Makna Idul Fitri [Khutbah Idul Fitri]

0
1536
[Foto: suara.com]

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc
(Instruktur Nasional PP GP Ansor)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا.

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا.

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Hadirin dan hadirat Ied Rohimakumullah

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa Idul Fitri terdiri dari dua kata yaitu Id dan Alfithr. Kata ‘Id dalam tinjauan ma’ajim lughowiyyah (kamus-kamus kebahasaan) bisa merupakan derivasi atau berasal dari kata ‘aada yang berarti “kembali”, bisa juga berarti I’tiyaad atau kebiasaan , dan bisa pula dari asal kata yang lain. Namun, Imam Waliyullah Ad-Dahlawy dalam kitab Hujjatullah Al Balighah menyatakan bahwa apapun derivasi atau asal kata Id, ia mengindikasikan makna kegembiraan dan kesuka-citaan. Dalam kitab Hujjatullah halaman 528, Ad-Dahlawy menyatakan:

فإن العيد يشعر بالفرح واستيفاء اللذة

Sesungguhnya kata Al ‘Id mengindikasikan kesukacitaan dan pemenuhan akan kenyamanan dan rasa enak/nikmat.

Apapun asalkata daripada ‘Id, ia bermakna kebahagiaan dan kesukacitaan. Namun begitu, di antara asalkata yang paling menonjol menurut ahli bahasa seperti Ibnu Faris, kata ‘Id lebih cenderung dimaknai kembali.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd.

Hadirin Hadirat yang berbahagia,

Kemudian penggalan kata Idul Fitri yang kedua adalah: AlFtifhr.

Seringkali orang memaknai al-fithr sebagai suci atau kesucian. Sehingga dengan begitu, sering pula orang memaknai Idul Fitri dengan makna kembali suci. Hal ini barangkali didasari oleh ucapan Selamat Idul Fitri yang sudah lazim di telinga kita kaum Muslimin khususnya di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore dan Thailand Selatan atau Pattani. Yaitu ucapan Minal Aidin Wal Faizin. Ucapan ini meskipun berbahasa Arab, namun ternyata ucapan ini merupakan pengembangan dari Syair seorang penyair pada masa Al Andalus yang bernama Shofiyuddin Al Halyy. Ia bahkan dalam beberapa syairnya dinilai sebagai pemuja faham Syiah.

Adapun jika kita mencari ucapan asli yang sering diucapkan oleh para Salafus Shalih adalah seperti Taqobbalallahu minna wa minkum. Karena itu, tidak mengherankan jika kini para kaum Puritan yang sering menamakan dirinya sebagai Salafy Wahaby cenderung tidak suka dengan ucapan Minal Aidin Wal Faizin. Karena ucapan ini dipandang baru kemunculannya dan bahkan cenderung bisa dikatakan sebagai bid’ah.

Hadirin Hadirat Id Rohimakumullah.

Khutbah kita kali ini sebenarnya tidak berpretensi untuk memperdebatkan kembali tentang hal ihwal bid’ah dan segala permasalahannya. Kita hendaknya tidak terlalu sempit dan kaku dalam memahami agama hingga sekedar persoalan ucapan Idul Fitri saja harus dibicarakan seperti itu.

Allah sendiri berfirman dalam Surah AL Maidah 77:

قل يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم غير الحق ولا تتبعوا أهواء قوم قد ضلوا من قبل وأضلوا كثيرا وضلوا عن سواء السبيل

Katakanlah wahai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka sesat dari jalan yang lurus.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd.

Hadirin Hadirat yang berbahagia. Memang benara bahwa ayat 77 Surah AL Maidah itu semula ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), namun dalam pengertian Ushul Fiqh disebutkan bahwa sebuah ayat Alqur’an meskipun diturunkan dengan sababun nuzul tertentu tetapi keumuman sebuah ayat itu tetap harus kita indahkan dan kita perhatikan.

Dan ayat di atas secara jelas mengecam sikap ghuluww atau berlebihan dalam agama. Dan di antara sikap ghuluw itu adalah memahami teks-teks agama secara sempit. Mari kita perhatikan pula bahwa dalam ayat di atas ada satu kata yang diulang sampai 3 kali yaitu قد ضلوا , وأضلوا dan  وضلوا . Pengulang-ulangan kata seperti ini tentu meniscayakan perhatian kita terhadap apa sebenarnya yang menjadi titik tolak ketiga kata tersebut. Titil tolaknya tiada lain adalah sikap ghuluw atau berlebihan.

Makanya, tidak heran pula jika kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda:

عن أَبي هريرةَ – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( إنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ إلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ )) رواه البخاري .

“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan jika agama itu dipersulit maka agama itu justru akan melindasnya. Maka luruslah kalian, mendekatlah kalian dan berbahagialah kalian”.

Kemudian, Sabda Nabi “Wasta’iinuu bil Ghodwah ilaa akhirihi” itu oleh Imam Nawawi dijelaskan dalam Riyadlus Shalihin sebagai berikut:

وهذا استعارة وتمثيل ، ومعناه : اسْتَعِينُوا عَلَى طَاعَةِ اللهِ – عز وجل – بِالأَعْمَالِ في وَقْتِ نَشَاطِكُمْ وَفَرَاغِ قُلُوبِكُمْ بِحَيثُ تَسْتَلِذُّونَ العِبَادَةَ ولا تَسْأَمُونَ وتبلُغُونَ مَقْصُودَكُمْ

Itu adalah kiasan. Dan maksud sebenarnya adalah hendaklah kalian dalam melakukan ibadah itu pandai-pandai mengatur diri hingga kalian tetap menikmati kekhusyukan ibadah dan tidak cepat merasa bosan dalam beribadah.

Allahu Akbar3x walillahil hamd,

Hadirin Rohimakumullah, kembali kepada pemaknaan AL Fithrah dari gabungan kata Idul Fitri. Maka dalam hal ini, Al Fithrah sebenarnya tidak hanya diartikan sebagai kesucian saja. Mari kita baca Tafsir Al Qurtuby di mana disebutkan bahwa pada dasarnya Ulama’ banyak berbeda pendapat dalam memaknai kata Alfithrah ini. Di antaranya adalah bahwa Alfitrah dimaknai sebagai Al Islam. Pendapat ini adalah pendapat Abu Hurairah dan Ibnu Syihab dan diyakini sebagai pendapat Salafus Shalih. Dalil dari pendapat ini adalah firman Allah dalam Surah Ar-Rum 30:

فأفم وجهك للدين حنيفا، فطرة الله التي فطر الناس عليها، لا تبديل لخلق الله، ذلك الدين القيم ولكن أثر الناس لا يعلمون.

Kemudian ada pendapat yang menyatakan bahwa Al fithroh adalah al Bada-ah (Permulaan). Dasar pendapat ini adalah pengertian para Ahli Bahasa yang memang menyatakan bahwa:

الفطرة في كلام العرب هي البداءة، وكلام القرآن عربي.

Alfithrah dalam percakapan orang Arab berarti permulaan. Dan AlQur’an adalah berbahasa Arab. Ibnu Abbas pun suatu saat berkata, “Aku semula tidak faham apa itu arti fitrah. Baru ketika aku melihat dua orang Badui bersengketa soal sumur dan salah satunya mengklaim ana fathortuha, ay bada’tuha, saya lah yang pertama kali memulai menggali sumur ini.

Dalam kaitannya ini, Imam Al Qurthuby mengemukakan sebuah riwayat yang perlu kita cermati:

روي عن كعب القرظي في قول الله تعالى: ” فريقا هدى وفريقا حق عليهم الضلالة ” (2) [ الاعراف: ] قال: من ابتدأ الله خلقه للضلالة صيره إلى الضلالة وإن عمل بأعمال الهدى، ومن ابتدأ الله خلقه على الهدى صيره إلى الهدى وإن عمل بأعمال الضلالة، ابتدأ الله خلق إبليس على الضلالة وعمل بأعمال السعادة مع الملائكة، ثم رده الله إلى ما ابتدأ عليه خلقه، قال: وكان من الكافرين.

Dari Ka’ab Al Quradhi ketika menafsiri ayat فريقا هدى وفريقا حق عليهم الضلالة, ia berkata: Barangsiapa Allah memulai penciptaannya dengan dibekali kesesatan, maka Allah akan mengembalikannya kepada kesesatan. Dan barangsiapa Allah memulai penciptaannya dengan dibekali petunjuk, maka Allah akan mengembalikannya kepada petunjuk. Dan sesungguhnya Allah memulai penciptaan Iblis dengan dibekali oleh kesesatan.

Allahu Akbar3x walillahil Hamd

Hadirin Hadirat Rohimakumullah,

Dari pernyataan Imam AlQurthuby ini sejenak kita harus berfikir keras dan bertanya, “Dengan dibekali apakah kita ini ketika pertama kali Allah menciptakan kita? Apakah kita dibekali dengan kesesatan seperti Allah menciptakan Iblis? Ataukah kita dibekali petunjuk seperti ketika kita Allah menciptakan Malaikat?

Ternyata, menurut Imam Al Asfahany, manusia, kita ini, adalah makhluk yang special. Makhluk yang diberi Allah bekal kesesatan dan petunjuk sekaligus. Kita manusia ini memiliki peluang untuk lebih dekat dengan Malaikat atau justru lebih dekat dengan Iblis. Manusia bisa mulia seperti Malaikat, tetapi juga bisa lebih buruk ketimbang Iblis dan bahkan hewan!

Maka dari itu, melihat uraian ini semua, menjadi gamblang bagi kita bahwa Idul Fitri akan lebih berarti positif jika kita maknai sebagai kembali kepada permulaan kita yang penuh petunjuk. Sehingga karenanya pula, amat sangat tepat ucapan minal aidin wal faizin meskipun ucapan itu belum pernah muncul pada Masa Salafus Salih.

Dalam Kaidah Fiqh disebutkan:

العبرة بالجوهر لا بالمظهر

Yang penting adalah substansi, bukan penampilan luar.

Meskipun Minal Aidin Wal Faizin belum pernah diucapkan oleh para Sahabat dan Tabiin serta Tabiit Tabiin, namun bagi kita saat ini, kita lebih membutuhkan ucapan yang mengingatkan kita untuk kembali kepada permulaan penciptaan kita.

Barangkali Salafus Salih belum membutuhkan hal semacam itu karena ketulusan budi pekerti mereka dan kedekatan mereka kepada Nabi secara waktu. Akan tetapi kita? Kita yang sudah terlalu jauh dan sering terkelupas kemanusiaan kita, maka tentu saja butuh kepada upaya mengingatkan kita untuk kembali kepada permulaan kita yang penuh hidayah. Kita saat ini lebih butuh untuk mengucap minal aidin wal faizin, meskipun tentu saja kita tetap butuh kepada ucapan doa Taqobbalallahu Minna Wa Minkum Taqobbal Ya Karim.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم. ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم

وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين.

=== الخُطْبَةُ الثَّانيةُ ===

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله ولله الحمد 

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، لحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. اللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر