Melestarikan Syiar Ki Ageng Glego melalui Reog “Jathilan”

0
275

Klateng, nujateng.com – Setiap hari kedua lebaran, di Desa Kalikebo, Trucuk, Klaten ada sebuah tradisi turun temurun, yaitu jathilan, yang oleh masyarakat sekitaran disebut “Reogan”. Nama resmi kegiatan tahunan ini adalah Seni Naluri Reog Brijo Lor, karena berlokasi di Masjid Dukuh Brijo Lor, Desa Kalikebo, Trucuk, Klaten. Kali ini, Reogan dilaksanakan pada tanggal 06 Juni 2019, mulai pukul 10.00 WIB – 17.00 WIB.

Tradisi Bersih Dusun ini tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh pensyiar Islam di daerah situ, yaitu Ki Ageng Glego atau Eyang Suro Lawung, yang makamnya di belakang Masjid Dukuh Brijo Lor. Uniknya, para pemain reog di sini, semuanya merupakan keturunan para pereog generasi sebelumnya. Mereka secara turun-temurun menjadi pemain reog sejak masa hidupnya Ki Ageng Glego.

“Ki Ageng Glego dari kerajaan Majapahit, bersama dua orang sahabatnya yaitu Ki Ageng Jayengresmi dan Ki Ageng Siwogoro atau Ki Ageng Selogoro. Kisah Ki Ageng Glego inilah yang hingga saat ini dianggap menjadi dasar adanya ritual pementasan Seni Naluri Reog Brijo Lor dan dianggap sebagai pepundhen atas keberadaan kolektif masyarakat di Desa Kalikebo. Adanya pertunjukan Seni Naluri oleh Ki Ageng Glego digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Kalikebo, selain dengan cara pencak silat.” Ungkap Sagino, tokoh masyarakat sekaligus penerus pereog

Konon, Ki Ageng Glego adalah panglima perang di kerajaan Majapahit. Ki Ageng Glego meninggalkan Majapahit ditemani oleh dua sahabatnya. Kerabat Ki Ageng Glego bernama Jayengresmi dan Selogoro. Sunan Kalijaga melalui muridnya memerintahkan kepada Ki Ageng Glego, Jayengresmi (makamnya di Gaden, Trucuk), dan Selogoro (sampai saat ini belum diketahui makamnya) untuk pergi menuju wilayah Barat daya (Kidul-Kulon) dari kerajaan Majapahit dan pada akhirnya sampailah di suatu daerah yang pada saat ini bernama Brijo Lor.

Melalui kesenian tersebut, Ki Ageng Glego menyebarkan ajaran agama Islam. Usaha yang dilakukan oleh Ki Ageng Glego tidak sia-sia meskipun hanya beberapa orang saja yang masuk agama Isam. Kesenian Reog Naluri pada awalnya hanya dimainkan oleh tiga orang saja. Ki Ageng Glego memerintahkan kepada ketiganya untuk memainkan kuda-kudaan, dan satu orang sebagai penthul. Pertama kali yang ada adalah kuda-kudaan berwarna merah dan berwarna hitam. Mereka bertiga bertugas untuk memberikan hiburan kepada kerabat-kerabat dekat yang ada dengan menampilkan adegan peperangan antara kuda berwarna merah dan berwarna hitam. Setelah keduanya kelelahan, penthul bertugas untuk menghibur. (Minardi/003)