren senasab Mbah Kiai Sajad secara kronologis adalah:
a. Ponpes Ad-Daenuriyah I, pesantren perintis, sekarang di asuh KH. Afif Abdullah, putra pertama KH. Abdullah Daenuri.
b. Ponpes Salafiyah Al-Munawir, didirikan oleh menantu Mbah Kiai Sajad, sepeninggal Kiai Munawir, diasuh oleh menantunya Kiai Abdussamad, sekarang diasuh generasi cucu antara lain K. Ahmad Rifai dan KH. Ahmad Baidlowi.
c. Pondok Pesantren AL-Ibriz, didirikan oleh KH. Shonhaji Abdullah, putra Kiai Abdullah Daenuri sekarang di asuh para anaknya.
d. Pondok Pesantren Ad-Daenuriyah II, didirikan oleh KH. Dzikron Abdullah, putra Kiai Abdullah Daenuri.
e. Pondok Pesantren As-Sajad, termuda, didirikan oleh K. Najib Abdullah, putra Kiai Abdullah Daenuri.

Dari istrinya yang kedua mempunyai satu orang anak, salah seorang anaknya yang menurunkan keturunan sampai sekarang adalah Qomariah, cucunya KH. Imran kini mendirikan Pondok Pesantren Yatim Piatu di daerah Penggaron, Pedurungan Semarang. (Rep: GK/Ed: Rs-011)