BRINGOS KARAKTER PENDIDIK DI ERA 4G

0
1007
kredit foto : Telkomsel DigiAds

oleh Lek Basyid Tralala


Pendidikan bertujuan memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan juga mendidik para peserta didik untuk berprilaku tertib, hormat dan peduli terhadap lingkungan. Maka tidaklah berlebihan jika pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.


Pendidikan sebagai komponen terpenting dalam kehidupan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Segala bentuk kegiatan di sekolah yang tidak relevan dengan tujuan bersekolah harus kurangi atau bahkan dicancel sama sekali. Langkah tersebut merupakan upaya untuk menjaga marwah sekolah sebagai tempat belajar.

Bahkan sikap memaksapun terkadang juga harus diberlakukan kepada pendidik ( baca : guru, ustazd/untazdah ) dan anak didik terutama kepada mereka – mereka yang ingin mencoba memanfaatkan sekolah ke arah yang tidak benar atau yang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.


Di era androit seperti sekarang ini, tantangan sekolah semakin nyata dan terbuka. Hilir mudik informasi di setiap waktunya cukup membuat para bapak ibu pendidik harus ekstra hati-hati dalam melakukan pendekatan pembelajaran. Berbagai strategi pembelajaran dirumuskan guna menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan serta memberi pengalaman baru bagi anak didik.


Proses pendidikan sebagai upaya dari segenap komponen pendidikan ( pendidik dan tenaga kependidikan ) untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidik dan sarana prasarana sekolah. Kedua aspek tersebut saling mendukung satu dan lainnya.

Bila sarana prasarana tercukupi dan para pelaksana pendidikan mumpuni maka bisa diharapkan proses pembelajaran akan berlangsung maksimal, sehingga hasil atau outputnya akan maksimal pula.

Salah satu tujuan pendidikan adalah pembentukkan karakter peserta didik. Menurut para pemerhati pendidikan bahwa “ sudah saatnya bila pendidikan di Indonesia perlu menyeimbangkan antara dimensi kognitif dan afektif “ . Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup hanya dengan mengembangkan kecerdasan berpikir atau IQ anak didik melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan hanya kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu manghargai nilai-nilai yang ada di dalam dirinya dan orang lain.

Bringos
Semua profesi pada hakekatnya adalah pelayanan. Termasuk juga profesi guru. Kalau ada yang berpikir guru/pendidik itu adalah majikan sedangkan peserta didik adalah pelayan, maka yang terjadi adalah peserta didik akan selalu mengikuti keinginan pendidik. Padahal sebaliknya, pendidiklah yang harus mengikuti keinginan pendidik. Atau dalam perfektif yang lain adalah pendidik mengupayakan semaksimal mungkin dapat mengikuti tuntutan jaman agar anak didiknya tidak sampai baper terhadap keadaan.

Maka dari itu hendaknya para pendidik serius dalam melaksanakan proses pendidikan. Untuk mencapai tahapan maksimal di setiap proses pembelajaran diperlukan penyusunan program yang terstruktur dan masif. Salah satunya dengan membuat batasan tentang kualifikasi administrasi para pendidik seperti berijazah S.1, berakta IV serta bersertifikasi pendidik.

Selain persyaratan normatif tersebut, pendidik juga dituntut memiliki bringos, mengingat di era milinial ini persoalan pendidikan tidak hanya tertumpu rendah nilai UN tetapi juga masalah budi pekerti atau akhlaq. Lalu apa itu bringos ? Bringos di sini bukan kumis, melainkan sebuah akronim dari budi pekerti, ramah, inovasi, ngopeni dan sabar.

Budi Pekerti
Untuk memaksimal pendidikan karakter di sekolah tidak cukup hanya dengan pelatihan sehari atau dua hari. Tetapi dibutuhkan waktu yang sangat lama. Pelatihan karakter sifat hanya membuka mind sett para peserta didik. Tetapi yang lebih pokok adalah adanya keteladanan dari para pendidik itu sendiri. Di mata peserta didik, pendidik adalah teladan sekaligus selebritis di sekolah. Maka jangan salahkan peserta didik bila segala bentuk tampilan ( stylis ) perkataan, serta pikiran pendidik sering menjadi sumber inspirasi peserta didik.

Bila demikian, para pendidik hendaknya bisa membawa diri ketika berada di kelas atau di lingkungan sekolah. Tunjukkanlah pribadi yang bersahaja dan religius yang dibarengi sikap yang jujur dan peduli dengan siswa. Hal yang kurang layak dipandang peserta didik sepatutnya mulailah dikurangi atau bahkan dibuang sama sekali. Tampillah secara sederhana dan menawan manakala di depan kelas. Berkatalah yang bijak dan menyejukan ketika memotivasi peserta didik. Bahkan untuk menbangun budaya hormat, pergunakan bahasa kromo di saat menyapa peserta didik.

Ramah
Sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Salah satu caranya dengan mengedepankan sikap ramah kepada semua komponen sekolah. Refleksi sikap ramah bisa diawali dengan kegiatan menyambut kedatangan peserta didik di sekolah. Untuk memujudkan program tersebut dibutuhkan keihlasan dari kepala sekolah dan pendidik untuk datang lebih awal dari peserta didik.

Memuwujudkan sekolah ramah anak bagian dari impian bersama. Mengurangi kekerasan fisik dalam membudayakan ketertiban sebagai wujud membangun rasa sayang pendidik kepada peserta didik. Sekaligus juga untuk mengurangi rasa ketakutan ketika bersekolah. Sikap ramah di sekolah sebenarnya sudah tersosialisasi dengan prilaku 3 S yakni senyum, salam dan sapa.

Inovasi
Inovasi tiada henti alangkah indahnya jika menjadi semboyan para pendidik. Untuk melakukan itu para pendidik dituntut untuk sering membaca, melihat, dan belajar. Satu langkah inovasi pembelajaran dapat menjadi motivasi para peserta didik untuk lebih giat belajar. Selain itu, juga menjadikan peserta didik lebih kreatif dan tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Inovasi pembelajaran tidak harus menggunakan IT, tetapi dapat pula dengan memanfaat lingkungan sebagai sumber pembelajaran. Inovasi juga menjadikan pendidik lebih progresif dalam mengajar. Dengan demikian, asumsi yang mengatakan bahwa banyak pendidik yang terjebak dalam rutinitas datang, mulang, koreksi, lalu pulang akan terkikis dengan sendirinya.

Ngopeni
Harkat martabat seorang pendidik bukan terletak pada tingginya golongan atau besarnya gaji tiap bulannya melainkan terletak pada kesanggupan dalam menjaga amanat orang tua / wali dalam ngopeni ( baca : merawat atau membimbing ) peserta didik. Bila ngopeni peserta didik dengan sepenuh hati, hal itu bisa menjadi ladang ibadah bagi pendidik. Ngopeni bukan sekedar meningkatnya nilai akademik setiap semesternya tetapi adanya progress positif tingkah laku setiap dari waktu ke waktu.

Indikator ngopeni peserta didik adalah para pendidik rela menginfakkan sebagian waktu, pikiran, dan tenaganya untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik. Serta dalam benaknya tidak ada rumusan sikap pilih kasih dalam memberikan layanan. Peserta didik pintar atau kurang pintar tetap diberlakukan sebagaimana porsinya.

Sabar.
Sabar merupakan fondasi yang harus dimiliki guru di era milinial. Permasalahan peserta didik dari tahun ke tahun semakin rumit dan komplek. Lihat saja kasus – kasus di sana – sini yang yang melibatkan pelajar bahkan tidak sedikit harus berurusan dengan pihak yang berwajib.

Fenomena tersebut akan terus bergulir dari waktu ke waktu bentuk dengan tingkat kenakalan bervariasi. Untuk mengantisipasinya tidak bisa hanya diselesaikan dengan dimunculkan regulasi tetapi juga perlu diimbangi dengan sikap sabar dan ikhlas para pendidik.

Pendidik sebaiknya tidak gampang mengeluh setiap berhadapan kepada peserta didik yang sedikit bermasalah. Semua harus dihadapi dengan ketegaran dan doa. Satu keluhan guru dapat mengurangi keikhlasan dan semangat berkarya para pendidik. Dan ingat guru dihadapan peserta didik adalah sosok mulia dan sosok panutan. Bahkan doanya selalu dinanti setiap waktu oleh anak didiknya.

Guru hebat, bangsa pun bermartabat !!!!

Penulis :Lek Basyid Tralal Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan